tugas kesehatan lingkungan, sebelumnya di ambil dari beberapa sumber dari mahasiswa Universitas Diponegoro
PENGARUH
PAJANAN UAP BELERANG DAN KEBERSIHAN MULUT PENAMBANG GUNUNG IJEN, KABUPATEN
BANYUWANGI TERHADAP KEJADIAN RADANG GUSI (GINGIVITIS)
Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Kesehatan
Lingkungan
yang Dibina Oleh Bapak
Dr. Sueb, M.Kes
Oleh :
Nikmatur Rizka (110342404671)
Off G-E/2011
The Learning University
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN
BIOLOGI
Mei
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
agar terwujud derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
peningkatan sumber daya manusia, kualitas hidup, peningkatan kesejahteraan
keluarga dan masyarakat serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya
hidup sehat. Kesehatan yang baik adalah modal utama bagi setiap orang, tidak
terkecuali bagi tenaga kerja. Kesehatan yang baik juga akan membuat para
pekerja dapat bekerja lebih kreatif dan juga kesehatan berpengaruh terhadap
hasil karya seorang pekerja, maka apabila suatu perusahaan mengharapkan hasil
karya/produksi yang bermutu tinggi, maka seharusnyalah perusahaan tersebut
mengusahakan cara untuk menciptakan suatu angkatan kerja yang sebaik mungkin (Pandiangan,
1996).
Di Indonesia
masalah kesehatan gigi dan mulut, khususnya jaringan periodontal belum
merupakan prioritas utama. Hal ini tentu berimbas pada tingginya kejadian salah
satu bentuk patologis periodontal yang paling umum yaitu gingivitis.
Gingivitis
merupakan perubahan patologis yang disertai adanya tanda inflamasi. Gingivitis
dapat kita kenal dengan istilah gusi bengkak atau gusi yang meradang.
Miroorganisme mampu menghasilkan produk berbahaya yang dapat menyebabkan
kerusakan pada epitel dan sel jaringan penghubung (conective tissue) seperti halnya unsur pokok interseluler
yaitu kolagen, faktor pertumbuhan dan glikolis. Hasil pelebaran dari sel junctional epitelium
pada awal terjadinya gingivitis merupakan tempat masuknya agen yang berbahaya
yang berasal dari bakteri atau bakteri itu sendiri akan menyebar ke jaringan
penghubung (Wikipedia, 2013).
Penyebab
utama gingivitis adalah bakteri plak. Namun bakteri saja tidak cukup, respon
inang juga memegang peranan penting dalam timbulnya gejala penyakit.
Keseimbangan keadaan bakteri dan inang menentukan status kesehatan gingiva.
Keseimbangan ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor
lingkungan yang dapat mempengaruhi rongga mulut adalah pajanan senyawa kimia.
Kontak
dengan senyawa kimia tersebut dapat terjadi melalui inhalasi, konsumsi substansi,
atau kontak langsung pada mata, kulit, mulut dan anggota tubuh lainnya. Salah
satu senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan adalah belerang. Belerang atau
sulfur adalah suatu elemen kimia dengan simbol S dan nomor atom 16.8 Bentuk
belerang adalah non logam multivalensi yang tak berasa dan tak berbau. Keberadaan
belerang di alam dapat berupa elemen murni atau bersenyawa dengan elemen lain.
Dua per tiga dari jumlah belerang di atmosfer berasal dari berbagai sumber alam,
seperti letusan gunung berapi dan sebagian besar
terdapat dalam bentuk H2S dan oksida (Anitasari,
2012).
Senyawa
belerang tidak selalu berbahaya bagi kesehatan. Faktor yang menentukan apakah
senyawa tersebut berbahaya bagi tubuh antara lain, dosis, lama pajanan dan cara kontak. Umur, jenis, kelamin, diet,
genetika, gaya hidup dan tingkat kesehatan perlu juga untuk dipertimbangkan. Para
pekerja tambang belerang sangat berpotensi untuk terpajan
uap belerang melalui inhalasi, mouth breathing dan kontak secara
langsung. Inhalasi uap belerang dapat menyebabkan iritasi pada mukosa hidung
dan paru-paru. Pada kasus yang berat dapat terjadi oedema
pulmo. Mouth breathing dapat menyebabkan erosi gigi dan kerusakan
jaringan periodonsium. Pajanan langsung pada
kulit dapat menyebabkan eritema, iritasi dan rasa terbakar. Sedangkan pada mata
menyebabkan mata menjadi pedih dan berair.
Gunung Ijen merupakan salah satu gunung yang menjadi mata
pencaharian sebagian besar warga sekitar yang bermukim di daerah Licis
kabupaten Banyuwangi, hal ini berkenaan dengan adanya kawah ijen yang
mengeluarkan belerang. Warga sekitar memanfaatkan belerang ini untuk dijual
kepada para pengepul yang selanjutnya akan dibuat kerajinan.
Dari
penjelasan di atas maka, perlu adanya pengamatan mengenai pengaruh pajanan uap belerang dan kebersihan mulut
penambang gunung ijen, kabupaten banyuwangi terhadap kejadian radang gusi
(gingivitis).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas adapun
rumusan masalah dari penelitian ini yaitu, adakah pengaruh pajanan uap
belerang dan kebersihan mulut terhadap kejadian radang gusi (gingivitis)?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh pajanan
uap belerang dan kebersihan mulut terhadap kejadian radang gusi (gingivitis).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit
infeksi yang menyerang jaringan pendukung gigi merupakan penyakit serius,
apabila tidak dilakukan perawatan yang tepat dapat mengakibatkan kehilangan
gigi, hal ini akan berdampak pada fungsi pengunyahan dan penampilan seseorang.
Salah satu infeksi jaringan pendukung gigi berupa
gingivitis.
2.1 Radang Gusi (Gingivitis)
Gingivitis
merupakan suatu kelainan pada
jaringan periodontal yang sering ditemukan pada masyarakat umum. Penderita
tidak menyadari bahwa dirinya mempunyai suatu kelainan pada gingivanya,
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut serta
belum pernah dilaporkan kasus kematian akibat kelainan gingivitis.
Penyakit
pada jaringan periodontal yang diderita manusia hampir di seluruh dunia dan
mencapai 50% dari jumlah populasi dewasa. Menurut hasil survai kesehatan gigi
dan mulut di Jatim tahun 1995, penyakit periodontal terjadi pada 459 orang di antara
1000 penduduk, di Asia dan Afrika prevalensi dan intensitas penyakit
periodontal terlihat lebih tinggi daripada di Eropa, Amerika dan Australia. Di
Indonesia penyakit periodontal menduduki urutan ke dua utama yang masih
merupakan masalah di masyarakat (Wahyukundari, 2008).
Gingivitis adalah peradangan gingiva,
menyebabkan perdarahan disertai pembengkakan, kemerahan, eksudat, perubahan
kontur normal , gingivitis sering
terjadi dan bisa timbul kapan saja setelah timbulnya gigi, gingiva tampak merah. Peradangan pada
gusi dapat terjadi pada satu atau 2 gigi, tetapi juga dapat terjadi pada
seluruh gigi. Gingiva menjadi mudah berdarah karena rangsangan yang
kecil seperti saat menyikat gigi, atau bahkan tanpa rangsangan, pendarahan pada
gusi dapat terjadi kapan saja (Ubertalli, 2008).
Penumpukan
bakteri plak pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal.
Penyakit periodontal dimulai dari gingivitis,
bila tidak terawat bisa berkembang menjadi periodontitis dimana terjadi
kerusakan jaringan periodontal
berupa kerusakan fiber, ligamen periodontal dan tulang alveolar
(Wahyukundari, 2008).
2.2 Belerang
Menurut
Pirtcard (2007) senyawa belerang dapat berperan sebagai polutan lingkungan.
Belerang berbentuk nirmetal, tak berasa, tak berbau
dan multivalen. Belerang dalam bentuk aslinya berupa zat padat kristalin
kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai
mineral sulfit dan sulfat. Inhalasi uap belerang dapat menyebabkan iritasi pada
mukosa hidung dan paru-paru. Pada kasus yang berat dapat terjadi oedema pulmo. Mouth breathing dapat menyebabkan
erosi gigi dan kerusakan jaringan periodonsium.
Faktor
yang menentukan apakah senyawa tersebut berbahaya bagi tubuh antara lain dosis
(seberapa banyak), lama pajanan (seberapa lama)
dan cara kontak. Perlu juga dipertimbangkan adanya pajanan
zat kimia lain, usia, jenis kelamin, diet, genetik, gaya hidup dan tingkat
kesehatan (Pirtcard, 2007)
2.3 Hubungan antara lama pajanan uap
belerang dengan kejadian gingivitis
Menurut
beberapa hasil penelitian tentang kesehatan lingkungan kerja, uap asam
anorganik menyebabkan kerusakan jaringan periodontal gigi. Diungkapkan pada
penelitian Tuominen (1999), para pekerja pabrik baterai dan pabrik seng yang
bekerja di bagian dengan risiko terpajan uap
asam mempunyai prevalensi poket periodontal lebih tinggi daripada pekerja pada
bagian yang terbebas dari uap asam (Mustaqimah, 2002)
Di
samping itu penggunaan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan,
pelindung telinga relatif belum memasyarakat. Pada penambang belerang yang
secara kontinyu terpajan oleh senyawa belerang
tanpa penggunaan pelindung yang memadai atau cara pemakaian pelindung yang
salah tentu besar kemungkinan mengalami gangguan jaringan mulut.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1
Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan
kasus-kontrol. Ruang lingkup penelitian ini mencakup masalah udara dan
kesehatan gigi.
Variabel
bebas : Pajanan uap belerang
dan kebersihan mulut
Variabel
terikat : Kejadian radang gusi
(gingivitis).
Tabel 3.1 Jabaran variabel, indikator, item
pernyataan dan sumber
|
No
|
Variabel
|
Indikator
|
Item pernyataan
|
Sumber/alat pengambil data
|
|
1.
|
Pajanan uap belerang dan
kebersihan mulut
|
1)
Lama
pajanan
2)
Bersih
atau tidaknya gigi
|
-
|
Jam, untuk menghitung lama pekerja
tambang terkena pajanan uap
|
|
2.
|
Kejadian gingivitis
|
1)
Inflamasi
pada gusi
2)
Adanya
plak pada gigi
3)
Terjadinya
eritem dan oedema
|
-
|
Pemerikasaan langsung dengan
menggunakan alat medis
|
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian diambil
berdasarkan warga yang bekerja sebagai penambang belerang di Gunung Ijen
Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur sebagai subyek kasus. Subjek penelitian diambil
15 orang yang ditetapkan sebagai berikut: 1) Laki-laki usia 20-50 tahun, 2)
bekerja sebagai penambang belerang di Gunung Ijen, 3) tidak menggunakan protesa
gigi, 4) tidak menggunakan pelindung gigi. Sedangkan kelompok kontrol diambil dari warga sekitar yang tidak
bekerja sebagai penambang belerang sejumlah 15 orang. Pengambilan populasi dan
sampel ini dilakukan oleh dinas kesehatan Puskesmas Licis, Kab. Banyuwangi.
3.3
Waktu
dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret
2014 selama 3 hari di wilayah pertambangan belerang, Gunung Ijen, Kabupaten
Banyuwangi, Jawa Timur.
3.4
Instrumen Penelitian
Instrumen
dari penelitian ini berupa alat medis untuk mengecek adanya gingivitis pada
para penambang, alat tulis untuk menulis data yang diperoleh, kamera untuk
memfoto keadaan gigi para penambang.
3.5
Teknik Pengambilan Data
Pengambilan
data dilakukan oleh dinas kesehatan setempat, yang dilakukan saat para
penambang melalukan penimbangan belerang. Data yang dikumpulkan merupakan data
dari pemeriksaan langsung subjek penelitian oleh ahli medis setempat yang
sebelumnya telah mendapatkan pengarahan dari peneliti untuk melakukan
pemeriksaan dan memberikan penilaian terhadap kondisi kesehatan mulut
penambang. Data yang dikumpulkan meliputi: 1) lama pajanan
uap belerang dinilai berdasarkan lama kerja penambang, dibagi dalam tiga
kelompok lama pajanan uap belerang yaitu:
kelompok 20-29 tahun, kelompok 30-39 tahun dan kelompok lebih dari 40 tahun. 2)
Pengukuran indeks gingiva responden yang kemudian dikode sesuai dengan Indeks
Gingiva dari Loe and Sillness, yaitu : nilai 0 (gingiva normal), nilai 1
(inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit udem, tidak ada perdarahan
waktu penyondean), nilai 2 (inflamasi sedang, kemerahan, udem, mengkilat,
berdarah saat penyondean), nilai 3 (inflamasi parah, kemerahan yang nyata,
udem, ulserasi, kecenderungan perdarahan spontan) (Syed, 1978).
Data
yang dikumpulkan meliputi hasil pengukuran indeks gingiva responden yang kemudian
dikode sesuai dengan Indeks Gingiva dari Loe and Sillness, yaitu : nilai
0 (gingiva normal), nilai 1 (inflamasi ringan, sedikit perubahan warna, sedikit
udem, tidak ada perdarahan waktu penyondean), nilai 2 (inflamasi sedang,
kemerahan, oedema, mengkilat, berdarah saat
penyondean), nilai 3 (inflamasi parah, kemerahan yang nyata, oedema, ulserasi, kecenderungan perdarahan spontan).
3.6 Teknik Analisa Data
Teknik
analisa data menggunakan indeks kebersihan mulut yang dinilai sesuai dengan Simplified
Oral Hygiene Index (OHI-S) Greene and Vermillion. Indeks debris yang
dipakai adalah Debris Index (D.I) Greene and Vermillion dengan kriteria sebagai
berikut: nilai 0 (tidak ada debris lunak) , nilai 1 (terdapat selapis debris
lunak menutupi tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi), nilai 2 (terdapat selapis
debris lunak menutupi lebih dari 1/3 permukaan gigi tetapi tidak lebih dari 2/3
permukaan gigi); nilai 3 (terdapat selapis debris lunak menutupi lebih dari 2/3
permukaan gigi) (Ainamo, 1997).
Sedangkan
Indeks kalkulus yang digunakan adalah Calculus Index (C.I.) Greene and
Vermillion yaitu : nilai 0 (tidak ada kalkulus), nilai 1 (kalkulus
supragingiva menutupi tidak lebih dari ⅓ permukaan gigi), nilai 2
(kalkulus supragingiva menutupi lebih dari ⅓ permukaan gigi tetapi tidak
lebih dari ⅔ permukaan gigi atau kalkulus subgingival berupa bercak
hitam di sekitar leher gigi atau terdapat keduanya), nilai 3 (kalkulus
supragingiva menutupi lebih dari ⅔ permukaan gigi atau kalkulus subgingiva merupakan
cincin hitam di sekitar leher gigi atau terdapat keduanya) (Moore., et al, 1982).
Gigi
yang diperiksa adalah permukaan bukal gigi tetap molar 1 kanan atas, insisivus
1 kiri atas, molar 1 kiri atas, insisivus 1 kanan bawah, permukaan lingual gigi
tetap molar 1 kanan bawah dan molar 1 kiri bawah. Data yang didapatkan kemudian
dikelompokkan menjadi kebersihan mulut baik (indeks kebersihan mulut 0,0 – 1,2)
dan kebersihan mulut sedang-buruk (indeks kebersihan mulut 1,3 - 6,0). Skoring
dilakukan oleh mahasiswa yang telah diberi pelatihan sebelumnya (Anitasari, 2012).
Pengolahan
data dilakukan dengan cara menyunting, mengelompokkan dan tabulasi secara
manual kemudian data dianalisis dengan uji hipotesis Chi-Square.
Analisis data menggunakan fasilitas SPSS release 15.0 for windows.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Indeks Gingiva dan
Indeks Kebersihan Mulut pada Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol
|
Kebersihan mulut
|
Gingivitis
|
Kasus
|
Kontrol
|
|
Sedang
- buruk
|
Sedang-berat
|
6 orang
(39,6%)
|
3 orang
(19,8%)
|
|
Normal-ringan
|
3 orang
(19,8%)
|
7 orang
(46,2%)
|
|
|
Bersih
|
Sedang-berat
|
4 orang
(26,4%)
|
4 orang
(26,4%)
|
|
Normal-ringan
|
2 orang
(13,2%)
|
1 orang
(6,6%)
|
Tabel di atas memaparkan indeks kebersihan mulut
dari sampel, perhitungan presentase diperoleh dari perhitungan Calculus
index. Dari data di atas diketahui bahwa jumlah kelompok kasus kebersihan
mulut dari sedang-buruk memiliki prosentase yang tinggi yaitu sebesar 59,4%
dibandingkan dengan kebersihan mulut yang bersih yaitu sebesar 39,6%. Untuk
kelompok kontrol diperoleh prosentase sebesar 66% pada kebersihan mulut
sedang-buruk, sedangkan untuk yang bersih diperoleh prosentase sebesar 33%. Hal
ini menunjukkan bahwa pada kelompok kasus maupun kontrol didominasi oleh mulut
yang kurang bersih.
Tabel 4.2. Distribusi Usia dan Indeks Gingiva pada
Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol
|
Usia
|
Gingivitis
|
Kasus
|
Kontrol
|
|
20-29
|
Sedang-berat
|
1 orang
(6,7%)
|
0 orang
(0%)
|
|
Normal-ringan
|
2 orang
(13,4%)
|
4 orang
(26,8%)
|
|
|
30-39
|
Sedang-berat
|
5 orang
(33,5%)
|
4 orang
(26,8%)
|
|
Normal-ringan
|
2 orang
(13,4)
|
3 orang
(20,1%)
|
|
|
40-50
|
Sedang-berat
|
3 orang
(20,1%)
|
3 orang
(20,1%)
|
|
Normal-ringan
|
2 orang
(13,4%)
|
1 orang
(6,7%)
|
Tabel
di atas memaparkan distribusi usia dan indeks gingiva, dari data diketahui
bahwa pada usia 30-39 mengalami kejadian gingivitis lebih tinggi dari pada
kelompok usia lainnya, hal ini mungkin terjadi dikarenakan pada usia tersebut
merupakan usia produktif untuk bekerja sehingga di mungkinkan terjadi
gingivitis pada warga maupun pekerja tambang belerang yang menghabiskan waktu
disekitar area belerang.
Tabel 4.3. Analisis Uji Chi-square
Perbandingan
untuk semua perlakuan adalah 1:1 sehingga diperoleh:
Fh =
x 30 = 7,5
|
Perlakuan
|
fo
|
fh
|
|
|
|
|
|
Sedang - Buruk
|
Sedang-berat
|
9
|
7,5
|
1,5
|
2,25
|
0,3
|
|
Normal-ringan
|
10
|
7,5
|
2,5
|
6,25
|
0,833333
|
|
|
Bersih
|
Sedang-berat
|
8
|
7,5
|
0,5
|
0,25
|
0,033333
|
|
Normal-ringan
|
3
|
7,5
|
-4,5
|
20,25
|
2,7
|
|
|
Σ
|
30
|
30
|
0
|
29
|
3,866667
|
|
tabel
db = Σ perlakuan – 1
= 4-1
= 3
hitung
(3,866667) >
tabel 0,05 (7,815), hipotesis penelitian
diterima
Dari hasil uji
Chi-Square diketahui bahwa ada pengaruh antara kebersihan mulut dengan kejadian
gingivitis.
4.2 Pembahasan
Dari
hasil penelitian diatas, ditemukan bahwa subjek yang terpapar uap belerang mengalami
kejadian gingivitis yang lebih berat dibandingkan dengan subjek yang tidak terpapar.
Menurut pengamatan terhadap pekerja tambang belerang di Gunung Ijen, mereka
hanya menggunakan kain seadanya untuk menutup hidung selama bekerja menambang
belerang. Hal ini dapat memungkinkan uap belerang masuk ke dalam rongga mulut.
Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri
atas gas SO2 dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat
berbeda. Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan
gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi
dengan uap air yang ada diudara untuk membentuk asam sulfat atau H2SO4.
Asam sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang
mengakibatkan kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi
lainnya (Saputra, 2009).
SOx mempunyai ciri bau yang tajam, bersifat korosif (penyebab
karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai kestabilan phasa
gasnya. Sox menimbulkan gangguan sitem pernafasan, jika kadar 400-500 ppm akan
sangat berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm menimbulkan bau
(Saputra, 2009).
Sel
fibroblast gingiva yang terkena senyawa belerang berbentuk uap akan meningkatkan
produksi Prostaglandin E2 (PGE2) dan prokolagenase,
sehingga terjadi penurunan kandungan kolagen tipe I dan III di dalam sel-sel
ligamentum periodontal. Keadaan ini akan menstimuli produksi Interleukin 1
(IL1) oleh sel monosit, dan menekan respon kemotaktik neutrofil dan kapasitas
mikrobisidal neutrofil. Secara klinis pada gingiva tampak eritem dan udem
(Mustaqimah, 2002). Menurut Kentjana (1993) eritema dan udem adalah beberapa
tanda terjadinya gingivitis. Tanda lain yang dapat diamati yaitu gingiva mudah
berdarah walaupun dengan sentuhan ringan. Tanda-tanda ini banyak ditemukan pada
pekerja tambang belerang di Gunung Ijen.
Menurut
Mustaqimah (2002) hasil ini sesuai dengan penelitian Tuominen yang menyebutkan
bahwa uap asam sulfat di lingkungan kerja dapat menyebabkan peningkatan
prevalensi poket periodontal. Laporan dari hasil penelitian Vianna dkk (2008)
juga menyatakan bahwa pajanan uap asam sulfat
berhubungan dengan kejadian penyakit periodontal. Pada penelitiannya terhadap
530 pekerja pabrik pengolahan metal di Brazil yang terpajan
uap asam sulfat didapatkan peningkatan kejadian poket periodontal.
Hasil
analisis faktor perancu kebersihan mulut
ditemukan tidak terdapat hubungan bermakna antara kebersihan mulut dan kejadian
gingivitis. Hasil ini ternyata tidak mendukung teori yang menyatakan bahwa
kebersihan mulut merupakan salah satu faktor risiko gingivitis. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena sampel menyikat gigi mereka secara teratur
sehingga kebersihan mulutnya relatif baik. Faktor lain yang mungkin berpengaruh
pada kebersihan mulut antara lain adalah jenis makanan. Sampel bertempat
tinggal di daerah gunung yang konsumsinya setiap hari adalah sayuran. Sayuran
sebagai makanan berserat, keras dan kasar dapat menghalangi deposit sisa
makanan karena mempunyai efek membersihkan mulut. Selain itu banyaknya variasi
faktor yang berpengaruh pada kebersihan mulut seperti komposisi saliva dan laju
kecepatan aliran saliva juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan kebersihan
mulut (Mandel, 1988).
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari
hasil analisis statistik melalui perhitungan uji Chi-Square dapat disimpulkan
bahwa pajanan uap belerang dan kebersihan mulut
berpengaruh terhadap resiko gingivitis. Dari data juga diketahui bahwa
penderita gingivitis lebih banyak terjadi pada warga yang bekerja sebagai
penambang belerang dibandingkan warga yang bukan penambang belerang.
5.2
Saran
Perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan faktor-faktor perancu
lain yang dapat menyebabkan gingivitis seperti faktor nutrisional, obat-obatan,
dan penyakit. Perlu diperhatikan penggunaan cara pemeriksaan indeks gingiva dan
indeks kebersihan mulut yang lebih baik dan objektif. Metode interview akan
lebih baik jika diganti dengan pengamatan langsung terhadap sampel. Perlu
diadakan penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan
dari puskesmas setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Agency
for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). Toxicological profile for
sulphur trioxide and sulphuric acid. (Online) URL:http://www.atsdr.cdc.gov diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Ainamo,
J. 1997. Problems and proposals for recording gingivitis and
plaque. Journal infect dental 25(4) : 229-35. (Online) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1058834
diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Anitasari,
Sylvi. 2012. Hubungan Antara Lama
Paparan Uap Belerang Dengan Derajat Keparahan Gingivitis. Universitas
Diponegoro
Chou
SJ. 2003. Hydrogen sulfide: human health aspect. URL:http://www.inchem.org. diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Gabriel
JF. 2001. Fisika lingkungan. Jakarta: Hipokrates (Online) URL:http//id.wikipedia.org. diakses pada tanggal 25 maret 2014
Houwink
B, Dirks OB, Cramwinckle AB, Crielaers PJA, Dermaut LR, Eijkman MAJ, et al. Ilmu kedokteran gigi pencegahan.
Yogyakarta: Gadjahmada University Press; 1993. p. 160.
Kristanto
P. 2002. Ekologi industri. Yogyakarta: ANDI
Mandel,
Irwin D. 1988. Chemotherapeutic agents
for controlling plaque and gingivitis. Journal
of Clinical Periodontology. 15(8) : 488–498, Article first
published online: 14 DEC 2005 (Online) http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1600-051X.1988.tb01020.x/pdf
Moore,
W.E., Holdeman, L.V., Smibert, R.M., Good, I.J., Burmeister, J.A., Palcanis,
K.G., Ranney, R.R. 1982. Bacteriology of Experimental Gingivitis in Young Adult
Humans. Journal Infect and Immun.
1982, 38(2) : 651
Mustaqimah
DN. 2002. Infeksi dalam bidang periodonsia. JKGUI 2002:14.
Mustaqimah
DN. 2002. Masalah nyeri pada kasus penyakit periodontal dan cara mengatasinya.
JKGUI 2002;9(2):15.
Mustaqimah
DN. 2002. Zat kimia berbentuk uap yang dapat mengawali pengrusakan jaringan
peridonsium. JKGUI 2002;9(2):38-9.
Pandingan.
1996. Kesehatan Masyarakat. E-book
Pritcard
JD. 2007. Sulphuric acid: health effects of chronic/repeated exposure (human).
(Online) URL:http://www.hpa.org.uk diakses pada tanggal 26 Maret 2014
Stephen
J. 2003. Gingivitis. (Online) http://www.emedicinehealth.com diakses pada tanggal 27 Maret 2014
Sudibyo.
2001. Hubungan lingkungan pengrajin perak terhadap timbulnya penyakit periodontal.
Majalah Ilmu Kesehatan Gigi Indonesia
2001 Oct; Vol III(6):96-8.
Syed,
S.A. 1978. Bacteriology of Human Experimental Gingivitis. Journal Infect and
Immun. 21(3) : 821
Ubertalli, J.T. 2008. Gingivitis, Available at (online): http://www.merck.com/mmpe/sec08/ch095c.htm diakses
pada tanggal 26 Maret 2014
Wahyukundari, M.H. 2008. Perbedaan
Kadar Matix Metalloproteinase-8 Setelah Scaling dan Pemberian Tetrasiklin pada
Penderita Periodontitis Kronis.
Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya-Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar