Jumat, 23 Mei 2014

PENGARUH PAJANAN UAP BELERANG DAN KEBERSIHAN MULUT PENAMBANG GUNUNG IJEN, KABUPATEN BANYUWANGI TERHADAP KEJADIAN RADANG GUSI (GINGIVITIS)

tugas kesehatan lingkungan, sebelumnya di ambil dari beberapa sumber dari mahasiswa Universitas Diponegoro

PENGARUH PAJANAN UAP BELERANG DAN KEBERSIHAN MULUT PENAMBANG GUNUNG IJEN, KABUPATEN BANYUWANGI TERHADAP KEJADIAN RADANG GUSI (GINGIVITIS)

Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Kesehatan Lingkungan
yang Dibina Oleh Bapak Dr. Sueb, M.Kes



Oleh :

Nikmatur Rizka           (110342404671)
Off G-E/2011



 




The Learning University






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Mei 2014


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan peningkatan sumber daya manusia, kualitas hidup, peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Kesehatan yang baik adalah modal utama bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi tenaga kerja. Kesehatan yang baik juga akan membuat para pekerja dapat bekerja lebih kreatif dan juga kesehatan berpengaruh terhadap hasil karya seorang pekerja, maka apabila suatu perusahaan mengharapkan hasil karya/produksi yang bermutu tinggi, maka seharusnyalah perusahaan tersebut mengusahakan cara untuk menciptakan suatu angkatan kerja yang sebaik mungkin (Pandiangan, 1996).
Di Indonesia masalah kesehatan gigi dan mulut, khususnya jaringan periodontal belum merupakan prioritas utama. Hal ini tentu berimbas pada tingginya kejadian salah satu bentuk patologis periodontal yang paling umum yaitu gingivitis.
Gingivitis merupakan perubahan patologis yang disertai adanya tanda inflamasi. Gingivitis dapat kita kenal dengan istilah gusi bengkak atau gusi yang meradang. Miroorganisme mampu menghasilkan produk berbahaya yang dapat menyebabkan kerusakan pada epitel dan sel jaringan penghubung (conective tissue) seperti halnya unsur pokok interseluler yaitu kolagen, faktor pertumbuhan dan glikolis. Hasil pelebaran dari sel junctional epitelium pada awal terjadinya gingivitis merupakan tempat masuknya agen yang berbahaya yang berasal dari bakteri atau bakteri itu sendiri akan menyebar ke jaringan penghubung (Wikipedia, 2013).
Penyebab utama gingivitis adalah bakteri plak. Namun bakteri saja tidak cukup, respon inang juga memegang peranan penting dalam timbulnya gejala penyakit. Keseimbangan keadaan bakteri dan inang menentukan status kesehatan gingiva. Keseimbangan ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi rongga mulut adalah pajanan senyawa kimia.
Kontak dengan senyawa kimia tersebut dapat terjadi melalui inhalasi, konsumsi substansi, atau kontak langsung pada mata, kulit, mulut dan anggota tubuh lainnya. Salah satu senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan adalah belerang. Belerang atau sulfur adalah suatu elemen kimia dengan simbol S dan nomor atom 16.8 Bentuk belerang adalah non logam multivalensi yang tak berasa dan tak berbau. Keberadaan belerang di alam dapat berupa elemen murni atau bersenyawa dengan elemen lain. Dua per tiga dari jumlah belerang di atmosfer berasal dari berbagai sumber alam, seperti letusan gunung berapi dan sebagian besar terdapat dalam bentuk H2S dan oksida (Anitasari, 2012).
Senyawa belerang tidak selalu berbahaya bagi kesehatan. Faktor yang menentukan apakah senyawa tersebut berbahaya bagi tubuh antara lain, dosis, lama pajanan dan cara kontak. Umur, jenis, kelamin, diet, genetika, gaya hidup dan tingkat kesehatan perlu juga untuk dipertimbangkan. Para pekerja tambang belerang sangat berpotensi untuk terpajan uap belerang melalui inhalasi, mouth breathing dan kontak secara langsung. Inhalasi uap belerang dapat menyebabkan iritasi pada mukosa hidung dan paru-paru. Pada kasus yang berat dapat terjadi oedema pulmo. Mouth breathing dapat menyebabkan erosi gigi dan kerusakan jaringan periodonsium. Pajanan langsung pada kulit dapat menyebabkan eritema, iritasi dan rasa terbakar. Sedangkan pada mata menyebabkan mata menjadi pedih dan berair.
Gunung Ijen merupakan salah satu gunung yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga sekitar yang bermukim di daerah Licis kabupaten Banyuwangi, hal ini berkenaan dengan adanya kawah ijen yang mengeluarkan belerang. Warga sekitar memanfaatkan belerang ini untuk dijual kepada para pengepul yang selanjutnya akan dibuat kerajinan.
            Dari penjelasan di atas maka, perlu adanya pengamatan mengenai pengaruh pajanan uap belerang dan kebersihan mulut penambang gunung ijen, kabupaten banyuwangi terhadap kejadian radang gusi (gingivitis).

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun rumusan masalah dari penelitian ini yaitu, adakah pengaruh pajanan uap belerang dan kebersihan mulut terhadap kejadian radang gusi (gingivitis)?
1.3    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pajanan uap belerang dan kebersihan mulut terhadap kejadian radang gusi (gingivitis).
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit infeksi yang menyerang jaringan pendukung gigi merupakan penyakit serius, apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi, hal ini akan berdampak pada fungsi pengunyahan dan penampilan seseorang. Salah satu infeksi jaringan pendukung gigi berupa gingivitis.

2.1 Radang Gusi (Gingivitis)
Gingivitis merupakan suatu kelainan pada jaringan periodontal yang sering ditemukan pada masyarakat umum. Penderita tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai suatu kelainan pada gingivanya, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut serta belum pernah dilaporkan kasus kematian akibat kelainan gingivitis.
Penyakit pada jaringan periodontal yang diderita manusia hampir di seluruh dunia dan mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Menurut hasil survai kesehatan gigi dan mulut di Jatim tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459 orang di antara 1000 penduduk, di Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas penyakit periodontal terlihat lebih tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia. Di Indonesia penyakit periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih merupakan masalah di masyarakat (Wahyukundari, 2008).
Gingivitis adalah peradangan gingiva, menyebabkan perdarahan disertai pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan kontur normal , gingivitis sering terjadi dan bisa timbul kapan saja setelah timbulnya gigi, gingiva tampak merah. Peradangan pada gusi dapat terjadi pada satu atau 2 gigi, tetapi juga dapat terjadi pada seluruh gigi. Gingiva menjadi mudah berdarah karena rangsangan yang kecil seperti saat menyikat gigi, atau bahkan tanpa rangsangan, pendarahan pada gusi dapat terjadi kapan saja (Ubertalli, 2008).
Penumpukan bakteri plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis, bila tidak terawat bisa berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi kerusakan jaringan periodontal berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar (Wahyukundari, 2008).

2.2 Belerang
Menurut Pirtcard (2007) senyawa belerang dapat berperan sebagai polutan lingkungan. Belerang berbentuk nirmetal, tak berasa, tak berbau dan multivalen. Belerang dalam bentuk aslinya berupa zat padat kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral sulfit dan sulfat. Inhalasi uap belerang dapat menyebabkan iritasi pada mukosa hidung dan paru-paru. Pada kasus yang berat dapat terjadi oedema pulmo. Mouth breathing dapat menyebabkan erosi gigi dan kerusakan jaringan periodonsium.
Faktor yang menentukan apakah senyawa tersebut berbahaya bagi tubuh antara lain dosis (seberapa banyak), lama pajanan (seberapa lama) dan cara kontak. Perlu juga dipertimbangkan adanya pajanan zat kimia lain, usia, jenis kelamin, diet, genetik, gaya hidup dan tingkat kesehatan (Pirtcard, 2007)

2.3 Hubungan antara lama pajanan uap belerang dengan kejadian gingivitis
Menurut beberapa hasil penelitian tentang kesehatan lingkungan kerja, uap asam anorganik menyebabkan kerusakan jaringan periodontal gigi. Diungkapkan pada penelitian Tuominen (1999), para pekerja pabrik baterai dan pabrik seng yang bekerja di bagian dengan risiko terpajan uap asam mempunyai prevalensi poket periodontal lebih tinggi daripada pekerja pada bagian yang terbebas dari uap asam (Mustaqimah, 2002)
Di samping itu penggunaan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan, pelindung telinga relatif belum memasyarakat. Pada penambang belerang yang secara kontinyu terpajan oleh senyawa belerang tanpa penggunaan pelindung yang memadai atau cara pemakaian pelindung yang salah tentu besar kemungkinan mengalami gangguan jaringan mulut.



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1    Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kasus-kontrol. Ruang lingkup penelitian ini mencakup masalah udara dan kesehatan gigi.
Variabel bebas             : Pajanan uap belerang dan kebersihan mulut
Variabel terikat           : Kejadian radang gusi (gingivitis).

Tabel 3.1 Jabaran variabel, indikator, item pernyataan dan sumber
No
Variabel
Indikator
Item pernyataan
Sumber/alat pengambil data
1.
Pajanan uap belerang dan kebersihan mulut
1)   Lama pajanan
2)   Bersih atau tidaknya gigi
-
Jam, untuk menghitung lama pekerja tambang terkena pajanan uap
2.
Kejadian gingivitis
1)   Inflamasi pada gusi
2)   Adanya plak pada gigi
3)   Terjadinya eritem dan oedema
-
Pemerikasaan langsung dengan menggunakan alat medis

3.2    Populasi dan Sampel
            Populasi penelitian diambil berdasarkan warga yang bekerja sebagai penambang belerang di Gunung Ijen Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur sebagai subyek kasus. Subjek penelitian diambil 15 orang yang ditetapkan sebagai berikut: 1) Laki-laki usia 20-50 tahun, 2) bekerja sebagai penambang belerang di Gunung Ijen, 3) tidak menggunakan protesa gigi, 4) tidak menggunakan pelindung gigi. Sedangkan kelompok kontrol diambil dari warga sekitar yang tidak bekerja sebagai penambang belerang sejumlah 15 orang. Pengambilan populasi dan sampel ini dilakukan oleh dinas kesehatan Puskesmas Licis, Kab. Banyuwangi.

3.3    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2014 selama 3 hari di wilayah pertambangan belerang, Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

3.4    Instrumen Penelitian
Instrumen dari penelitian ini berupa alat medis untuk mengecek adanya gingivitis pada para penambang, alat tulis untuk menulis data yang diperoleh, kamera untuk memfoto keadaan gigi para penambang.

3.5    Teknik Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan oleh dinas kesehatan setempat, yang dilakukan saat para penambang melalukan penimbangan belerang. Data yang dikumpulkan merupakan data dari pemeriksaan langsung subjek penelitian oleh ahli medis setempat yang sebelumnya telah mendapatkan pengarahan dari peneliti untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan penilaian terhadap kondisi kesehatan mulut penambang. Data yang dikumpulkan meliputi: 1) lama pajanan uap belerang dinilai berdasarkan lama kerja penambang, dibagi dalam tiga kelompok lama pajanan uap belerang yaitu: kelompok 20-29 tahun, kelompok 30-39 tahun dan kelompok lebih dari 40 tahun. 2) Pengukuran indeks gingiva responden yang kemudian dikode sesuai dengan Indeks Gingiva dari Loe and Sillness, yaitu : nilai 0 (gingiva normal), nilai 1 (inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit udem, tidak ada perdarahan waktu penyondean), nilai 2 (inflamasi sedang, kemerahan, udem, mengkilat, berdarah saat penyondean), nilai 3 (inflamasi parah, kemerahan yang nyata, udem, ulserasi, kecenderungan perdarahan spontan) (Syed, 1978).
Data yang dikumpulkan meliputi hasil pengukuran indeks gingiva responden yang kemudian dikode sesuai dengan Indeks Gingiva dari Loe and Sillness, yaitu : nilai 0 (gingiva normal), nilai 1 (inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit udem, tidak ada perdarahan waktu penyondean), nilai 2 (inflamasi sedang, kemerahan, oedema, mengkilat, berdarah saat penyondean), nilai 3 (inflamasi parah, kemerahan yang nyata, oedema, ulserasi, kecenderungan perdarahan spontan).

3.6    Teknik Analisa Data
Teknik analisa data menggunakan indeks kebersihan mulut yang dinilai sesuai dengan Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) Greene and Vermillion. Indeks debris yang dipakai adalah Debris Index (D.I) Greene and Vermillion dengan kriteria sebagai berikut: nilai 0 (tidak ada debris lunak) , nilai 1 (terdapat selapis debris lunak menutupi tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi), nilai 2 (terdapat selapis debris lunak menutupi lebih dari 1/3 permukaan gigi tetapi tidak lebih dari 2/3 permukaan gigi); nilai 3 (terdapat selapis debris lunak menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi) (Ainamo, 1997).
Sedangkan Indeks kalkulus yang digunakan adalah Calculus Index (C.I.) Greene and Vermillion yaitu : nilai 0 (tidak ada kalkulus), nilai 1 (kalkulus supragingiva menutupi tidak lebih dari ⅓ permukaan gigi), nilai 2 (kalkulus supragingiva menutupi lebih dari ⅓ permukaan gigi tetapi tidak lebih dari ⅔ permukaan gigi atau kalkulus subgingival berupa bercak hitam di sekitar leher gigi atau terdapat keduanya), nilai 3 (kalkulus supragingiva menutupi lebih dari ⅔ permukaan gigi atau kalkulus subgingiva merupakan cincin hitam di sekitar leher gigi atau terdapat keduanya) (Moore., et al, 1982).
Gigi yang diperiksa adalah permukaan bukal gigi tetap molar 1 kanan atas, insisivus 1 kiri atas, molar 1 kiri atas, insisivus 1 kanan bawah, permukaan lingual gigi tetap molar 1 kanan bawah dan molar 1 kiri bawah. Data yang didapatkan kemudian dikelompokkan menjadi kebersihan mulut baik (indeks kebersihan mulut 0,0 – 1,2) dan kebersihan mulut sedang-buruk (indeks kebersihan mulut 1,3 - 6,0). Skoring dilakukan oleh mahasiswa yang telah diberi pelatihan sebelumnya (Anitasari, 2012).
Pengolahan data dilakukan dengan cara menyunting, mengelompokkan dan tabulasi secara manual kemudian data dianalisis dengan uji hipotesis Chi-Square. Analisis data menggunakan fasilitas SPSS release 15.0 for windows.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Indeks Gingiva dan Indeks Kebersihan Mulut pada Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol
Kebersihan mulut
Gingivitis
Kasus
Kontrol
Sedang - buruk
Sedang-berat
6 orang (39,6%)
3 orang (19,8%)
Normal-ringan
3 orang (19,8%)
7 orang (46,2%)
Bersih
Sedang-berat
4 orang (26,4%)
4 orang (26,4%)
Normal-ringan
2 orang (13,2%)
1 orang (6,6%)
Tabel di atas memaparkan indeks kebersihan mulut dari sampel, perhitungan presentase diperoleh dari perhitungan Calculus index. Dari data di atas diketahui bahwa jumlah kelompok kasus kebersihan mulut dari sedang-buruk memiliki prosentase yang tinggi yaitu sebesar 59,4% dibandingkan dengan kebersihan mulut yang bersih yaitu sebesar 39,6%. Untuk kelompok kontrol diperoleh prosentase sebesar 66% pada kebersihan mulut sedang-buruk, sedangkan untuk yang bersih diperoleh prosentase sebesar 33%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok kasus maupun kontrol didominasi oleh mulut yang kurang bersih.

Tabel 4.2. Distribusi Usia dan Indeks Gingiva pada Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol
Usia
Gingivitis
Kasus
Kontrol
20-29
Sedang-berat
1 orang (6,7%)
0 orang (0%)
Normal-ringan
2 orang (13,4%)
4 orang (26,8%)
30-39
Sedang-berat
5 orang (33,5%)
4 orang (26,8%)
Normal-ringan
2 orang (13,4)
3 orang (20,1%)
40-50
Sedang-berat
3 orang (20,1%)
3 orang (20,1%)
Normal-ringan
2 orang (13,4%)
1 orang (6,7%)
Tabel di atas memaparkan distribusi usia dan indeks gingiva, dari data diketahui bahwa pada usia 30-39 mengalami kejadian gingivitis lebih tinggi dari pada kelompok usia lainnya, hal ini mungkin terjadi dikarenakan pada usia tersebut merupakan usia produktif untuk bekerja sehingga di mungkinkan terjadi gingivitis pada warga maupun pekerja tambang belerang yang menghabiskan waktu disekitar area belerang.

Tabel 4.3. Analisis Uji Chi-square
Perbandingan untuk semua perlakuan adalah 1:1 sehingga diperoleh:
Fh =  x 30 = 7,5
Perlakuan
fo
fh
Sedang - Buruk
Sedang-berat
9
7,5
1,5
2,25
0,3
Normal-ringan
10
7,5
2,5
6,25
0,833333
Bersih
Sedang-berat
8
7,5
0,5
0,25
0,033333
Normal-ringan
3
7,5
-4,5
20,25
2,7
Σ
30
30
0
29
3,866667

 tabel        db = Σ perlakuan – 1
                           = 4-1                                                      
                           = 3
            hitung (3,866667) >  tabel 0,05 (7,815), hipotesis penelitian diterima
Dari hasil uji Chi-Square diketahui bahwa ada pengaruh antara kebersihan mulut dengan kejadian gingivitis.

4.2 Pembahasan
Dari hasil penelitian diatas, ditemukan bahwa subjek yang terpapar uap belerang mengalami kejadian gingivitis yang lebih berat dibandingkan dengan subjek yang tidak terpapar. Menurut pengamatan terhadap pekerja tambang belerang di Gunung Ijen, mereka hanya menggunakan kain seadanya untuk menutup hidung selama bekerja menambang belerang. Hal ini dapat memungkinkan uap belerang masuk ke dalam rongga mulut.
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas SO2 dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan uap air yang ada diudara untuk membentuk asam sulfat atau H2SO4. Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya (Saputra, 2009).
SOx mempunyai ciri bau yang tajam, bersifat korosif (penyebab karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai kestabilan phasa gasnya. Sox menimbulkan gangguan sitem pernafasan, jika kadar 400-500 ppm akan sangat berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm menimbulkan bau (Saputra, 2009).
Sel fibroblast gingiva yang terkena senyawa belerang berbentuk uap akan meningkatkan produksi Prostaglandin E2 (PGE2) dan prokolagenase, sehingga terjadi penurunan kandungan kolagen tipe I dan III di dalam sel-sel ligamentum periodontal. Keadaan ini akan menstimuli produksi Interleukin 1 (IL1) oleh sel monosit, dan menekan respon kemotaktik neutrofil dan kapasitas mikrobisidal neutrofil. Secara klinis pada gingiva tampak eritem dan udem (Mustaqimah, 2002). Menurut Kentjana (1993) eritema dan udem adalah beberapa tanda terjadinya gingivitis. Tanda lain yang dapat diamati yaitu gingiva mudah berdarah walaupun dengan sentuhan ringan. Tanda-tanda ini banyak ditemukan pada pekerja tambang belerang di Gunung Ijen.
Menurut Mustaqimah (2002) hasil ini sesuai dengan penelitian Tuominen yang menyebutkan bahwa uap asam sulfat di lingkungan kerja dapat menyebabkan peningkatan prevalensi poket periodontal. Laporan dari hasil penelitian Vianna dkk (2008) juga menyatakan bahwa pajanan uap asam sulfat berhubungan dengan kejadian penyakit periodontal. Pada penelitiannya terhadap 530 pekerja pabrik pengolahan metal di Brazil yang terpajan uap asam sulfat didapatkan peningkatan kejadian poket periodontal.
Hasil analisis faktor perancu kebersihan mulut ditemukan tidak terdapat hubungan bermakna antara kebersihan mulut dan kejadian gingivitis. Hasil ini ternyata tidak mendukung teori yang menyatakan bahwa kebersihan mulut merupakan salah satu faktor risiko gingivitis. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sampel menyikat gigi mereka secara teratur sehingga kebersihan mulutnya relatif baik. Faktor lain yang mungkin berpengaruh pada kebersihan mulut antara lain adalah jenis makanan. Sampel bertempat tinggal di daerah gunung yang konsumsinya setiap hari adalah sayuran. Sayuran sebagai makanan berserat, keras dan kasar dapat menghalangi deposit sisa makanan karena mempunyai efek membersihkan mulut. Selain itu banyaknya variasi faktor yang berpengaruh pada kebersihan mulut seperti komposisi saliva dan laju kecepatan aliran saliva juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan kebersihan mulut (Mandel, 1988).




BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis statistik melalui perhitungan uji Chi-Square dapat disimpulkan bahwa pajanan uap belerang dan kebersihan mulut berpengaruh terhadap resiko gingivitis. Dari data juga diketahui bahwa penderita gingivitis lebih banyak terjadi pada warga yang bekerja sebagai penambang belerang dibandingkan warga yang bukan penambang belerang.

5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan faktor-faktor perancu lain yang dapat menyebabkan gingivitis seperti faktor nutrisional, obat-obatan, dan penyakit. Perlu diperhatikan penggunaan cara pemeriksaan indeks gingiva dan indeks kebersihan mulut yang lebih baik dan objektif. Metode interview akan lebih baik jika diganti dengan pengamatan langsung terhadap sampel. Perlu diadakan penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan dari puskesmas setempat.



DAFTAR PUSTAKA

Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). Toxicological profile for sulphur trioxide and sulphuric acid. (Online) URL:http://www.atsdr.cdc.gov diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Ainamo, J. 1997. Problems and proposals for recording gingivitis and plaque. Journal infect dental 25(4) : 229-35. (Online) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1058834 diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Anitasari, Sylvi. 2012. Hubungan Antara Lama Paparan Uap Belerang Dengan Derajat Keparahan Gingivitis. Universitas Diponegoro
Chou SJ. 2003. Hydrogen sulfide: human health aspect. URL:http://www.inchem.org. diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Gabriel JF. 2001. Fisika lingkungan. Jakarta: Hipokrates (Online) URL:http//id.wikipedia.org. diakses pada tanggal 25 maret 2014
Geokimia Ijen. (Online) URL:http://wwwvsi.esdm.go.id. diakses pada tanggal 2 April 2014
Houwink B, Dirks OB, Cramwinckle AB, Crielaers PJA, Dermaut LR, Eijkman MAJ, et al. Ilmu kedokteran gigi pencegahan. Yogyakarta: Gadjahmada University Press; 1993. p. 160.
Kristanto P. 2002. Ekologi industri. Yogyakarta: ANDI
Mandel, Irwin D. 1988. Chemotherapeutic agents for controlling plaque and gingivitis. Journal of Clinical Periodontology. 15(8) : 488–498, Article first published online: 14 DEC 2005 (Online) http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1600-051X.1988.tb01020.x/pdf
Moore, W.E., Holdeman, L.V., Smibert, R.M., Good, I.J., Burmeister, J.A., Palcanis, K.G., Ranney, R.R. 1982. Bacteriology of Experimental Gingivitis in Young Adult Humans. Journal Infect and Immun. 1982, 38(2) :  651
Mustaqimah DN. 2002. Infeksi dalam bidang periodonsia. JKGUI 2002:14.
Mustaqimah DN. 2002. Masalah nyeri pada kasus penyakit periodontal dan cara mengatasinya. JKGUI 2002;9(2):15.
Mustaqimah DN. 2002. Zat kimia berbentuk uap yang dapat mengawali pengrusakan jaringan peridonsium. JKGUI 2002;9(2):38-9.
Pandingan. 1996. Kesehatan Masyarakat. E-book
Pritcard JD. 2007. Sulphuric acid: health effects of chronic/repeated exposure (human). (Online) URL:http://www.hpa.org.uk diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Stephen J. 2003. Gingivitis. (Online) http://www.emedicinehealth.com diakses pada tanggal 27 Maret 2014
Sudibyo. 2001. Hubungan lingkungan pengrajin perak terhadap timbulnya penyakit periodontal. Majalah Ilmu Kesehatan Gigi Indonesia 2001 Oct; Vol III(6):96-8.
Syed, S.A. 1978. Bacteriology of Human Experimental Gingivitis. Journal Infect and Immun. 21(3) : 821
Ubertalli, J.T. 2008. Gingivitis, Available at (online): http://www.merck.com/mmpe/sec08/ch095c.htm diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Wahyukundari, M.H. 2008. Perbedaan Kadar Matix Metalloproteinase-8 Setelah Scaling dan Pemberian Tetrasiklin pada Penderita Periodontitis Kronis. Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya-Indonesia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar