Jumat, 23 Mei 2014

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN BUDIDAYA

Proposal
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Seminar
yang Dibina Oleh Bapak Fatchur Rohman




Oleh :

Nikmatur Rizka           (110342404671)
Off G-E/2011




 




The Learning University






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Penyakit bakterial pada ikan merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Selain dapat mematikan ikan, penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya kualitas daging ikan yang terinfeksi. Bakteri patogen pada ikan dapat bersifat sebagai infeksi primer atau sekunder. Penyakit akibat infeksi bacteria di Indonesia ternyata dapat mengakibatkan kematian sekitar 50-100% (Supriyadi dan Rukyani, 1990).
Indikator keberhasilan dalam usaha budidaya ikan adalah kondisi kesehatan ikan. Oleh karena itu masalah penyakit merupakan masalah yang sangat penting untuk ditangani secara serius. Penyakit pada ikan merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai dalam usaha budidaya ikan. Di Indonesia telah diketahui ada beberapa jenis ikan air tawar, dan diantaranya sering menimbulkan wabah penyakit serta menyebabkan kegagalan dalam usaha budidaya ikan.
Penanggulangan penyakit dapat dilakukan dengan cara pencegahan dan pengobatan. Pencegahan penyakit pada ikan biasanya dilakukan dengan cara menciptakan lingkungan steril dan pemberian pakan yang bernilai gizi baik. Pengobatan yang dilakukan pada saat ikan terserang, biasanya diberikan bahan kimia atau sejenisnya. Akan tetapi penggunaan bahan penelitian tentang pengobatan yang aman dan berwawasan lingkungan yaitu menggunakan bahan-bahan alami, salah satunya rumput laut.
Hasil penelitian mengenai rumput laut telah banyak dilaporkan, yaitu : Mtolera (1996) yang mengekstrak 6 algae hijau dengan bahan pelarut diethyl eter terhadap 3 bakteri uji yaitu :S. aureus, B.subtilis, E. coli, ekstrak Valonia aegrophila paling aktif terhadap semua organisme uji. Vitor et al., (2002), ekstrak Heksan, Cloroform dan Ethanol dari 6 makroalgae laut (Rhodophyta dan Chlorophyta) menunjukkan bahwa dari ekstrak makroalge bersifat menghambat terhadap bakteri. Choudhury (2005) melaporkan tiga ekstrak algae laut, G. corticata, U. fasciata, E. compressa dengan menggunakan heksan, cloroform, etil asetat, cloroform, alkohol dan metanol, menunjukkan penghambatan terhadap bakteri pathogen yaitu, E. tarda, V. alginolyticus, P. fluorescens, P. aeruginosa dan A. hydrophila.
Menurut Taskin et al., (2007), ekstrak kasar dari semua algae yang diuji kecuali C. officinalis menunjukkan hambatan terhadap S. aureus dan U. rigida merupakan ekstrak yang paling efektif. Aktivitas hambatan paling tinggi terdapat pada E. aerogenes (34.00 ± 1.00 mm) dari C. officinalis dan diikuti dengan E. coli dan E. faecalis. D. dichotoma mempunyai aktivitas hambatan yang paling rendah (10.66 ± 1.52 mm). Ekstrak C. barbata mempunyai aktivitas spektrum yang paling luas, D. dichotoma dan H. filicina mempunyai aktivitas yang paling rendah terhadap mikroorganisme. Metabolit primer atau sekunder dari rumput laut ini mungkin mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi untuk industri obat. Hasil penelitian juga dilaporkan bahwa aktivitas algae dapat digunakan sebagai antiviral, antibakteri dan antifungal yang berpengaruh terhadap beberapa pathogen (Vitor et al., 2002).
Indonesia mempunyai potensi yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan lautnya, termasuk rumput laut (Sulistyowati, 2003). Rumput laut memiliki kandungan metabolit primer dan sekunder. Kandungan metabolit primer seperti vitamin, mineral, serat, alginat, karaginan dan agar banyak dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik untuk pemeliharaan kulit. Selain kandungan primernya yang bernilai ekonomis, kandungan metabolit sekunder dari rumput laut berpotensi sebagai produser metabolit bioaktif yang beragam dengan aktivitas yang sangat luas sebagai antibakteri, antivirus, antijamur dan sitotastik (Zainuddin dan Malina, 2009).
Rumput laut hijau, merah ataupun coklat merupakan sumber potensial senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi pengembangan (1) industri farmasi seperti sebagai anti bakteri, anti tumor, anti kanker atau sebagai reversal agent dan (2) industri agrokimia terutama untuk antifeedant, fungisida dan herbisida (Bachtiar, 2007).
Menurut Kordi (2010) bahwa rumput laut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai obat luar, salah satunya sebagai bahan antiseptik alami. Hasil penelitian Pringgenies et al., (2011) menunjukkan potensi rumput laut sebagai antibakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit infeksi. Salah satunya adalah yang sering menginfeksi ikan budidaya yaitu penyebab penyakit bercak merah.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu.
1.  Bagaimana aktivitas antibakteri ekstrak rumput laut G. verrucosa terhadap diameter daerah hambatan bakteri A. hydrophila?
2.   Jenis pelarut apa sajakah yang efektif untuk mengekstrak komponen antibakteri pada rumput laut?
3. Apa sajakah jenis senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak rumput laut G. verrucoa dengan menggunakan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spektrometer)?
4.  Berapakah kosentrasi paling efektif dari ekstrak G. verrucosa sebagai antibakteri dari A. hydrophila?

C.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu .
1.   Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak rumput laut G. verrucosa terhadap diameter daerah hambatan bakteri A. hydrophila.
2.   Mengetahui jenis pelarut yang efektif untuk mengekstrak komponen antibakteri pada rumput laut.
3. Mengidentifikasi senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak rumput laut G. verrucoa dengan menggunakan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spektrometer).
4.   Mengetahui kosentrasi paling efektif dari ekstrak G. verrucosa sebagai antibakteri dari A. hydrophila.

D.      Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1.   Dari penelitian yang dilakukan ini dapat digunakan sebagai informasi terhadap pembudidaya ika bahwa rumput laut (G. verrucossa) dapat dijadikan sebagai cara laternatif untuk mengatasi penyakit bercak merah pada ikan budidaya.
2.  Dari penelitian yang dilakukan ini dapat meningkatkan ketrampilan penelitian terkait dengan mengatasi penyakit pada ikan, pembuatan senyawa bioaktif serta pengekstrakan rumput laut.

E.       Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
Batasan masalah digunakan untuk memperjelas ruang lingkup, maka batasan masalah dari penelitian ini sebagai berikut.
1.    Jenis bakteri yang digunakan pada penelitian ini hanya terbatas pada A. hydrophila yang terdapat pada ikan budidaya.
2.    Jenis rumput laut yang digunakan hanya terbatas pada jenis alga merah, yaitu G. verrucosa.
3.    Parameter yang digunakan adalah parameter kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran diameter daerah hambatan yang terlihat disekitar kertas cakram (mm), total bakteri setelah pemberian ekstrak, dosis penghambatan minimal (MIC).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gracilaria verrucosa
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang, maupun daun sejati tetapi hanya menyerupai batang yang disebut talus. Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya. Selain benda mati, rumput laut pun dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik (Anggadireja., dkk, 2008).
Gracilaria sendiri merupakan rumput laut yang termasuk dalam golongan Rhodophyceae (algae merah). Masyarakat pesisir di Indonesia mengenal Gracilaria dengan sebutan; janggut dayung (Bangka); agar-agar karang (Indonesia); sango-sango, dongi-dongi (Sulawesi); bulung embulung (Jawa, Bali); bulung sangu (Bali); bulung tombong putih (Labuhanhaji, Lombok). Dalam kehidupan sehari-hari, agar-agar dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti puding, jely (makanan ringan) dan sebagainya.
Menurut Graville (1830) bahwa secara taksonomi rumput laut jenis Gracilaria dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum               : Rhodophyta
Kelas               : Florideophyceae
Ordo                : Gracilariales
Famili              : Gracilariaceae
Genus              : Gracilaria
Spesies            : Gracilaria verrucosa
Gracilaria hidup dengan jalan melekatkan diri pada substrat padat, seperti kayu,  batu, karang mati dan sebagainya. Untuk melekatkan dirinya, Gracilaria memiliki suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dikenal dengan sebutan 'hold fast'. Jika dilihat secara sepintas, tumbuhan ini berbentuk rumpun, dengan tipe percabangan tidak teratur, 'dichotomous', 'alternate', 'pinnate', ataupun bentuk-bentuk percabangan yang lain.
Thallus pada umumnya berbentuk silindris atau agak memipih, namun pada G. euchewnoides dan G. textoni yang dideskripsikan oleh Cordero (1977) di Filipina, bentuk thallus kedua tumbuhan ter-sebut benar-benar gepeng. Ujung-ujung thal-lus umumnya meruncing, permukaan thallus halus atau berbintil-bintil. Keadaan permukaan thalus yang berbintil, umumnya ditemukan pada tumbuhan dalam bentuk karposporofit (mengandung).

Kandungan Rumput Laut
Sebagai sumber gizi, rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain itu, rumput laut juga mengandung fenol, enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium. (Anggadireja, dkk, 2009). Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat (Sulistyowaty, 2009).

Aeromonas hydrophila
Bakteri A. hydrophila termasuk bakteri gram negatif, dimana mempunyai karakteristik berbentuk batang pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora, motil,  mempunyai satu flagel, hidup pada kisaran suhu 25-300C.  Jika organisme terkena serangan bakteri maka akan mengakibatkan gejala penyakit hemorhagi septicaemia yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: terdapat luka dipermukaan tubuh, insang, ulser, abses, dan perut gembung. Tidak hanya menyerang organisme budidaya seperti ikan, tetapi penyakit ini juga menyerang manusia dimana menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada manusia. Bakteri A. hydrophyla sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar dan seringkali menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat kematian yang  tinggi (80 – 100 %) dalam kurun waktu yang singkat (1 – 2 minggu). Sehingga sangat merugikan petani ikan dalam usaha budidaya ikan. Tingkat virulensi dari bakteri A. hydrophila  dapat  menyebabkan kematian ikan  tergantung dari racun  yang dihasilkan. Didalam tubuh bakteri A. hidrophyla terdapat Gen Aero dan hlyA yang bertanggung jawab dalam memproduksi racun aerolysin dan hemolysin dimana Aerolisin merupakan protein extraseluler yang diproduksi oleh beberapa strain  A. hydrophila yang bisa larut, bersifat hydrofilik dan mempunyai sifat hemolitik serta sitolitik.  Mekanisme racun Aerolysin pada bakteri A. hidrophyla  dalam menyerang dan menginfeksi racun pada ikan yaitu dengan mengikat reseptor glikoprotein spesifik pada permukaan sel eukariot sebelum masuk ke dalam lapisan lemak dan membentuk lubang. Racun aerolysin yang membentuk lubang melintas masuk ke dalam membran bakteri sebagai  suatu preprotoksin yang mengandung peptida. Racun tersebut dapat menyerang sel-sel epithelia dan  menyebabkan gastroenteristis (Lukistyowati dan Kurniasih, 2012).
Proses invasi bakteri patogen A. hydrophila  kedalam tubuh host adalah diawali dengan melekatnya bakteri pada permukaan kulit dengan memanfaatkan pili, flagela dan kait untuk bergerak dan melekat kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik yang dilindungi oleh zat kitin. Selama proses berlangsung bakteri A. hydrophila  memproduksi enzim kitinase  yang berperan dalam mendegradasi lapisan kitin sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk kedalam host. Selain memanfaatkan kitinase bakteri A. hydrophila  juga mengeluarkan enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya  masuk kedalam aliran darah (Mangunwardoyo et al., 2010).
Bakteri A. hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang hampir selalu terdapat di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam kondisi yang kurang baik. Penyakit yang disebabkan oleh A. hydrophilla ditandai dengan adanya bercak merah pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan organ dalam. Penyebaran penyakit bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis yang timbul pada ikan yang terserang infeksi bakteri A. hidrophyla adalah gerakan ikan menjadi lamban, ikan cenderung diam di dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang terinfeksi; perdarahan pada bagian pangkal sirip ekor dan sirip punggung, dan pada perut bagian bawah terlihat buncit dan terjadi pembengkakan. Ikan sebelum mati naik ke permukaan air dengan sikap berenang yang labil (Rahmaningsih, 2012).
Menurut (Tanjung et al., 2011), tanda-tanda  sekunder  serangan bakteri A. hydrophila terlihat dengan tumbuhnya jamur berwarna putih pada bagian ujung sirip ikan dan pada bagian tubuh yang mengalami luka memar. Sekresi lendir tampak berlebihan menyeliputi tubuh ikan, dengan warna tubuh yang memucat. Nafsu makan berkurang mulai pada hari ke dua. Indikasi ikan mendapat serangan bakteri dari mata pucat umumnya tampak setelah hari ke lima, sedangkan kerusakan sisik dan tumbuhnya jamur sudah muncul mulai dari hari pertama. Warna tubuh pucat umumnya tampak setelah hari ke tiga.
Yogananth et al., (2009) menyatakan bahwa A. hydrophila merupakan mikroorganisme akuatik yang berada di perairan laut maupun perairan tawar, dalam kondisi stres bakteri tersebut menjadi patogen dan bersifat patogen oportunistik pada penyakit Hemoragi septicemia (penyakit bercak merah) pada ikan. Lukistyowati dan Kurniasih (2012) menyatakan bahwa bakteri A. hydrophila sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar dan seringkali menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi (80-100 %) dalam kurun waktu yang singkat (1-2 minggu). Yin et al., (2010) juga menambahkan bahwa infeksi bakteri A. hidrophila dapat menyebabkan kematian hingga 80%.
Satu alternatif yang dapat dilakukan guna mengatasi masalah penyakit adalah penggunaan rumput laut sebagai bahan antimikroba. Dengan demikian, perlu alternatif lain untuk mengganti antibiotik dengan bioaktif yang ramah lingkungan dan mudah terurai. Senyawa bioaktif yang mulai banyak dikaji yaitu rumput laut yang mengandung senyawa bioaktif sebagai antibakteri. Salah satu rumput laut yang banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah rumput laut jenis G. verrucosa.
Menurut Wiyanto (2010) adanya zona penghambatan pada ekstrak rumput laut terhadap bakteri A. hydrophila dan V. harveyii, mengindikasikan bahwa dalam ekstrak tersebut terdapat senyawa bioaktif yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba.

Senyawa bioaktif G. verrucosa
Menurut Siregar (2012) Zona hambatan yang terbentuk diduga karena sampel rumput laut tersebut memiliki kandungan senyawa bioaktif antibakteri, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri uji. Sedangkan tidak adanya zona hambatan terhadap bakteri uji diduga karena bakteri uji tersebut sensitif terhadap senyawa antibakteri yang terdapat dalam sampel rumput laut, sehingga tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada uji kualitatif ini, rumput laut Sargassum crassifolium membentuk zona hambatan terhadap ketiga bakteri uji, hal ini menunjukkan rumput laut ini memiliki senyawa bioaktif antibakteri. Menurut Winoto (1993) dalam Kusumaningrum et al. (2007), Sargassum yang diambil dari pantai Jepara mengandung senyawa bioaktif seperti triterpenoid, steroid dan fenolat dimana senyawa tersebut merupakan antimikroba
spektrum luas.
Menurut Choudhury, et al., (2005) dalam Wiyanto (2010) senyawa bioaktif dari algae banyak digunakan sebagai obat, salah satunya ekstrak algae laut dilaporkan mengandung antibakteri. Ekstrak metanol dari 56 rumput laut yang berasal kelas Chlorophyta (hijau), Phaeophyta (coklat) dan Rhodophyta (merah), dari ketiga kelas rumput laut tersebut yang mempunyai antibakteri paling tinggi terdapat pada kelas Phaeophyta.
Dalam penelitian dari Siregar., et al (2012) telah di uji senyawa bioaktif beberapa jenis rumput laut sebagai antibakteri, salah satunya adalah G. verrucosa.
Menurut Akiyama et al (2001) dalam Farida et al, (2010) keaktifan biologis dari senyawa alkaloid disebabkan karena adanya gugus basa yang mengandung nitrogen. Adanya gugus basa ini apabila mengalami kontak dengan bakteri akan bereaksi dengan senyawasenyawa asam amino yang menyusun dinding sel bakteri dan juga DNA bakteri yang merupakan penyusun utama inti sel yang merupakan pusat pengaturan segala kegiatan sel. Reaksi ini terjadi karena secara kimia suatu senyawa yang bersifat basa akan bereksi dengan senyawa asam dalam hal ini adalah asam amino karena sebagian besar asam amino telah beraksi dengan gugus basa dari senyawa alkaloid. Perubahan susunan asam amino ini jelas akan merubah keseimbangan genetik pada asam DNA sehingga DNA bakteri akan mengalami kerusakan . Kerusakan DNA pada inti sel bakteri akan mendorong terjadinya lisis pada inti sel, sehingga akan terjadi kerusakan sel. Kerusakan sel mengakibatkan sel-sel bakteri tidak mampu melakukan metabolisme sehingga akan mengalami lisis (hancur).
Sabir (2005) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa senyawa flavonoid memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri dengan beberapa mekanisme yang berbeda, antara lain flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding bakteri, mikrosom dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri, Mekanisme yang berbeda dikemukakan oleh Di Carlo et al., (1999) dan Estrela et al. (1995) dalam Sabir (2005) yang menyatakan bahwa gugus hidroksil yang terdapat pada struktur senyawa flavonoid menyebabkan perubahan komponen organik dan transpor nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik terhadap bakteri.
Ardiansyah (2007), menyatakan bahwa kemampuan antimikroba dalam memberikan penghambatan terhadap mikroorganisme yang merusak bahan pangan sangat tergantung pada konsentrasi dan kandungan senyawanya. Pada dasarnya mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya 1) Gangguan pada senyawa penyusun dinding sel; 2) Peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel; 3) Menginaktivasi enzim dan 4) Kerusakan fungsi material genetik.
Rachmaniar (1996) dalam Prajitno (2006) mengatakan bahwa beberapa jenis rumput laut dari perairan pantai Indonesia mempunyai aktivitas sebagai zat antibakteri, antara lain E. cottonii, E. spinosum, G. Verrucosa, G. conferviodes, Sargassum sp, H. opuntia yang menunjukkan aktivitas antibakteri patogen pada Staphylococcus aureus, Bacillubtilis, V. parahaemolyticus dan Vibrio harveyii. Hal ini dipertegas oleh Prayitno (2006) menyatakan bahwa Halimeda opuntia yang mempunyai kandungan fenol sebagai zat antibakteri lebih dari 50 % berat basah.
Menurut Prajitno, (2006) menyatakan bahwa pada E. cottonii, Gracilaria maupun H. opuntia pada konsentrasi 3 % mempunyai sifat bakteriostatik dan bakteriosidal terhadap bakteri Vibrio harveyii, pada ekstrak H. opuntia mengandung 52,25% fenolik (flavonoid). Hal ini dipertegas oleh Pelczar, et al (1988) menyatakan bahwa persenyawaan fenolik sebagai antibakteri menghambat pertumbuhan dan metabolisme bakteri dengan cara merusak membran sitoplasma dan mendenaturasi protein sel.
Senyawa fenol dapat berinteraksi dengan komponen dinding sel bakteri sehingga mengakibatkan permeabilitas pada sel bakteri dan dapat juga berdifusi kedalam sel sehingga mengakibatkan pertumbuhan bakteri terhambat atau mati, selain itu senyawa ini juga dapat menembus membran dan berinteraksi dengan material genetik sehingga bakteri mengalami mutasi (Trisnawati dan Susanto, 2003)

 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.       Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dan eksperimental untuk mengungkapkan pengaruh ekstrak rumput laut terhadap zona hambat dari bakteri A. hydrophila. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur analisis ragam (Analysis of Variance / ANOVA) derngan uji F pada taraf 5 % dan apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh perlakuan yang nyata akan dilanjutkan dengan uji Ganda Duncan.
.
B.        Populasi dan Sampel
            Bahan penelitian yang digunakan adalah G. verrucosa yang diperoleh dari eksportir rumput laut di Banyuwangi, dengan pengemasan menggunakan kantong plastik dan dimasukkan ke dalam styrofoam atau ice box, bakteri A. hydrophila berasal dari kulit ikan budidaya yang kemudian dilakukan isolasi di Laboratorium Mirobiologi FMIPA Universitas Negeri Malang.

C.       Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2014 selama 30 hari di Laboratorium Mikrobiologi, FMIP Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Bakteriologi Balai Karantina Ikan Juanda.

D.      Instrumen Penelitian
1.    Alat
Alat yang digunakan pada proses pengambilan data dari penelitian ini meliputi: rotary vacuum evaporator, GCMS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry GCMS-QP2010S SHIMADZU), pH meter, Autoclave, Micro pipette, Cawan petri, Tabung reaksi, Erlenmeyer, Jarum ose, Bunsen, Oven, Timbangan Analitik, blender, Inkubator, penyaring, kertas saring, Water pump filtrasi, Colony Counter, Pinset, Micro pipette, Cawan petri, Tabung reaksi, Erlenmeyer, Jarum ose, Bunsen, Water pump filtrasi,  Triangle.

2.    Bahan
Bahan yang digunakan simplisia rumput laut, aquades, A. hydrophila, tetrasiklin, KCl, susu, larutan gula dan NaCl. Media TSA (Tryptone Soy Agar) dan media TCBSA (Thiosulfat Citrate Bilesalt Sucrose Agar), NB (Nutrient Broth), Alumonium foil, Kertas cakram (paper disc), Metanol (99,8%), etil asetat (99,8%) dan n-hexane semuanya dengan grade PA.

E.       Prosedur
1.      Pengambilan Sampel
Rumput laut segar dicuci dan dibersihkan dari ephifit dan kotoran lain dengan menggunakan air bersih dan dikering anginkan
2.      Ekstraksi Sampel
Sampel rumput laut yang sudah kering dipotong-potong dengan ukuran ± 1 cm kemudian diblender dan dimaserasi dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1:1 selama 3x24 jam. Rumput laut yang sudah diblender selanjutnya direndam dalam 1 liter metanol (maserasi) selama 1x24 jam, dan disaring sehingga diperoleh filtrat 1. Residu yang diperoleh direndam dengan 1 liter metanol selama 1x24 jam, dan disaring sehingga diperoleh filtrat 2. Residunya direndam kembali dengan 1 liter metanol selama 1x24 jam, lalu disaring sehingga diperoleh filtrat 3. Ekstraksi secara maserasi dilakukan pada suhu kamar. Filtrat 1,2 dan 3 yang terkumpul kemudian di evaporasi dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 450C sampai tidak terjadi lagi pengembunan pelarut pada kondensor (menunjukkan semua pelarut telah menguap). Di oven selama ± 3 jam pada suhu 500C dengan tujuan menghilangkan pelarut yang masih terjebak dalam senyawa aktif (Iswani, 2007).
3.      Peremajaan Bakteri
Bakteri A. hydrophila yang berasal dari kulit ikan, masing-masing diambil sebanyak 1 ose kemudian ditumbuhkan atau diinokulasikan dengan cara digores pada medium Nutrient Agar (NA) miring. Kultur bakteri pada masing-masing agar miring diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam.
4.      Uji Cakram
Untuk mengetahui konsentrasi yang memberikan diameter daerah hambatan terbesar dilakukan uji cakram, yaitu pengujian antimikroba dengan mengukur diameter daerah hambatan yang terjadi disekitar kertas cakram yang sudah mengandung bahan antimikroba sesuai dengan konsentrasi perlakuan. Oleh karena itu dapat diketahui efektifitas atau pengaruh perlakuan terhadap diameter daerah hambatan bakteri A. hydrophila. Selain itu dilakukan pula uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration).
5.      Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) atau KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) dilakukan untuk mengetahui konsentrasi minimum ekstrak rumput laut yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila. Menurut Edberg (1983), MIC/KHM yaitu konsentrasi antibiotika terendah yang akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme mikroskopik.
Uji pendahuluan merupakan suatu langkah awal dalam penentuan dosis yang akan digunakan dalam Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration). Kisaran yang dipergunakan yaitu dari dosis 0%, 3,125%, 6,25%, 12.5%, 25%, 50%, dan 100%. Dari hasil uji pendahuluan, kemudian masing-masing konsentrasi yang didapatkan, dirapatkan range persentasenya untuk menentukan dosis yang akan digunakan pada uji MIC.
6.        Uji Kualitatif
Uji kualitatif dilakukan untuk menunjukkan ada atau tidaknya zat aktif antibakteri yang terkandung dalam rumput laut sebelum diekstrak. Uji kualitatif menggunakan rumput laut segar yang telah dicuci dengan air tawar, hal ini dilakukan untuk meminimalkan kandungan garam. Kemudian rumput laut ditumbuk kasar dengan menggunakan mortar steril. Proses penumbukan ini dilakukan agar senyawa aktif dalam rumput laut keluar. Rumput laut yang sudah ditumbuk diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah diolesi bakteri uji secara merata. Kemudian diinokulasikan selama 24 jam dalam suhu ruangan. Jika terdapat zona hambatan, berarti terdapat zat antibakteri pada rumput laut tersebut.
7.        Ekstraksi
Ekstraksi metabolit sekunder dilakukan dengan cara ekstraksi maserasi dengan pelarut n-hexane, etil asetat dan metanol. Prosedur ekstraksi mengacu pada Burgess et al., 2003 dalam Widiarto, 2011. Serbuk rumput laut direndam dalam pelarut n-hexane selama 24 jam. Setelah 24 jam filtrat dipisahkan dari ampasnya dengan cara penyaringan. Ampas hasil penyaringan dibebaskan dari pelarut dengan cara diangin-anginkan. Ampas yang telah bebas dari pelarut nhexane direndam dalam pelarut etil asetat selama 24 jam. Begitu selanjutnya sampai perendaman dengan menggunakan pelarut metanol. Filtrat yang diperoleh diuapkan dengan menggunakan vacum rotary evaporator pada suhu 400C.
8.        Uji Aktivitas Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri meliputi uji kontrol positif, negatif dan Uji Aktivitas Antibakteri Eksrak Rumput Laut. Uji kontrol positif dilakukan dengan menggunakan antibiotik Amphicilin. Uji kontrol negatif dilakukan dengan menggunakan ketiga pelarut yaitu; n-hexane, etil asetat, dan metanol terhadap bakteri uji. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh pelarut dalam pembentukan diameter zona hambatan. Metode yang digunakan pada uji ini adalah metode difusi agar menurut Kirby-Bauer. Pada lempengan (media) agar diinokulasi dengan bakteri uji. Paper disk steril berukuran 8 mm diletakkan diatas media agar kemudian ditetesi dengan ekstrak kasar sebanyak 10 μl (dari ekstrak senyawa non polar, semi polar dan polar) dengan konsentrasi ekstrak 200 μg/disk. Cawan petri dibungkus menggunakan plasticwrap dan disimpan di dalam inkubator pada suhu 37 0C selama 1-3 hari. Penghambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikrobial terlihat sebagai wilayah jernih sekitar kertas cakram. Luasnya wilayah jernih merupakan petunjuk kepekaan mikroorganisme terhadap bahan atau senyawa antimikrobial. Besarnya zona hambatan adalah diameter zona hambatan dikurangi 8 mm (diameter paper disk). Pengukuran diameter zona hambat dilakukan dengan menggunakan jangka sorong dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali (Lay, 1994 ; Trianto et al., 2004).
9.        Analisa Fitokimia
Identifikasi yang dilakukan adalah uji alkaloid, uji flavonoid, uji saponin, steroid, uji triterpenoid dan uji tanin.

Uji Alkaloid
Sejumlah sampel dilarutkan dalam 10 tetes asam sulfat 2N, kemudian diuji dengan pereaksi wagner. Hasil uji dinyatakan positif bila pereaksi wagner terdapat endapan coklat sampai kuning, untuk uji alkaloid dengan pereaksi marquis dinyatakan positif jika terbentuk warna ungu anggur, merah atau coklat. Pereaksi wagner dibuat dengan cara 10 ml aquades dipipet kemudian ditambahkan 2,5 gram iodine dan 2 gram kalium iodide lalu dilarutkan dan diencerkan dengan aquades menjadi 200 ml. Pereaksi ini berwarna coklat. Pereaksi marquis dibuat dengan cara 1 ml formalin 40% ditambah dengan 5 ml asam sulfat pekat (Mc Murry and Fay, 2004).

Uji Flavonoid
Sejumlah sampel ditambahkan air panas, dididihkan selama 5 menit, kemudian disaring. Filtrat ditambahkan sedikit serbuk magnesium dan 1 ml HCL pekat, kemudian dikocok kuat-kuat. Uji positif ditunjukkan oleh terbentuknya warna merah, kuning atau jingga (Sutisna, 2000).

Uji Saponin
Sejumlah sampel ditambah dengan air panas, kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan HCl pekat. Uji positif ditunjukkan dengan terbentuknya busa permanen ± 15 menit (Darwis, 2000).

Uji Steroid/Triterpenoid
Sejumlah sampel dilarutkan dalam 2 ml kloroform dalam tabung reaksi yang kering, lalu ditambahkan 10 tetes anhidra asetat dan 2 tetes H2SO4 pekat. Terbentuknya larutan berwarna jingga dan ungu untuk pertama kali menandakan adanya senyawa triterpenoid, kemudian berubah menjadi biru dan hijau menunjukkan reaksi positif mengandung senyawa steroid (Nohong, 2009).

Identifikasi Tanin
Ekstrak didihkan dengan 20 ml air lalu disaring. Ditambahkan beberapa tetes feriklorida 1% dan terbentuknya warna coklat kehijauan atau biru kehitaman menunjukkan adanya tanin (Edeoga et al., 2005).

F.       Teknik Analisa Data
Analisis GC-MS dilakukan terhadap hasil ekstrak yang positif menunjukkan daya antibakteri terhadap bakteri A. hydrophila. Analisis GC-MS dilakukan berdasarkan metode Putra (2007), Gas pembawa yang digunakan adalah helium dengan laju aliran diatur sebagai berikut. Suhu injektor 3200C, suhu awal oven 700C. Laju kenaikan suhu 100C/menit, dan suhu akhir oven 3100C. Identifikasi senyawa dilakukan dengan bantuan perangkat lunak PC. Parameter yang digunakan adalah parameter kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil pengukuran diameter daerah hambatan yang terlihat disekitar kertas cakram (mm), total bakteri setelah pemberian ekstrak, dosis penghambatan minimal (MIC) dan dosis terendah ekstrak yang mampu membunuh bakteri (MBC).
Analisa Data
Hasil penelitian dilaporkan sebagai nilai rata-rata dari 4 ulangan ± deviasi standar. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap respon parameter yang diukur, maka digunakan analisa keragaman atau uji F dan jika didapat hasil berbeda nyata atau berbeda sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% untuk mencari perbedaan antar perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA
Anggadireja, J.T, Zatnika, A., Purwoto H. & Istini. 2009. Rumput laut. Penebar Swadaya. Jakarta. 147.
Ardiansyah. 2007. Antimikroba dari Tumbuhan (Bagian Kedua). Berita Iptek Online. 4hal.http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-06-09-Antimikrobadari- Tumbuhan.
Asniatih. 2013. Studi Histopatologi pada Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophil. Jurnal minat laut, Vol 3, No 12
Bachtiar. 2012. PENGARUH EKSTRAK ALGA COKELAT (Sargassum sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli. Journal of Marine and Coastal Science, 1(1), 53 – 60, 2012
Choudhury, S. Sree, A. Mukherjee, S.C. Pattnaik, P. Bapuji. M. 2005. In Vitro Antibacterial Activity of Extracts of selected Marine Algae and mangroves Against Fish Pathogens. Journal Asian Fisheries Science. 18:185-294.
Dwyana, Zaraswati dan Johannes, Eva. UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KASAR ALGA MERAH Eucheuma cottonii SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI PATOGEN. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Iskandar, Yoppi. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Bacillus cereus. Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran
Iswani, S. 2007. Proses Preparsi Ekstrak Kasar (Crude Extract) Etanol dari Makroalga untuk Uji Farmakologi. Buletin Teknologi Akuakultur Vol. 6 No.1.
Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2011. Kelangsungan Hidup Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) dan di Infeksi Aeromonas hydrophila. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16,1 (2011) : 144-160.
Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2012. Pelacakan Gen Aerolysisn dari Aeromonas hidrophyla  pada Ikan Mas yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih. Jurnal Veteriner, Vol. 13 No. 1 : 43-50.
Mangunwardoyo, W., R. Ismayasari., E. Riani. 2010. Uji Patogenisitas dan Virulensi Aeromonas hydrophila Stanier pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Lin.) melalui Postulat Koch. J. Ris. Akuakultur Vol. 5 Tahun 2010: 245-255.
Mtolera and AK. Semeso. 1996. Antimicrobial Activity of Extracts from Six Green Algae from Tanzania. University of Dar es Salaam. Tanzamania.
Pelczar, M. J dan E.C.S. dan Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Alih Bahasa R.S. Hadioetomo, T. Imas, S.S. Tjitrosomo dan S.L. Angka. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 88 hal.
Prajitno, A. 2006. Pengendalian Penyakit Vibrio harveyii dengan Ekstrak Rumput laut (Halimeda opuntia) pada Udang Windu (Penaeus monodon Fab) PL- 13. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Putra, I.N. K. 2007. Study Daya Antimikroba Ekstrak Beberapa Bahan Tumbuhan Pengawet Nira Terhadap Mikroba Perusak Nira Serta Kandungan Senyawa Aktifnya. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.
Rahmaningsih, S. 2012. Penagruh Ekstrak Sidawayah dengan Konsentrasi yang Berbeda untuk Mengatasi Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla  pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan.
Ridlo, Ali dan Pramesti, Rini. 2009. Aplikasi Ekstrak Rumput Laut Sebagai Agen Imunostimulan Sistem Pertahanan Non Spesifik Pada Udang (Litopennaeus vannamei). ILMU KELAUTAN. September 2009. Vol. 14 (3): 133-137
Siregar, Angelina Ferawaty; Sabdono, Agus dan Pringgenies, Delianis. 2012. Potensi Antibakteri Ekstrak Rumput Laut Terhadap Bakteri Penyakit Kulit Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis, dan Micrococcus Luteus. Journal Of Marine Research. Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 152-160 (Online) di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jmr
Supriyadi, H. dan A. Rukyani. 1990. Immunopropilaksis dengan cara vaksinasi pada usaha budidaya ikan. Seminar Nasional Ke II, Penyakit Ikan dan Udang, Bogor. 16-18 Januari 1990.
Suptijah, P. 2002. Kumpulan Makalah Rumput Laut dan Terumbu Karang. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Taskin, E. Ozturk, M. Kurt, O. 2007. Antimicrobial Activities of Some Marine Algae from the Aegean Sea (Turkey). Departement of Biology, Faculty of Arts&Sciences, Celal Bayar University, Manisa, Turkey. JAfrican Journal of Biotechnology Vol.6 (24), pp 2746-2751.
Trisnawati, Y dan E. Susanto. 2003. Pengolahan Propolis Sebagai Bahan Pangan Fungsional Antimikroba Untuk Kesehatan masyarakat. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang. 8 hal.
Vitor J.M, Carvalho A.F.F.U, Freitas S.M, Melo V.M.M. 2002. Antibacterial Activity Of Extracts Of Six Macroalgae From The Northeastern Brazilian Coast. Departamento de Microbiologia, Instituto de Ciencias Biologicas, Universidade Federal de Minas Gerais, Belo Horizonte;Departamento de Biologia, Universidade Federal do Ceara, Fortaleza, CE, Brasil.
Wiyanto. 2010. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DAN Eucheuma denticullatum TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila DAN Vibrio harveyii. Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1
Yunus. 2009. DAYA HAMBAT EKSTRAK METANOL RUMPUT LAUT (Euchema spinosum) TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophil. Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.2


Share:

1 komentar:

  1. Kok judul penelitiannya sm seperti punya ku yaaa..
    Waaah plagiat nih..

    BalasHapus