Selamat malam manis, Aku sedang ingin mengajakmu berbasa-basi
tentang perasaan
Pertemuan kita, kedekatan hingga hubungan rumit kita ini
juga karna perasaan bukan? Aku tak pandai mngertikan perasaan, mungkin tak
sepandai kamu. Apa kamu pernah bertanya tentang perasaanmu padaku? Ketika kamu
mengaku sadar tentang perasaanmu, langkah selanjutnya yang kamu lakukan adalah “mengungkapkannya”,
itupun jika kamu sudah siap menanggung segala resikonya. Seperti aku sekarang
menulis ini, aku siap menanggung resiko dari tulisanku, toh aku juga sudah
sering kamu acuhkan
Entah ini semua dimulai darimana, bukankah kamu sudah tau
kalau aku suka menulis? Entah karena efek jatuh cinta atau apalah, aku rasa
setiap yang aku tulis selalu membuatmu merasa “itu kamu” termasuk tulisan ini mungkin. Tapi ketahuilah, aku
mungkin saja seorang pujangga, yang mengumbar banyak cinta tapi juga entah
untuk siapa, atau juga bahkan bukan untuk siapa-siapa. Dari itulah, semenjak
itu aku jarang mengunggah apapun yang berasa cinta, aku takut dikira “pemberi
harapan”. Ah ejekan itu pernah dilontarkan kepadaku. Entahlah aku baru pindah
ketempat ini, dan suasana disini sangatlah berbeda. Semua yang aku tulis seolah
menyindir semua orang. You never know, ini gak nyaman. Mungkin ini berawal dari
kamu membalas setiap tulisanku.
Perasaan itu bukan sesuatu yang mudah dimengerti, sayang
Bahkan, kamu mungkin salah mengartikan perasaanmu sebagai “cinta
atau sayang”
Kita mungkin sama-sama pernah mendengar, “kejarlah cintamu”
yang selalu menayangkan sosok seseorang yang bersusah payah meraih cintanya,
disitulah sosok gagah berani sangat menjadi idola kaula muda. Namun pernahkah
ditayangkan sosok yang dikejar cintanya? Apakah mereka tau bagaimana perasaan
orang itu? Mau membuka hati, tapi sedang tak ingin bercinta. Mau nolak dan
menjauh, tapi takut gak punya teman. Ah repotnya. Cinta itupun bukan belas
kasihan sayang, kalau tak suka ya sudah.
Artikan tolakannya dengan pemikiran dewasa. Anggaplah begini,
aku tak suka kacang, bukan berarti karena bentuk kacang yang jelek tapi karena
allergen. allergen bisa menyebabkan
kematian loh. Sama halnya dengan cinta, mungkin dia baru patah hati. Hati mana
yang patah bisa segera sembuh? Nah kalau dipaksa, bagaimana kalau dia tak
nyaman kemudian gagal hati, nah kan.
Ingatlah, jangan memprioritaskan berdasar apa yang kamu
rasakan.
Kamu tak tahu bagaimana sulitnya bilang “hehe, bukan mbak. Saya
bukan pacarnya” atau “loh itu bukan untuk dia” atau juga “pulang sendiri pak”. Sedangkan
setelah itu dengan mudahnya kamu memberi kode-kode untuk orang dengan setiap tingkah
konyolmu. Misalnya meletakkan sesuatu over sweet di sepatuku, maybe.
Tak baik sayang membiarkan cinta berkembang begitu liar. Lama-lama
akarnya akan menghabiskan pikiranmu. Kamu mungkin dengan tak sengaja bersikap
diluar kemampuanmu. Merasa memiliki, merasa serba harus tahu pada apapun yang dia
lakukan.
Dear, dikepoin itu tak seenak yang kamu tau. Risih mungkin
begitu. Setiap dia jalan dengan cowok lain yang juga hanya teman, lalu kamu
cemburu,. Dia berhubungan dengan cowok yang juga hanya teman, kamu terbakar. Lalu
akhirnya kamu mulai menggila dengan ingin selalu tau apapun yang dia kerjakan. Ah,
cinta janganlah seperti itu di usia yang tak lagi belia seperti kita. Pembawaanmu
yang terlampau melebihkan perasaan itu sering mebuatmu tergelincir. Misal, si
dia gak suka dengan caramu memperlakukannya, dan timbul masalah, karna kamu
sudah terbawa perasaan yang kamu ada-adakan justru mebuat masalah kecil ini
menjadi masalah besar. Bukankah kalau
hanya berteman, ngambek dan marah masalah biasa? Kenapa kamu terlalu emosional?
Percayalah, kamu sekarang dalam kondisi tidak stabil. Kamu jadi
brutal dan tak terkendali sayang. Bangunlah, kembalilah seperti dulu. Teman yang
selalu menyenangkan.
Ayolah, berhenti merengek. Tuhan memilihmu merasakan ini
semua, agar kamu belajar ikhlas dan tau bagaimana bersikap lebih dewasa lagi.
Sayang, aku hanya ingin menyampaikan, hargai perasaan orang
yang kamu sukai. Tanyai dia dengan baik, “apa caraku salah?” “Apa caraku
terlalu berlebihan?” “apa kamu tidak nyaman dengan semua ini?” “bagaimana agar
kita nyaman kembali?”. Bukankah cinta selalu membuat satu sama lain nyaman?
Aku tahu, tulisanku pasti membuatmu sedikit terluka. Tapi ketahuilah,
aku juga terluka karna kehilangan teman baikku. Tak apa kamu marah, karna ini
cara terbaikku memberitahumu. Aku tak pandai berkata, aku hanya ingin bisa
lebih leluasa berteman dengan siapapun lagi, tanpa dengar ucapan mereka “dia
gebetannya si …” “dia udah ada yang punya”. Apalah itu, mencintai bukan harus
membuat semua hubungan jadi serumit ini sayang.
Mulai besok pagi ketika kamu terbangun. Berbahagialah kembali,
akan ada lebih banyak kasih sayang diluar sana yang menantimu. Daripada merenungi
gadis nyinyir ini. Tak perlu sampaikan maaf. Karena kita berdua tak ada yang
salah. Sempat ucapkan “Hai manis”, kalau kita bertemu, atau kembali lagi
diamkan saja.
Penutupnya adalah ayolah kita berteman kembali, perasaan jangan mempengaruhi hubungan kita ini. aku tak berniat menyakiti siapapun, begitu pula kamu kan? jadi jangan libatkan perasaanmu yang justru membuatmu terluka sendiri. kalau ada orang bilang "apakah wanita dan pria bisa menjadi teman dekat tanpa ada perasaan diantara mereka?" jawab dengan lantang, TIDAK. tapi bagaimana cara kita memilah perasaan itu, dan mengendalikannya tentunya.
Salam sayang