Aku tak begitu mengenalnya. Sungguh.
Aku hanya memandangnya sekali, dan saat itu ada ombak
berkecamuk dalam diriku yang membuatku akan sulit melihatnya lagi. Aku takut. Iya,
ketakutan tak bisa menguasai diriku jika melihatnya untuk yang kedua kali.
Samar. Aku mengingatnya (lagi) siang ini
Dia tinggi. Berkulit legam bak pohon cemara yang sudah
matang. Berbahu semampai yang kadangkala membuatku tertarik untuk merebahkan
kepala. Dia punya mata yang berkilau tak kalah dengan mutiara.
Aku teringat
Pagi waktu itu, trotoar jalan pinggiran kampusku dipilih
sebagai tempat duduknya. Sesekali dari jauh dengan malu aku melihat senyumnya. Beberapa
kali juga dia menengokku, seakan mencari tahu apa yang membuat sepasang mataku
mulai berawan.
Dia, lelaki dengan badai disudut bibirnya
Dengan sekali hentakan senyumnya bisa membuat duniaku kacau,
bak dilanda badai tak ada yang bisa diselamatkan. Hatiku. Pikiranku. sejak saat
itu sudah berhasil dibawanya.
Sebelum senyumnya terlepas
Sekali tebas
Semua terhempas
judul dan cara bertutur tulisan ini terinspirasi tulisan yang ditulis Adimas emanuel
judul dan cara bertutur tulisan ini terinspirasi tulisan yang ditulis Adimas emanuel
0 komentar:
Posting Komentar