Sebelumnya aku jelaskan alasan menulis ini.
Aku tak masalah bila
kamu sering bergosip atau bergunjing tentangku dibelakang. Itu hak kamu/kalian.
Aku paham itu, aku banyak salah dari perkataan dan tingkah laku. Pun kamu.
Aku tak masalah bila temanku
menganggap aku buruk. Karena seburuk apapun orang pasti ada baiknya. Tergantung
cara orang melihatnya dan pandai mengikapi guncingan. Dan sungguh aku tak marah
atau terganggu akan guncingan apapun.
Yang aku
permasalahkan ketika orang yang dekat denganku mulai terganggu dengan omongan
buruk tentangku. Atau mulai sering mempertanyakan kebenaran beritanya. Yang
tentu alur ceritanya sudah berubah.
Awalnya tak masalah,
sungguh. Satu persatu aku jelaskan masalahnya. Tapi lama kelamaan akhirnya membesar.
Satu persatu sudah tidak percaya lagi karna kemakan omongan. Sampai sini juga
aku tak mempermasalahkan ini. Anggap saja begini, yang menjauhimu artinya tidak
mengenalmu dengan baik. Toh masih ada aja yang selalu bertahan bersamaku.
Tapi apa kamu tidak merasa ini berlebihan?
Permasalah utama
Aku tegaskan ini
untuk yang kesekian kali “aku tidak
(sekarang) menulis status bbm/instagram/twitter/facebook/dll untuk menyindir
kamu” mungkin dulu iya. Tapi sekarang tidak, setelah aku tau mungkin kamu
sakit hati karnanya. Jadi berhenti
seolah statusku untuk kamu.
Aku nulis status
jatuh cinta, kamu jadikan gosip hubunganku dengan banyak pria. Menuduh ini itu.
Menyukai pria beristri. Karna gosipmu hubunganku dengan dia (pria beristri)
jadi canggung. Padahal kami hanya membicarakan masalah banner dan handphone.
Bagaimana itu bisa disebut cinta?
Aku nulis sedih, kamu
guncingkan lagi kalo nyindir gak diajak main. Sekalipun kamu dan temanmu tak
pernah sekalipun mencoba mengajakku keluar. I’m oke. Itu terserah kalian. Dan tak sekalipun aku iri dengan
kebersamaan kalian. Justru aku ikut senang.
Kamu sindir aku, juga
gak apa apa. Itu hak kamu. Lakukan yang kamu mau. Tapi jangan ceritakan hal-hal
negatif untuk orang yang dekat denganku. Aku juga punya hak bahagia dengan
teman dan lingkunganku.
Aku tak sejahat itu.
Apa kamu tidak lelah
dengan perselisihan kita yang tanpa sebab?
Kamu yang tiba-tiba
menghindariku. Mengira aku menyindirimu. Padahal TIDAK.
Aku sudah tak
menyindirmu lagi, sudah lama. Lama sekali. Sudah saatnya
kamu memikirkan diri sendiri. Aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan diriku
sendiri tanpa perlu bantuan.
Dan ini tulisanku
yang memang untuk nyindir kamu untuk yang terakhir. Maaf kalau mungkin aku
terlalu banyak membuat masalah untukmu. Ternyata jadi teman bukan hal mudah untuk kita berdua. Jadi lebih baik, kita berjalan dengan hati yang
ikhlas. Maafkan segalanya, pun seperti aku selalu memaafkan dan memahamimu mengapa melakukannya.
Be gentle, dear!
just quote, don't think too much
0 komentar:
Posting Komentar