Minggu, 18 Desember 2016

Random: Apa ya? #2

Aku tau kamu akan pergi, aku hanya tak tau akan akan secepat dan semudah ini.

Dari awal, aku sudah ikhlas. Bukan saat kamu mulai menyukai wanita lain, tapi justru sejak awal kamu datang bahkan semenjak awal kita berkenalan. Aku sudah belajar dari pengalaman, tak mudah menyukai orang hanya dari satu pihak, apalagi pihak satunya tak mau mencoba menyukai.

Aku pernah berencana menjadikanmu sebagai salah satu daftar dari masa depanku, tentu karena sikapmu di awal yang seakan bisa belajar menyukaiku. Tapi itupun masih rencana. Jika masih rencana seberapa persenpun kepastiannya, tetaplah masih wacana.

Dari sana aku mengerti, semua masih tidak pasti sebelum itu pasti.

Begitupun kamu

Setelah kita berkenalan cukup lama, aku tahu dua hal. Kita bisa berpisah, atau bisa berpasangan. Seiring berjalannya waktu, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Masih banyak orang lain yang akan kita temui. Bisa jadi aku sebenarnya tak suka kamu, hanya merasa nyaman dengan kamu misalnya. Hanya merasa nyaman ketika berdua, bukan berarti itu cinta. Bisa jadi juga, kamu mulai menyukaiku atau juga justru menyukai orang lain.

Dan benar. Aku tau kamu akan pergi. Aku hanya tak tau akan semudah ini.

Tetapi aku tau satu hal, rasa suka-ku ke kamu itu mungkin hanya rasa nyaman bukan cinta. Karena ketika kamu pergi aku tak mengalami sakit hati sama sekali. Tau apa yang paling menyenangkan tentang kamu? Aku tidak harus berpura-pura menjadi orang lain saat bersamamu, karena kamu bahkan tak tau kalau aku suka kamu. Itu hal yang paling menyenangkan dari kamu, aku tak perlu repot menutupi rasa suka-ku yang  jarang atau bahkan tak kamu ketahui.

Seperti kata Tere Liye:

Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar

photo by: @sinasiav
Judul dan cara bertutur terinspirasi dari tulisan Namara


Jadi, apa ya?
Share:

Jumat, 16 Desember 2016

Kalau Ada Kamu

Tanpa kamu, aku masih bisa mendengarkan lagu dan bernyanyi tanpa kenal waktu. Menikmati waktu meski setelah itu kelelahan.

Tanpa kamu, aku masih bisa menonton film apapun yang aku suka entah dibioskop atau komputerku. Sambil tiduran dan bersenang-senang, sampai akhirnya ketiduran.

Tanpa kamu, aku masih bisa tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita lucu dari temanku atau sekedar melihat meme lucu di instagram.


Tapi mungkin aku tidak harus berusaha terlalu keras menikmati semuanya, 
Kalau ada kamu
photo by: @sinasiav
Judul dan cara bertutur terinspirasi dari tulisan Namara
Share:

Sabtu, 03 Desember 2016

Ini, (baru) untuk kamu

Sorry, I didn’t mean to offend thee!

Sebelumnya aku jelaskan alasan menulis ini. 

Aku tak masalah bila kamu sering bergosip atau bergunjing tentangku dibelakang. Itu hak kamu/kalian. Aku paham itu, aku banyak salah dari perkataan dan tingkah laku. Pun kamu.

Aku tak masalah bila temanku menganggap aku buruk. Karena seburuk apapun orang pasti ada baiknya. Tergantung cara orang melihatnya dan pandai mengikapi guncingan. Dan sungguh aku tak marah atau terganggu akan guncingan apapun.

Yang aku permasalahkan ketika orang yang dekat denganku mulai terganggu dengan omongan buruk tentangku. Atau mulai sering mempertanyakan kebenaran beritanya. Yang tentu alur ceritanya sudah berubah.
Awalnya tak masalah, sungguh. Satu persatu aku jelaskan masalahnya. Tapi lama kelamaan akhirnya membesar. Satu persatu sudah tidak percaya lagi karna kemakan omongan. Sampai sini juga aku tak mempermasalahkan ini. Anggap saja begini, yang menjauhimu artinya tidak mengenalmu dengan baik. Toh masih ada aja yang selalu bertahan bersamaku. 

Tapi apa kamu tidak merasa ini berlebihan?

Permasalah utama
Aku tegaskan ini untuk yang kesekian kali “aku tidak (sekarang) menulis status bbm/instagram/twitter/facebook/dll untuk menyindir kamu” mungkin dulu iya. Tapi sekarang tidak, setelah aku tau mungkin kamu sakit hati karnanya. Jadi berhenti seolah statusku untuk kamu

Aku nulis status jatuh cinta, kamu jadikan gosip hubunganku dengan banyak pria. Menuduh ini itu. Menyukai pria beristri. Karna gosipmu hubunganku dengan dia (pria beristri) jadi canggung. Padahal kami hanya membicarakan masalah banner dan handphone. Bagaimana itu bisa disebut cinta?

Aku nulis sedih, kamu guncingkan lagi kalo nyindir gak diajak main. Sekalipun kamu dan temanmu tak pernah sekalipun mencoba mengajakku keluar. I’m oke. Itu terserah kalian. Dan tak sekalipun aku iri dengan kebersamaan kalian. Justru aku ikut senang. 

Kamu sindir aku, juga gak apa apa. Itu hak kamu. Lakukan yang kamu mau. Tapi jangan ceritakan hal-hal negatif untuk orang yang dekat denganku. Aku juga punya hak bahagia dengan teman dan lingkunganku.

Aku tak sejahat itu. 

Apa kamu tidak lelah dengan perselisihan kita yang tanpa sebab? 

Kamu yang tiba-tiba menghindariku. Mengira aku menyindirimu. Padahal TIDAK

Aku sudah tak menyindirmu lagi, sudah lama. Lama sekali. Sudah saatnya kamu memikirkan diri sendiri. Aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan diriku sendiri tanpa perlu bantuan.
Dan ini tulisanku yang memang untuk nyindir kamu untuk yang terakhir. Maaf kalau mungkin aku terlalu banyak membuat masalah untukmu. Ternyata jadi teman bukan hal mudah untuk kita berdua. Jadi lebih baik, kita berjalan dengan hati yang ikhlas. Maafkan segalanya, pun seperti aku selalu memaafkan dan  memahamimu mengapa melakukannya.

Be gentle, dear!
just quote, don't think too much


Share:

Selasa, 29 November 2016

10 Menit Berbahagia Kembali

ada banyak cara untuk berbahagia. sama setelah aku membaca quote dari blog namara. 


Ada momen tertentu dimana seseorang bisa merasa bosan, tidak nyaman, atau 'jatuh'. Momen yang tidak membahagiakan sama sekali. Tapi sebenarnya kita bisa membangkitkan kembali kebahagiaan kita dalam sepuluh menit atau kurang. Bagaimana caranya?


      1. Menarik napas panjang, menghembuskannya, lalu tersenyum. 
      Karena kita harus ‘tahu’ bahwa ini hanya sementara, semuanya akan berlalu. Kita akan bisa melaluinya dan kembali baik-baik saja. Selalu.

           2. Menerima, dan terus berjalan.

      “Yang memang milikmu, pasti akan menjadi milikmu.
      Yang memang bukan milikmu, pasti tidak akan menjadi milikmu.
      Dan yang memang belum waktunya datang, juga tidak akan datang 
      sekarang.
      Bagian mana yang belum kamu mengerti?”*

Hal itu membuat kita lebih yakin bahwa Allah Maha Tahu yang Terbaik. Jika sesuatu terjadi, pasti Allah mengizinkannya terjadi untuk kita pelajari apa yang ada dibaliknya.

            3. Memejamkan mata dan mengingat kembali orang-orang yang mencintai kita. 
      Yang selalu ada bersama kita dan mendukung kita. Mereka tidak ingin kita jatuh, mereka ingin kita bangun lagi. Mereka ingin kita bahagia. Jadi, kita akan membuat diri kita dan mereka berbahagia jika kita juga berbahagia.

      4. Mengingat kembali semua yang kita punyai, semua hal yang sudah kita raih, lalu mensyukurinya. 
      Tersenyum karena betapa kita sudah melalui banyak hal, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Tapi hidup kita terus berjalan. Sudah banyak yang diberikan Tuhan kepada kita, kenapa kita mengeluhkan sedikit yang tidak diberikan Tuhan kepada kita?

      5. Mendengarkan lagu-lagu bahagia atau yang bisa membuat kita merasakan kembali bahagianya jatuh cinta. Dalam hal ini lagu setiap orang berbeda, mungkin salah satunya adalah “Love” by Nat King Cole.
   
      6. Memahami kembali bahwa mengeluh hanya selalu membuat apa pun yang kita kerjakan bertambah berat. Alih-alih menikmatinya, kita malah menambahkan beban pada hati dan batin kita. Jangan mengeluh, kerjakan saja.

      7. Menikmati apa pun yang ada sekarang ini. Jika sedang di pantai, nikmati indahnya pantai. Jika sedang menikmati teh, rasakan benar-benar kesegaran tehnya. Jika sedang membaca, perhatikan benar setiap kalimat yang dibaca. Lupakan apa pun dulu, karena yang paling penting di dunia adalah saat ini, bersama siapa pun, melakukan apa pun. Setelah ini selesai, baru dipikirkan kembali.

Apakah semuanya selalu berhasil membuat kita berbahagia kembali dalam 10 menit? Biasanya iya. Kurang dari 10 Menit malah. Tapi ada waktunya tidak, terutama ketika kita terlalu fokus pada masalahnya daripada apa saja yang bisa membuat kita berbahagia. Tapi itu hanya terjadi 1 dibanding 10 (mungkin lebih).


"Fokus kepada bahagianya, bukan kepada kejatuhannya." Ini bagian terpenting yang bisa merangkum semuanya.

*****
*SHINE ON Quote Favorit Namarappuccino

Share:

Kamis, 03 November 2016

Random: Apa ya?

Suka

Sebuah kata yang mungkin pernah di alami semua orang. aku tak terkecuali

beberapa hari ini serasa pikiran penuh, disaat lain juga kosong. perasaan juga amburadul

sedih, iya

seneng, iya

salah tingkah, iya

cemburu, iya

marah, iya

Apa ya? kayak ada yang gemesin pengen dikeluarin tapi gak pernah bisa keluar.
udah berlangsung seminngu ini, gara-gara ada yang bilang "tunggu sebentar, aku selesaiin masalah yang ini dulu"
cuma gitu? iya. kemudian banyak kepompong berubah jadi kupu-kupu.
ribuan kalimat tanya datang
nyuruh nunggu? memang dalam situasi seperti apa kita? kenapa harus aku tunggu?
seneng? banget. merasa tidak diperhatikan dalam waktu lama dan tiba-tiba dengar kata tersebut. tepatnya gemas, aku mendengar bahkan bukan dari mulutnya sendiri, dari orang yang aku sendiri tak menyangkanya. awalnya jadi guyonan lama-lama jadi merasa bersalah. apa aku terlalu menuntut kepastian? oh sungguh bukan itu maksudku.
aku menikmati setiap waktu kita, yang bertemu namun hanya tersenyum, berkata seperlunya, bahkan tak pernah kita menyelesaikan satu kalimat. tapi sungguh aku tertarik. untungnya dia tidak ramah dengan wanita lain, kalau tidak, mungkin aku sudah tersulut api, atau bahkan aku menghindar.
betapa seriusnya atau bahkan begitu pengecutnya kita.
mungkin gak ya dia salah tingkah juga? mati-matian menghindar pas ketemu, melihatnya saja membuat kakiku justru berlari menjauh, pas udah jauh nyari setengah mati.
Bertemunya saja tak setiap hari, ada rindu? bukan rindu mungkin, bingung nyari cara agar ketemu tepatnya. aku bahkan tak ingin terlihat agresif
gimana ya?
dia bermain-main atau apa ya?
kalau tak tertarik kenapa sengaja menghilang agar dicari? kenapa menyampaikan isyarat yang justru membuatku menggebu?
aku bahkan tak bisa mengobrol dengannya di sosmed. apalah kita, kontak person atau akun sosmed aja kita tak tau satu sama lain.
ah tapi sudahlah, karna aku menikmati setiap detik, setaip gelagat anehnya. kalau dibayangkan lucu.
semoga ini bukan pertanda aku mulai kesepian. sebelum-sebelumnya gak pernah kayak gini. semoga aku tidak kembali labil dan kehilangan akal pikiran.

semoga kelak diantara kita ada yang berani menyapa terlebih dahulu, gak apa apa kalau saling menyapa saat rasa gemas ini sudah pudar. karna aku sangat tertarik pada setiap kata yang keluar darinya, ingin berucap banyak tapi kaki dan mata tak kuat untuk singgah. semoga kelak dia juga lebih berani. aku juga sangat menikmati senyum itu

ah, aku kembali labil

tapi, apa ya?


Share:

Jumat, 14 Oktober 2016

Teman, Kita

Ada dua orang yang tak pernah sabar menunggu pagi. Keduanya ingin selalu bertemu tiap harinya, untuk saling bercakap betapa bencinya kepada malam yang artinya perpisahan, atau juga percakapan mengenai bosan ketika tak menghabis waktu bersama.

Menyenangkan

Dua orang itu juga selalu menjadi perhatian teman-temannya. Mereka menggoda bahkan menjodohkan keduanya. Wajar saja, keduanya punya kesukaan yang sama, lebih banyak menghabiskan waktu berdua daripada dengan teman lainnya.

Teman kita bercerita

Dua orang itu pernah saling mencintai, bahkan lebih dari cinta. Keduanya saling mengagumi,  saling mengerti satu sama lain selayaknya dua merpati yang kemanapun selalu berdua. Tapi keduanya tidak ada yang berani mengatakannya. Itu berlangsung lama. Terlalu lama. Lama sekali.

Sampai salah satu bosan menunggu, dan satu lagi masih takut kalau satunya tidak memiliki perasaan yang sama. Lantas memilih untuk berpisah tanpa drama. Saling jatuh cinta tetapi tidak pernah bersama.


Kata teman-teman, dua orang itu kita.



Adapted by Namara
Share:

Sabtu, 01 Oktober 2016

Jodoh Oh Jodoh

Orang- orang bertanya ketika satnite atau hari minggu, aku menghabiskan waktu dengan siapa. Dengan cengengesan aku menjawab, “tidak dengan siapa-siapa”. Lalu sebagian orang-orang seolah memasang wajah tidak percaya, dan sebagian lagi justru memandangiku dengan sedih, seakan aku pasti merana dan kesepian karena tidak punya pasangan, ditambah dengan usiaku yang mulai beranjak mendekati seperempat abad ini.

Tapi sungguh itu sebuah kesalahan. Aku tidak sedih sama sekali. Aku memang sendiri, tapi tidak pernah kesepian karena aku masih punya banyak kegiatan yang bisa kulakukan. Aku sendiri bukan karena tidak punya pasangan tapi aku hanya merasa lebih baik sekarang sendiri dulu. Bukankah lebih baik sendiri daripada bersama orang yang tidak kita cintai?

Bukan cinta namanya apabila kita bersama dengan orang hanya karena kita tak mau sendiri. Menerima seseorang hanya karena takut sendirian. Tapi itu bukan aku. Dan sesungguhnya aku tak pernah menerima seseorang hanya karena aku takut sendiri atau karena agar ada teman untuk diajak kondangan atau juga karena takut di olok-olok teman karena masih jomblo aja. Aku selalu menerima karena memang aku tertarik.

Hidup sendiri memang terkadang sangat sulit, karena kita butuh orang lain untuk bertukar pikiran maupun membutuhkan bantuan. Tapi tenang, itu bukanlah akhir dirimu. Malah ketika aku sendiri seperti ini aku justru sedang enak-enaknya intropeksi diri. Ada banyak hal yang membuatku lebih dewasa, lebih mandiri, dan tepatnya lebih banyak perbaikan diri mulai dari perbaiki ibadah dan kerja. Seperti yang kalian ketahui ketika kita memutuskan untuk menjalin hubungan akan ada banyak waktu yang terbuang, untuk telfonan, untuk pacaran, belum juga untuk merayakan hari special bersama. Nah, ketika aku sendiri aku merasa lebih banyak waktu untuk memperbaiki diri dan lebih dekat dengan keluarga yang sebelumnya sangat jarang aku lakukan.

Aku sangat hati-hati dalam menulis tulisan ini sebelumnya, karena aku takut justru mengarah ke arah menganjurkan “nikah dulu, pacaran kemudian”, sesungguhnya aku juga ingin nikah dulu baru pacaran. Yah tapi jiwa mudaku sering mengajak ke arah lain (kalian taulah maksudnya), jadi daripada aku menjilat omongan sendiri lebih aku tidak usah membahas itu.

Lanjut..

Namanya cinta apa bisa dipaksakan? Sekalipun aku wanita dan sudah mendekati umur 25an lantas harus cepat-cepat memiliki pasangan? Itu juga tidak benar. Aku akan tetap memilih sendiri dan menunggu waktu yang tepat untuk cinta yang benar (ceileh cinta yang benar)

Akhir cerita,
Aku orang yang keras kepala dan kekeuh pada pendirian. Orang boleh mengolok-olok jomblo lah ini lah, pilah pilih lah, kebanyakan kriteria lah. Bodo amat. Pasangan itu digunakan untuk seumur hidup, kalau salah pilih, hidup kita akan rugi seumur hidup pula. Jangan karena takut sendiri dan karena omongan orang jadi merubah hidupmu. Aku juga tidak pernah menyesal karena memilih sendiri saat ini. Aku juga masih bisa dengan bebasnya teriak “ada cowok ganteng” “pangeran Lee young <3 <3 <3” “!@#$$%^&*()”

Jodoh itu gak usah di buru-buru, dia akan datang sesuai waktunya.

Kapan?
Doa jawabannya. 

Bye


Share:

Senin, 14 Maret 2016

Tak serumit ini

Selamat malam manis, Aku sedang ingin mengajakmu berbasa-basi tentang perasaan

Pertemuan kita, kedekatan hingga hubungan rumit kita ini juga karna perasaan bukan? Aku tak pandai mngertikan perasaan, mungkin tak sepandai kamu. Apa kamu pernah bertanya tentang perasaanmu padaku? Ketika kamu mengaku sadar tentang perasaanmu, langkah selanjutnya yang kamu lakukan adalah “mengungkapkannya”, itupun jika kamu sudah siap menanggung segala resikonya. Seperti aku sekarang menulis ini, aku siap menanggung resiko dari tulisanku, toh aku juga sudah sering kamu acuhkan

Entah ini semua dimulai darimana, bukankah kamu sudah tau kalau aku suka menulis? Entah karena efek jatuh cinta atau apalah, aku rasa setiap yang aku tulis selalu membuatmu merasa “itu kamu” termasuk tulisan ini mungkin. Tapi ketahuilah, aku mungkin saja seorang pujangga, yang mengumbar banyak cinta tapi juga entah untuk siapa, atau juga bahkan bukan untuk siapa-siapa. Dari itulah, semenjak itu aku jarang mengunggah apapun yang berasa cinta, aku takut dikira “pemberi harapan”. Ah ejekan itu pernah dilontarkan kepadaku. Entahlah aku baru pindah ketempat ini, dan suasana disini sangatlah berbeda. Semua yang aku tulis seolah menyindir semua orang. You never know, ini gak nyaman. Mungkin ini berawal dari kamu membalas setiap tulisanku.

Perasaan itu bukan sesuatu yang mudah dimengerti, sayang

Bahkan, kamu mungkin salah mengartikan perasaanmu sebagai “cinta atau sayang”

Kita mungkin sama-sama pernah mendengar, “kejarlah cintamu” yang selalu menayangkan sosok seseorang yang bersusah payah meraih cintanya, disitulah sosok gagah berani sangat menjadi idola kaula muda. Namun pernahkah ditayangkan sosok yang dikejar cintanya? Apakah mereka tau bagaimana perasaan orang itu? Mau membuka hati, tapi sedang tak ingin bercinta. Mau nolak dan menjauh, tapi takut gak punya teman. Ah repotnya. Cinta itupun bukan belas kasihan sayang, kalau tak suka ya sudah.

Artikan tolakannya dengan pemikiran dewasa. Anggaplah begini, aku tak suka kacang, bukan berarti karena bentuk kacang yang jelek tapi karena allergen.  allergen bisa menyebabkan kematian loh. Sama halnya dengan cinta, mungkin dia baru patah hati. Hati mana yang patah bisa segera sembuh? Nah kalau dipaksa, bagaimana kalau dia tak nyaman kemudian gagal hati, nah kan.

Ingatlah, jangan memprioritaskan berdasar apa yang kamu rasakan.

Kamu tak tahu bagaimana sulitnya bilang “hehe, bukan mbak. Saya bukan pacarnya” atau “loh itu bukan untuk dia” atau juga “pulang sendiri pak”. Sedangkan setelah itu dengan mudahnya kamu memberi kode-kode untuk orang dengan setiap tingkah konyolmu. Misalnya meletakkan sesuatu over sweet di sepatuku, maybe.

Tak baik sayang membiarkan cinta berkembang begitu liar. Lama-lama akarnya akan menghabiskan pikiranmu. Kamu mungkin dengan tak sengaja bersikap diluar kemampuanmu. Merasa memiliki, merasa serba harus tahu pada apapun yang dia lakukan.

Dear, dikepoin itu tak seenak yang kamu tau. Risih mungkin begitu. Setiap dia jalan dengan cowok lain yang juga hanya teman, lalu kamu cemburu,. Dia berhubungan dengan cowok yang juga hanya teman, kamu terbakar. Lalu akhirnya kamu mulai menggila dengan ingin selalu tau apapun yang dia kerjakan. Ah, cinta janganlah seperti itu di usia yang tak lagi belia seperti kita. Pembawaanmu yang terlampau melebihkan perasaan itu sering mebuatmu tergelincir. Misal, si dia gak suka dengan caramu memperlakukannya, dan timbul masalah, karna kamu sudah terbawa perasaan yang kamu ada-adakan justru mebuat masalah kecil ini menjadi masalah besar.  Bukankah kalau hanya berteman, ngambek dan marah masalah biasa? Kenapa kamu terlalu emosional?

Percayalah, kamu sekarang dalam kondisi tidak stabil. Kamu jadi brutal dan tak terkendali sayang. Bangunlah, kembalilah seperti dulu. Teman yang selalu menyenangkan.

Ayolah, berhenti merengek. Tuhan memilihmu merasakan ini semua, agar kamu belajar ikhlas dan tau bagaimana bersikap lebih dewasa lagi.

Sayang, aku hanya ingin menyampaikan, hargai perasaan orang yang kamu sukai. Tanyai dia dengan baik, “apa caraku salah?” “Apa caraku terlalu berlebihan?” “apa kamu tidak nyaman dengan semua ini?” “bagaimana agar kita nyaman kembali?”. Bukankah cinta selalu membuat satu sama lain nyaman?

Aku tahu, tulisanku pasti membuatmu sedikit terluka. Tapi ketahuilah, aku juga terluka karna kehilangan teman baikku. Tak apa kamu marah, karna ini cara terbaikku memberitahumu. Aku tak pandai berkata, aku hanya ingin bisa lebih leluasa berteman dengan siapapun lagi, tanpa dengar ucapan mereka “dia gebetannya si …” “dia udah ada yang punya”. Apalah itu, mencintai bukan harus membuat semua hubungan jadi serumit ini sayang.

Mulai besok pagi ketika kamu terbangun. Berbahagialah kembali, akan ada lebih banyak kasih sayang diluar sana yang menantimu. Daripada merenungi gadis nyinyir ini. Tak perlu sampaikan maaf. Karena kita berdua tak ada yang salah. Sempat ucapkan “Hai manis”, kalau kita bertemu, atau kembali lagi diamkan saja.

Penutupnya adalah ayolah kita berteman kembali, perasaan jangan mempengaruhi hubungan kita ini. aku tak berniat menyakiti siapapun, begitu pula kamu kan? jadi jangan libatkan perasaanmu yang justru membuatmu terluka sendiri. kalau ada orang bilang "apakah wanita dan pria bisa menjadi teman dekat tanpa ada perasaan diantara mereka?" jawab dengan lantang, TIDAK. tapi bagaimana cara kita memilah perasaan itu, dan mengendalikannya tentunya.

Salam sayang
Share:

Minggu, 03 Januari 2016

untuk Peyempuan

Tulisan saya kali ini,saya peruntukkan bagi perempuan-perempuan yang sudah terlalu sering merasakan sakit hati, yang tak bisa saya peluk satu persatu, saya usap tangisnya, saya dengarkan setiap ceritanya dan saya omeli kebodohannya.

Hai ukhti.
Saya sering jatuh hati, sama indahnya seperti yang kamu rasakan. Ada baiknya, ada debar-debarnya, dan banyak kupu-kupu berterbangan didalam dada.Tak kalah dengan jatuh hati, saya juga tahu bagaimana rasanya sakit hati, ketika indahnya senjapun dapat menambah sayatan hati.
Ukhti, bukan berarti karena kita pernah merasakan sedih lalu lupa hal yang membahagiakan saat jatuh hati, sebab itu pertahankan apa yang membuatmu bahagia. Mempertahankan berbeda dengan pasrah tersakiti ya.

Tak sedikit lelaki yang tak mengerti, bahwa ketika seorang perempuan rela memaafkan, rela menunggu, bahkan mengalah adalah sebuah perjuangan.Ya perjuangan menahan egonya sendiri.
Jadi, lebih mudahnya begini.Teman saya (sebut saja Kanayas), pernah mengalami pertengkaran hebat, dia jadi malas berbicara dan hanya manyun seharian atau bertengkar kemudian menangis hebat sampai sesenggukan (ini juga teman saya, sebut saja Embun), (mohon maaf sebesar-besarnya untuk kedua teman saya ini).Pasti kalian juga punya teman yang mengalami cerita yang sama. atau kamu sendiri? Dan kebetulan si lelaki (ehmm) meminta maaf duluan diakhir pertengkaran. Nah saya sendiri jika mengalami pertengkaran pasti inginnya si lelaki dulu yang minta maaf. Dan kita kaum perempuan pasti (ehmm) mau memaafkan. Kita sudah berjuangkan?

Kemudian banyak meme, komik, atau gambar yang bertuliskan “lelaki selalu salah”. Lahkan kalau lelaki salah bukannya memang harus meminta maaf duluan?. Saya pribadi pernah mengalami hal seperti itu, ketika teman (ex) lelaki saya (sebut saja Wifi) berkata “telat ngabarin ngambek, main sama temannya bentar aja marah, dll”. Lalu saya harus bagaimana? Apa membiarkan dia begitu saja tanpa ada kabar? Apa saya harus tak peduli apa yang dia lakukan dengan teman-temannya?. Karena BENTAR bagi perempuan dan laki-laki berbeda. Apakah kalian kaum lelaki masih tak mau dibilang salah?

Nah, bagaimana kalau perempuan yang salah. Tentu saja kita akan meminta maaf, tetapi apalah daya sebagai perempuan, kami akan lebih sering ngambek dulu, nangis dulu, kalau lelaki mau dengan lemah lembut mengerti bukan tak mungkin kita akan meminta maaf kalau salah.
Yang pasti, ketika perempuan telah meminta maaf atau memaafkan artinya ia telah melakukan perjuangan.

Hai Akhi, note that

Tulisan ini tidak untuk kalian baca (yang saya yakin ketika kalian membaca ini akan berteriak “KITA MAH APA ATUH, SALAH APA NGGAK SELALU MINTA MAAF), tulisan ini untuk teman perempuan saya.

Ukhti, jatuh cinta bisa berkali-kali kapanpun dan dimanapun namun tidak untuk hidup. Jadi hiduplah dengan bahagia, temukan seorang laki-laki yang dapat menjagamu, memuliakanmu, memperjuangkanmu dan mencintaimu sama besarnya seperti kau mencintainya.

Mari kita bergosip sebentar dengan pengalaman seorang perempuan ini, jadi bacalah dengan seksama. Beberapa bulan yang lalu (sebut saja Rizka) mengalami pertengkaran yang hebat dengan (ex) lelakinya, masalahnya karena si laki-laki pergi dengan teman-temannya tanpa ada kabar seharian, lebih parahnya lagi dia bebohong tentang kepulangannya kepada si perempuan. bukankah wajar apabila perempuan khawatir terhadap si lelaki? Sedangkan si perempuan hanya bisa menunggunya dirumah (sepasang LDR), biasanya ketika hari libur mereka habiskan untuk mendekatkan rindu yang sudah lama berjarak. Jadi masih wajar kalau si perempuan ngambek.
Hai Akhi, apa susah dan lamanya mengetik sms "aku sudah sampai" atau "bentar lagi pulang ya".

Nah dari sini menurut kalian siapa yang salah?
Salahnya lelaki :tanpa ada kabar seharian, berbohong
Salahnya perempuan :mau banget nunggu, egois (maybe)

Namun diluar dugaan, masalah lebih besar terjadi ketika teman si laki-laki memasang status di BBM “jadi perempuan kok karepe dewe (semaunya sendiri), cowok itu perlu main sama teman-temannya, emang kamu pikir siapa” kurang lebih dalam ingatan saya seperti itu. 

Lucukan?

Sekalipun teman, dia tak seharusnya bersikap seperti itu. Karena saya (Rizka) merasa status yang dia sampaikan adalah sebuah salah paham maka saya putuskan untuk menjelaskan, dan seingat saya pula ada balasan “jangan kayak anak kecil”. Ah rasanya ingin tertawa kala mengingat pesan itu, bagaimana mungkin pria dewasa seperti dia nyindir seorang perempuan lewat BBM? Dan bagaimana bisa mencampuri urusan orang lain? Sedangkan seababil-ababilnya saya, saat itu saya belum memposting status apapun.

Lucu sekali..

Entah sejak kapan lelaki sekarang menjadi lebih mengerikan daripada cabe-cabean. Ini baru cerita saya, diluar sana ada lebih banyak perempuan yang tersakiti karena perbuatan lelakinya. Masih tanya kenapa mereka bertahan? Karena CINTA ukhti, C.I.N.T.A.


Ah ukhti, lepaskan sajalah apa yang membuatmu terluka, lalu bahagialah. Karena jatuh cinta berkali-kali, namun hidup hanya sekali. Jadi hiduplah dengan sebahagia-bahagianya. Karena lelaki didunia ini gak cuma hanya dia, melangkahlah, sebab langit akan tetap biru meski tanpa dia. Lepaskan apa yang tak seharusnya kau genggam. 

lanjut minggu depan ya
Share: