Pada tiap jemari yang erat dibalut doa-doa baik, aku terus memanjangkan sujudku pada jarak mata kita yang pernah terik.
Kau ada di berbagai perayaan rinduku bahkan oleh ribuan rintik yang menyapa lewat jendela.
Aku terus menandakan setiap temu kita pada dinding harap dan juga beberapa hal yang kita sepakati bersama. Bahwa hati akan tahu kepada siapa ia memilih meski kadang luka mengemasnya sedemikian rupa.
Semenjak langit menjadi tempatku melepaskan resah. Atau sekedar memberitahunya tentang dekapan kita yang ingin terus menyatu tanpa pisah.
Aku terus menandakan setiap temu kita pada dinding harap dan juga beberapa hal yang kita sepakati bersama. Bahwa hati akan tahu kepada siapa ia memilih meski kadang luka mengemasnya sedemikian rupa.
Semenjak langit menjadi tempatku melepaskan resah. Atau sekedar memberitahunya tentang dekapan kita yang ingin terus menyatu tanpa pisah.
Kau tentu bertanya sejauh apa waktu menghantarkan ku lewat cara-cara yang kulakukan untuk terus melaju pada hatimu.
Kuberi tahu bahwa aku selalu membesarkan mimpi kita. Aku berusaha agar kelak jarak menjadi sedekat nadi dan keinginan yang sama-sama kita tabahkan pada masing-masing sabar terus tumbuh pada percaya.
Tetaplah menjadi penantian yang ku semogakan dalam banyak hal. Aku yakin tujuan kita masih tetap sama. Hingga pada akhirnya nanti, ketika takdir menetapkan kita menjadi dua hati yang disatukan oleh-Nya. Mengucap setia sampai usia kita berakhir pada masanya.
Aku maupun kau menyaksikan betapa sakralnya kita pada janji, pada riuh ucapan sah mengalun merekahkan senyum bahagia.
Kuberi tahu bahwa aku selalu membesarkan mimpi kita. Aku berusaha agar kelak jarak menjadi sedekat nadi dan keinginan yang sama-sama kita tabahkan pada masing-masing sabar terus tumbuh pada percaya.
Tetaplah menjadi penantian yang ku semogakan dalam banyak hal. Aku yakin tujuan kita masih tetap sama. Hingga pada akhirnya nanti, ketika takdir menetapkan kita menjadi dua hati yang disatukan oleh-Nya. Mengucap setia sampai usia kita berakhir pada masanya.
Aku maupun kau menyaksikan betapa sakralnya kita pada janji, pada riuh ucapan sah mengalun merekahkan senyum bahagia.
Itulah mengapa aku selalu sibuk pada sepertiga malam. Waktu dimana aku mendekatkan ikhtiar saat matamu terpejam.
Jalanku masih panjang untuk sampai berlabuh dan menetap selama mungkin di hidupmu. Hingga tiba saatnya nanti kaulah yang berdiri didepan shaf ku.
Jalanku masih panjang untuk sampai berlabuh dan menetap selama mungkin di hidupmu. Hingga tiba saatnya nanti kaulah yang berdiri didepan shaf ku.
Bersabarlah aku sedang memantaskan diri dihadapanmu dan juga dihadapanNya.
Oleh : —Indra. R
Oleh : —Indra. R
