Selasa, 19 September 2017

Bersabarlah Sampai Aku Benar Benar Pantas

Pada tiap jemari yang erat dibalut doa-doa baik, aku terus memanjangkan sujudku pada jarak mata kita yang pernah terik.
Kau ada di berbagai perayaan rinduku bahkan oleh ribuan rintik yang menyapa lewat jendela.
Aku terus menandakan setiap temu kita pada dinding harap dan juga beberapa hal yang kita sepakati bersama. Bahwa hati akan tahu kepada siapa ia memilih meski kadang luka mengemasnya sedemikian rupa.
Semenjak langit menjadi tempatku melepaskan resah. Atau sekedar memberitahunya tentang dekapan kita yang ingin terus menyatu tanpa pisah.
Kau tentu bertanya sejauh apa waktu menghantarkan ku lewat cara-cara yang kulakukan untuk terus melaju pada hatimu.
Kuberi tahu bahwa aku selalu membesarkan mimpi kita. Aku berusaha agar kelak jarak menjadi sedekat nadi dan keinginan yang sama-sama kita tabahkan pada masing-masing sabar terus tumbuh pada percaya.
Tetaplah menjadi penantian yang ku semogakan dalam banyak hal. Aku yakin tujuan kita masih tetap sama. Hingga pada akhirnya nanti, ketika takdir menetapkan kita menjadi dua hati yang disatukan oleh-Nya. Mengucap setia sampai usia kita berakhir pada masanya.
Aku maupun kau menyaksikan betapa sakralnya kita pada janji, pada riuh ucapan sah mengalun merekahkan senyum bahagia.
Itulah mengapa aku selalu sibuk pada sepertiga malam. Waktu dimana aku mendekatkan ikhtiar saat matamu terpejam. 
Jalanku masih panjang untuk sampai berlabuh dan menetap selama mungkin di hidupmu. Hingga tiba saatnya nanti kaulah yang berdiri didepan shaf ku.
Bersabarlah aku sedang memantaskan diri dihadapanmu dan juga dihadapanNya.
Oleh : —Indra. R
Share:

Senin, 28 Agustus 2017

Adakah wanita yang menyukaimu se-diam aku?

A hush is over everything, 
          Silent as women wait for love; 
          The world is waiting for the spring

Diam memang lebih baik.
Diam itu lebih memperhatikan, lebih mau mendengarkan, juga tak ingin mengusik urusan orang lain.

Namun ada saatnya diam itu tak mengenakkan.
Tak dapat menyelesaikan masalah, tak dapat mengubah keadaan, apalagi diam-diam menyukaimu.

Pernahkah kamu menyukai seseorang tanpa pernah mencoba untuk mengungkapkannnya? Ah ketahuilah cinta itu bisa tumbuh dari mana saja, dari sepasang manusia tanpa ada komunikasi juga bisa tumbuh benih cinta. Mungkin tidak keduanya, mungkin salah satunya. Tak apa, namanya tetap cinta.

Tentunya tidak akan pernah mudah untuk menjalani  hari dengan menahan  perasaan.

Tahukah kamu (yang mungkin gak pernah baca blog aku) kadang terbesit banyak tanya;
          “kamu sadar tidak aku suka kamu? Apa kamu merasakannya? Yakin gak sadar?
          Atau sudah sadar tapi sengaja berpura-pura? Apa aku terlalu menggangumu? Apa kamu
          takut dijadikan lelucon karena ada yang menyukaimu? Apa aku bukan tipemu? Atau ada
          alasan lain? Aku kamu sudah punya wanita disisimu?
          Apakah ada aku dihatimu?”

Aku mulai sering mengumpat ke kamu, karena perasaan dan moodku yang sering berubah tiap harinya. Tiba-tiba bahagia, semenit selanjutnya lalu merasa terluka dan menyakitkan, kadang merasa marah. Aku bahkan tak bisa mengontrol pikiranku sendiri, ada yang bisa menjelaskannya? Atau apa kamu tau alasan mengapa aku sangat menyukaimu?

          “betapa banyak waktu kita sering bertemu, tak pernah saling terucap kata, betapa seringnya
          tatapan matamu yang meleset dari pandanganku, berapa banyak waktu kita sering  jalan 
          berdua tapi saling bersebrang jalan

dan, Kamu terlalu beku.

Ribuan lantunan doa yang terucap untukmu belum bisa meluluhkannya. Aku hanya ingin egois sekali saja, aku hanya ingin dirimu. Tapi terlepas dari egoisku, selalu ada tanya “apa kamu juga menginginkanku?” namun aku wanita, kamupun tahu, tak mungkin aku bisa mengatakannya. Oh mungkin bukan tak bisa, aku hanya tak tau mulai dari mana. Mendekatimu saja begitu susah.

          “Jika kamu merasakannya yang sama, kenapa kamu tak bicara?”
          “Kalaupun tidak, kenapa tak berusaha menghindar?”
          “tak pantaskah aku memilikimu?”
          “Apalah arti dari bisumu?”

Kadang aku sampai dipuncak kekesalan dari diamku, “haruskah aku ungkapkan?”, “apa tak apa membuat diriku sendiri malu?”
“apa kamu justru tambah menghindariku saat tau perasaanku?”
Habislah aku, jika itu terjadi.

Jika kamu sempat membaca tulisan ini, dan seandainya kamu merasakan yang sama, kemarilah, genggam tanganku, aku takut suatu saat aku mulai lelah dengan menunggu. Aku hanya butuh kamu.

Namun jika sebaliknya, aku akan berusaha lebih kuat lagi. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku ke kamu lewat tulisan ini. Simak dengan baik ceritaku ini, “aku pernah disukai seseorang, tanpa pertimbangan dia mengungkapkannya. Sungguh aku kaget, bukan karena tak suka aku menolaknya, tapi karena aku tak punya perasaan apapun padanya. Dan penyesalan terbesarku adalah membuatnya sakit hati.”

          “aku tak ingin mengalami hal serupa”

Dan pada akhirnya aku hanya akan terus berdiam diri, setidaknya aku sudah menuliskan perasaanku disini, dan aku berharap kamu membacanya.


Dari aku yang menyukaimu sediam mungkin



Share:

Senin, 05 Juni 2017

Bolehkah berdoa pada Allah memohon agar seseorang menjadi jodoh kita?

Artikel kali ini hasil iseng dari baca-baca untuk menjawab kebingungan diri, akhirnya nemu yang aduhai.

Sebelumnya kemarin ngobrol-ngobrol dengan Mala dengan topik "Mau sampek kapan sendiri Riz". Menarik sekali kan? 
Sering sekali ditegur Mala gara-gara hal ini. Aku orang yang susah suka dengan orang, sekali suka gak bisa dibengkokin untuk kemana-mana. Seringnya Mala nanya kenapa gak mau buka hati untuk yang lain? kalau ada yang terpaut dengan hatimu segera ditirakati riz, ojo turu ae!

Ditirakati? Menyebut namanya dalam doa-doaku maksudnya? dan akhirnya menyisakan pertanyaan "Bolehkah berdoa pada Allah memohon seseorang agar menjadi jodoh kita?"

Setelah kelimpungan dengan pikiran sendiri. Apa iya boleh menyebut namanya dalam doa? Apakah tidak terkesan memaksa Allah atau egois karena menginginkan seseorang? gundah gulana (halah) mau nanya ibuk takut di ciiee-in dan akhirnya baca-baca artikel, akhirnya menemukan jawabannya.

Berikut isinya:

Panggil saja Eko

Jawabnya tentu saja boleh. Hak kita pada Tuhan hanya meminta, dan memang Tuhan yang suruh. Tapi mari jawab dengan jujur mana diantara doa ini yang lebih mungkin disegerakan Tuhan?
Pertama,"Ya Allah, jadikanlah si 'A' sebagai jodoh hamba. Hamba suka padanya jadikanlah ia suka padaku dan akhiri kami dalam pernikahan."

Kedua,"Ya Allah... Berikanlah aku jodoh yang rupawan, yang mapan, yang setia dan menyayangiku agar ku bahagia dan terjamin dimasa depanku."

Ketiga,"Ya Allah, isilah hatiku dengan kasih sayang, baikkanlah rejekiku, elokkanlah pekertiku agar aku bisa membahagiakan jiwa yang akan Kau jodohkan denganku"

Doa yang pertama atau kedua terkesan mendikte Tuhan dan berfokus pada kesenangan dirinya, tidak peduli pasangannya, egois lah pokoknya. Sementara doa ketiga berfokus pada kebahagiaan orang ini nanti. Doa orang yang berhati mulia seperti ini mungkinkah ditolak Tuhan??

Ingat, kunci bahagia adalah ketika kita memberi. Ketika kita lebih bermanfaat bagi sesama. Allah Maha Memberi dan akan mensegerakan pemberiannya kepada hamba yang bermental memberi, yang tujuan hidupnya membahagiakan orang lain.

Jodoh memang ditangan Tuhan. Tapi menurut kosep saya, di tangan Tuhan itu ada beberapa kandidat jodoh untuk kita, ada si A, si B, si C, masing-masing dengan kualitas yang berbeda, ada yang baik, moderat atau buruk. Ketika sudah tiba saatnya jodoh itu harus dipertemukan dengan kita, kira-kira kandidat mana yang diutus? Itu tergantung pada kualitas pribadi kita. Karena Tuhan punya hukum, wanita baik akan dipasangkan dengan pria baik sedangkan wanita keji untuk pria keji. Tuhan Maha Adil. Mudah-mudahan konsep ini lebih mudah diterima dibanding pemahaman bahwa Tuhan menyiapkan satu kandidat di tangannya. Bagaimana jika yang ditangan Tuhan adalah jiwa yang baik tapi anda adalah pribadi yang buruk! Tentu ini akan bertentangan dengan hukum Tuhan tentang masalah jodoh.

Jadi... Bukan jodoh yang kita pikirkan, tapi menjadi sepantas-sepantasnya pribadi bagi siapapun belahan jiwa yang baik yang disiapkan Tuhan.


-------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah, dari artikelnya mas Eko (sok tau) di atas jadi sadar. Jika aku menyebut namanya terus menerus kesannya seakan mendikte Allah dan memaksakan kehendak, jadi belajar bagaimana berdoa yang baik juga bagaimana menjadi pribadi yang baik untuk memiliki calon yang baik.

Semoga kita tidak dikalangkabutkan oleh perasaan sesaat. 


                                                                                                      Mas Sinasiav :'*

Share: