KAJIAN PUSTAKA
Taman Nasional Alas
Purwo (TN Alas Purwo)
adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan
Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis
terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan. Secara umum tipe
hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan
bambu merupakan formasi yang dominan dari total luas hutan yang ada. Sampai
saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput,
herba, semak, liana, dan pohon (Kementrian kehutanan, 2013).
Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat
di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan
tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Keanekaragaman
jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi
4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat
sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus),
rusa (Cervus timorensis), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus
scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera
pardus), lutung (Tracypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis) jelarang (Ratufa bicolor), rase (Vivericula
indica), linsang (Prionodon linsang), Macan Tutul (Panthera pardus), luwak (Paradoxurus
hermaprhoditus), garangan (Herpestes javanicus) dan kucing hutan
(Felis bengalensis).
Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis
terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan
burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis
burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros
coronatus), Rangkok (Buceros
undulatus), Merak (Pavo muticus)
dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris).
Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis (Kementrian
kehutanan, 2013).
Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar,
bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis
(322 mdpl).Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir
dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo
umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat
di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak
terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang
Srengenge (Kementrian kehutanan, 2013).
Taman
Nasional Alas Purwo, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun
1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya mempunyai tiga
fungsi pokok, yaitu
1. Perlindungan
proses ekologis sistem penyangga kehidupan.
2. Pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
3. Pemanfaatan
secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dalam bentuk penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, dan pariwisata alam.
(Alas Purwo National
Park, 2012).
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional
Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari
tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi
vegetasi. Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo
kecik (Manilkara kauki). Selain itu tumbuhan yang sering dijumpai
yaitu ketapang (Terminalia catapa), nyamplung (Calophyllum
inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia
asiatica), dan 10 jenis bambu (Alas Purwo National Park, 2012).
Herpetofauna terdiri dari kelas amfibi dan reptil. Sampai
saat ini tercatat ditemukan 63 jenis herpetofauna yang terdiri 15 jenis amfibi
dan 48 jenis reptil. Diantara jenis yang ditemukan terdapat 6 jenis reptil yang
dilindungi yaitu penyu lekang/ abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu
hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata),
penyu belimbing (Dermochelys coriacea), biawak abu-abu (Varanus
nebulosus) dan ular sanca bodo (Python molurus) (Alas Purwo
National Park, 2012).
Pitfall trap adalah lubang perangkap
untuk hewan kecil seperti serangga. Pitfall trap biasanya digunakan untuk studi
ekologi dan pengendalian hama secara ekologis. Hewan yang terperangkap dalam
lubang tidak akan bisa keluar dari perangkap dan tetap berada didalam lubang. Tanah
merupakan medium atau substrat tempat hidup bagi kebanyakan jenis makhluk
hidup, yang meliputi mikroorganisme, tumbuhan, dan hewan. Banyak serangga tanah
meluangkan sebagian atau seluruh hidup mereka di dalam tanah. Secara umum tanah
bagi serangga tanah berfungsi sebagai tempat hidup, tempat pertahanan, dan
seringkali makanan (Borror et al, 1997). Sedangkan peranan terpenting
dari serangga tanah dalam ekosistem adalah sebagai perombak bahan organik yang
tersedia bagi tumbuhan hijau. Nutrisi tanaman yang berasal dari berbagai residu
tanaman akan melalui proses dekomposisi sehingga terbentuk humus sebagai sumber
nutrisi tanah (Setiadi, 1989). Selain itu Suharjono (1997), dalam Rahmawaty
(2006) menyebutkan bahwa beberapa jenis serangga permukaan tanah dapat
dijadikan sebagai indikator terhadap kesuburan tanah.
Serangga – serangga tanah ini menurut
Daly (1981) biasa ditemukan di tempat teduh, tanah yang lembab, sampah, padang
rumput, di bawah kayu lapuk, dan tempat lembab yang serupa. Keberadaan serangga
tanah di suatu lingkungan menurut Kramadibrata (1995) dipengaruhi oleh faktor –
faktor lingkungan, baik itu faktor biotik maupun faktor abiotik. Faktor abiotik
meliputi tanah, air, suhu, cahaya, dan atmosfir. Sedangkan faktor biotik
meliputi tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan.
Jumlah jenis serangga tanah yang
terdapat pada suatu tempat tertentu menunjukkan keanekaragaman. Keanekaragaman
makhluk hidup yang menempati bumi memiliki arti yang penting ditinjau dari
berbagai alasan. Menurut Winarno et al (1997), keanekaragaman hayati
berperan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem. Keanekaragaman jenis yang
tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi.
Interaksi akan melibatkan transfer energi (jaring makanan), predasi, kompetisi,
dan pembagian relung (Soegianto, 1994).
Keanekaragaman serangga tanah di setiap
tempat berbeda – beda, sebagaimana disebutkan oleh Resosoedarmo et al (
1985), keanekaragaman rendah terdapat pada komunitas dengan lingkungan yang
ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sedangkan
keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan komunitas lingkungan optimum,
misalnya daerah subur, tanah kaya, dan daerah pegunungan. Sedangkan menurut
Odum (1998), keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem yang
secara fisik terkendali yaitu yang memiliki faktor pembatas fisika kimia yang
kuat dan akan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara alami.
Hutan merupakan
sumber daya alam yang sangat potensial dalam mendukung keanekaragaman flora dan
fauna. Salah satu sumber daya yang ada di hutan adalah serangga permukaan
tanah. Kehadiran serangga permukaan tanah dibutuhkan untuk membantu dalam
proses dekomposisi.
Serangga permukaan tanah, sebenarnya memakan
tumbuh-tumbuhan yang hidup, tetapi juga memakan tumbuh tumbuhan yang sudah
mati. Serangga permukaan tanah berperan dalam proses dekomposisi. Proses
dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan cepat bila tidak ditunjang
oleh kegiatan serangga permukaan tanah. Keberadaan serannga permukaan tanah
dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk
melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya
berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah. Dengan ketersediaan energi
dan hara bagi serangga permukaan tanah tersebut, maka perkembangan dan
aktivitas serangga permukaan tanah akan berlangsung baik (Ruslan, 2009).
Dalam
pembahasan berikut akan diuraikan ciri-ciri fauna tanah berdasarkan klasifikasi
dari Borror dalam Maulidiyah (2000):
1) Ordo
Tysanura
·
Ukurannya sedang sampai kecil,
·
Bentuk memanjang dan agak gepeng,
·
Mata majemuk kecil dan sangat lebar
terspisah, mata tunggal tidak ada,
·
Tarsi 3-5,
·
Terbagi atas 3 famili yaitu:
Lepidotrichidae, Lepismatidae, dan Nicotidae.
2)
Ordo Diplura
·
Mempunyai 2 filamen ekor,
·
Tarsi 1 ruas,
·
Terdapat stili pada ruas abdomen 1-7
atau 2-7,
·
Terbagi atas 3 famili, yaitu: Japygidae,
Campodeidae, Procampodeidae, dan Anajapygidae.
3) Ordo Protura
·
Tubuh kecil berwarna keputih-putihan,
·
Panjng 0,6 - 1,5 mm,
·
Tidak memiliki mata ataupun sungut,
·
Terbagi atas beberapa famili yaitu:
Eosentormidae, Protentomidae, Acerentomidae, dan lain-lain.
4) Ordo Collembola
·
Abdomen mempunyai 6 segmen,
·
Tubuh kecil tidak bersayap,
·
Antena beruas 4 dan kaki dengan tarsus
beruas tunggal,
·
Terbagi atas beberapa famili yaitu:
Onychiuridae, Podiridae, Hypogastruridae, Entomobrydae, Sminthuridae, dan
Nelidae.
5) Ordo Isoptera
·
Golongan serdadu mempunyai kepala yang
sangat berskleretisasi, memanjang, hitam, dan besar,
·
Golongan pekerja mempunyai warna pucat
dengan tubuh lunak, mulut tipe pengunyah.
6) Ordo Orthoptera
·
Ada yang bersayap dan ada yang tidak
bersayap,
·
Tubuh memanjang sersi bagus terbentuk,
·
Bagian mulut adalah tipe pengunyah,
·
Terbagi atas beberapa famili yaitu:
Grillotalpidae, Tridactylidae, Tetrididae, Eugamastracidae, Acrididae dan
lain-lain.
7) Ordo Pleoptera
·
Ukuran medium (kecil agak gepeng),
·
Sayap depan memanjang , agak sempit,
·
Sungut panjang, tarsi beruas 3,
·
Terbagi atas beberapa famili yaitu:
Pteronarcyidae, Capnidae, Peridae, dan lain-lain.
8) Ordo Dermaptera
- Tubuh memanjang ramping dan agak gepeng,
- Sayap depan memendek seperti kulit, tidak mempunyai rangka sayap,
- Aktif pada malam hari,
- Terbagi atas beberapa famili yaitu: Forficulidae, Chelisochidae, Labidae, Labiduridae dan lain-lain.
9) Ordo Tysanoptera
- Bentuk langsing, panjang 0,5-5 mm,
- Terdapat atau tidak ada sayap,
- Sungut pendek, tarsi 1-2 ruas,
- Terbagi atas famili: Phaelothripidae, Aelothripidae, Thripidae, Mesothripidae, Heterothripidae.
10) Ordo Hemiptera
- · Sayap depan menebal seperti kulit,
- · Bagian mulut adalah tipe menusuk, menghisap, dalam bentuk paruh,
- · Makanannya cairan tumbuhan atau cairan tubuh hewan,
- · Terbagi atas famili: Polyctenidae, Belastocoridae, Ochteridae, Corixidae, dan Nepidae.
11) Ordo Homoptera
- Termasuk penghisap dengan 4 penusuk,
- Mempunyai 4 sayap,
- Sungut sangat pendek,
- Terbagi atas beberapa famili yaitu: Corydalidae, Sialidae, Mantispidae, Raphididae, Inocullidae dan lain-lain.
12) Ordo Neuroptera
- Bertubuh lunak dengan 4 sayap,
- Mempunyai banyak rangka sayap menyilang dan bercabang,
- Terbagi atas beberapa famili yaitu: Corydalidae, Sialidae, Mantispidae, Raphididae, Inocullidae dan lain-lain.
13) Ordo Coeleptera
- Mempunyai 4 pasang sayap dengan sepasang sayap depan menebal,
- Terbagi atas beberapa famili yaitu Bittacidae, Boeridae, meropeidae, Panorpidae, dan Panorpodidae.
14) Ordo Diptera
- Mempunyai sepasang sayap di depan,
- Larva tanpa kaki, kepala kecil,
- Terbagi atas beberapa famili yaitu: Nymphomylidae, Tricociridae, Tanyderidae, Xylophagidae, Tripulidae dan lain-lain.
15) Ordo Hymenoptera
- Ukuran tubuh bervariasi,
- Antena 10 ruas atau lebih,
- Mulut bertipe penggigit dan penghisap,
- Terbagi famili yaitu: Orussidae, Siricidae, Xphydridae, Chephidae, Argidae, Cimbicidae, dan lain-lain.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dilakukan pada pithfall trap
ini adalah rancangan analisis
deskriptif yaitu berupa deskripsi dari hasil analisa untuk
memperoleh informasi tingkat keanekaragaman dan kemerataan hewan tanah di Taman
Nasional Alas Purwo Bayuwangi.
3.2 Waktu dan Tempat
Kuliah Kerja Lapangan dilakukan pada tanggal 29
Maret 2013 – 31 Maret 2013 bertempat di Taman Nasional Alas Purwo yang terletak
di Kecamatan Tegal dlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa
Timur.
3.3 Populasi dan Sempel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis hewan tanah yang berada di hutan
pantai Taman Nasional Alas Purwo Bayuwangi. Sedangkan sampel dalam penelitian
ini adalah jenis serangga tanah yang tertangkap dalam lubang jebakan (Pitfall Trap).
3.4 Alat dan Bahan
Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat dan
bahan. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan perangkap jebak yaitu
gelas plastik sejumlah 25, sekop, alat tulis, kertas label, alkohol 70% dan
larutan asam asetat 5%. Untuk mengukur faktor lingkungan digunakan pH meter,
higrometer, termometer dan mistar. Dalam pengumpulan sampel, alat yang
digunakan yaitu pinset, kantung plastik dan karet. Dalam identifikasi sampel
serangga digunakan mikroskop dengan perbesaran 20 x. Untuk pengambilan serasah
menggunakan kresek dan pengukuran serasah menggunakan timbangan.
3.5 Prosedur Penelitian
1.
Penentuan Lokasi
Lokasi
penempatan alat pitfall trap didaerah hutan taman nasional Alas Purwo dengan
menyebar 25 lokasi.
2.
Pengambilan Sempel
Pengambilan
sampel dilakukan dengan cara memasang 25 perangkap jebak. Perangkap diisi
dengan larutan alkohol 70% dan ditambahkan larutan gliserin 5% sebanyak 1 tetes
pada masing-masing perangkap. Perangkap dipasang secara random dan dibiarkan
selama 1 hari kemudian sampel yang tertangkap dikumpulkan.
3.
Memasang jebakan
Pitfall Trap pada masing-masing plot (gambar 3.1):
a) Menggali tanah sedalam + 10 cm dengan alat
penggali tanah,
b) Memasukkan gelas air mineral yang telah berisi
campuran aquades, alkohol 15%, dan gliserin 15% (perbandingan 3 : 1 : 1) ke
dalam tanah yang telah digali,
c) Meratakan permukaan tanah dengan bagian mulut gelas
air mineral,
d) Menutupi gelas air mineral dengan serasah daun.
4.
Mengambil
jebakan Pitfall Trap setelah + 24 jam.
5.
Memasukkan
spesimen ke dalam botol film yang telah ditetesi formalin 70% sebanyak 3 tetes.
6.
Mengidentifikasi
spesimen hewan tanah di lapangan.
7.
Melakukan
kegiatan identifikasi lanjutan di Laboratorium Ekologi ruang 109 di gedung
Biologi Universitas Negeri Malang.
Gambar
3.1 Cara pemasangan Pitfall Trap
Keterangan : a = gelas air mineral
b = aquades + alkohol 15% +
gliserin 15% (3 : 1 : 1)
c = lubang tempat gelas air
mineral diletakkan
d = serasah dedaun
e = permukaan tanah
3.6 Teknik Analisa Data
Teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
deskriptif yaitu berupa deskripsi dari serangga tanah dan hubungannya dengan
serasah. Selain berupa analisis deskriptif data dianalisis
indeks keragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan jenis pada
masing-masing stasiun.
1) Indeks
keanekaragaman Shanon – Wiener
H’ = -Σ Pi In Pi
Keterangan: Pi = n/N
H’ : Indeks keanekaragaman Shanon –
Wiever
n : Jumlah masing-masing spesies
N :
Jumlah total spesies dalam sampel
(Ludwig
dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)
2) Setelah
memperoleh indeks keanekaragaman Shanon–Wiener, selanjutnya menghitung nilai
indeks kemerataan (Evennes) dengan
rumus:
Keterangan:
E : Indeks kemerataan evennes
H’ :
Indeks keanekaragaman Shanon – Wiever
S : Jumlah spesies (n1, n2,
n3, …..)
(Ludwig
dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)
3)
Selanjutnya dihitung nilai kekayaan
dengan menggunakan rumus indeks Richness:
Keterangan: R :
Indeks Richness
S : Jumlah spesies (n1, n2,
n3, …..)
N : Total individu dalam pengambilan sampel
(Ludwig
dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)
4) Untuk
mengetahui dominansi suatu spesies dilakukan perhitungan nilai dominansi
sebagai berikut:
Keterangan:
D
: Dominansi spesies
n : Jumlah individu masing-masing spesies
N : Total individu dalam pengambilan sampel
(Odum,
1993 dalam Maulidiyah, 2003)
BAB
IV
DATA
DAN ANALISA DATA
Tabel
Harga H’, E, dan R untuk semua stasiun
Stasiun
|
H’
|
E
|
R
|
D(%)
|
1
|
2,18732
|
0,41255
|
3,24606
|
1,2345679
|
2
|
2,38641
|
0,93039
|
3,88219
|
1,69753
|
3
|
2,6299
|
0,92824
|
4,53726
|
2,62345679
|
4
|
2,6609
|
0,86084
|
5,28928
|
4,08950
|
5
|
2,3767
|
0,85721
|
3,79627
|
4,012345679
|
6
|
1,0323
|
0,3723
|
3,9881
|
3,31790
|
7
|
4,1874
|
1,3754
|
4,423
|
7,098765432
|
8
|
2,4258
|
0,9192
|
3,9901
|
2.00617
|
9
|
2,815
|
0,9246
|
5,1124
|
3,858025
|
10
|
2,5607
|
0,699
|
5,1862
|
3,00926
|
11
|
2,641899
|
0,914034
|
4,640293
|
3,00926
|
12
|
2,458313
|
0,795302
|
5,012346
|
5,0926
|
13
|
2,8127
|
0,909952
|
5,516644
|
3,47223
|
14
|
2,33576
|
0,842448
|
3,726382
|
4,32099
|
15
|
2,15336
|
0,7045011
|
3,724519
|
7,40740
|
16
|
2,632291
|
0,91071
|
4,707944
|
2,8549
|
17
|
2,397477
|
0,846204
|
3,847187
|
4,938327
|
18
|
2,609958
|
0,902983
|
4,204745
|
4,39815
|
19
|
2,405784
|
0,888382
|
3,745649
|
3,24074
|
20
|
2,692436
|
0,898757
|
5,02089
|
3,39506
|
21
|
2,77063
|
0,91004
|
5,0867
|
3,93518
|
22
|
2,54037
|
0,72039
|
4,53726
|
2,6234568
|
23
|
2,64838
|
0,84465
|
5,30999
|
4,872380
|
24
|
2,8592
|
0,89967
|
5,48971
|
5,09250
|
25
|
2,22523
|
0,70019
|
4,90264
|
8,4105
|
Berdasarkan data dan hasil analisis data pit fall,
dapat diperoleh bahwa pada stasiun 7 memiliki harga H’ dan E yang tertinggi
daripada stasiun lainnya. Sedangkan harga R tertinggi diperoleh dari stasiun 13.
Untuk harga Dominansi spesies (D) diperoleh nilai tertinggi pada stasiun 25.
Tabel Data Serasah
Stasiun
|
Berat
Serasah (kg)
|
1
|
0,5
|
2
|
1
|
3
|
1,5
|
4
|
1,7
|
5
|
1
|
6
|
1,5
|
7
|
1,6
|
8
|
1
|
9
|
1,3
|
10
|
1,5
|
11
|
2
|
12
|
2
|
13
|
1,5
|
14
|
2
|
15
|
2,5
|
16
|
2,7
|
17
|
2,3
|
18
|
2
|
19
|
2
|
20
|
1,5
|
21
|
2,5
|
22
|
2
|
23
|
1,5
|
24
|
1
|
25
|
1,5
|
Berkaitan dengan berat serasah yang didapatkan pada
25 stasiun, maka disajikan grafik hubungan antara H’ (Keanekaragaman) dengan
banyaknya serasah pada tiap stasiun:
Berdasarkan grafik di atas, dapat ditarik kesimpulan
sementara bahwa pada stasiun yang memiliki keanekaragaman (H’) tertinggi 4,1874, yaitu di stasiun 7 didapatkan serasah dengan berat
1,6 kg.
BAB V
PEMBAHASAN
Hubungan antara serangga tanah dengan serasah
Serangga
tanah berperan dalam dekomposer, menurut Ummi (2007) serangga tanah merupakan
serangga yang hidup di tanah, baik yang hidup di dalam tanah maupun yang hidup
di permukaan tanah. Serangga tanah pada suatu komunitas berperan sebagai
perombak bahan – bahan organik, yang mana hasil perombakan ini berupa humus
yang nantinya humus tersebut bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman. Selain
itu serangga tanah juga dapat dijadikan sebagai indikator terhadap kesuburan
tanah. Keanekaragaman serangga tanah di setiap tempat berbeda – beda.
Keanekaragaman akan tinggi apabila berada pada lingkungan optimum, misalnya
tanah subur.
Keanekaragaman serangga tanah di setiap
tempat berbeda-beda, sebagaimana disebutkan oleh Resosoedarmo et al (
1985), keanekaragaman rendah terdapat pada komunitas dengan lingkungan yang ekstrim,
misalnya daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sedangkan
keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan komunitas lingkungan optimum,
misalnya daerah subur, tanah kaya, dan daerah pegunungan. Sedangkan menurut
Odum (1998), keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem yang
secara fisik terkendali yaitu yang memiliki faktor pembatas fisika kimia yang
kuat dan akan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara alami.
Faktor lingkungan sangat berperan
penting dalam menentukan berbagai pola penyebaran serangga tanah. Faktor biotik
dan abiotik bekerja secara bersama-sama dalam suatu ekosistem, menentukan
kehadiran, kelimpahan, dan penampilan organisme.
Beberapa parameter yang dapat diukur
untuk mengetahui keadaan suatu ekosistem, misalnya dengan melihat nilai
keanekaragaman. Keanekaragaman serangga tanah dapat dilihat dengan menghitung
indeks diversitasnya. Ada dua faktor penting yang mempengaruhi keanekaragaman
fauna tanah, yaitu kekayaan (Richness index) dan kemerataan spesies (Evennes
index). Pada komunitas yang stabil indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan
jenis tinggi, sedangkan pada komunitas yang terganggu karena adanya campur
tangan manusia kemungkinan indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis
rendah. Dan ekosistem yang mempunyai nilai diversitas tinggi umumnya memiliki
rantai makanan yang lebih panjang dan kompleks, sehingga berpeluang lebih besar
untuk terjadinya interaksi seperti pemangsaan, parasitisme, kompetisi,
komensialisme, dan mutualisme (Odum, 1998).
Tingkat kenaekaragaman serangga tanah
dipengaruhi lingkungan komunitas yang mereka tempati. Pada komunitas serangga
yang stabil indeks keragaman tinggi diikuti dengan banyaknya jumlah serasah
dalam satu lingkungan itu. Serangga tanah akan bertahan hidup dilingkungan
dimana mereka mudah untuk memperoleh makan. Ketika indeks keanekaragaman
serangga tanah rendah, kemungkinan lingkungan mereka kurang sesuai untuk
dijadikan habitat, seperti dilingkungan yang kering yang jarang terdapat
serasah untuk dirombak oleh serangga tanah.
Pada hutan homogen keanekaragam lebih
tingi dibanding hutan heterogen Tingginya indeks keanekaragaman pada hutan homogen
hal ini disebabkan pada hutan homogen vegetasi herba yang merupakan tempat
hidup dan sumber makanan bagi serangga permukaan tanah ,lebih beragam dan
rimbun bila dibandingkan dengan vegetasi heterogen. Pada hutan homogen tutupan
kanopi dari vegetasi kurang rapat sehinga penetrasi sinar matahari lebih banyak,
sehingga vegetasi herba atau rumput yang membutuhkan sinar matahari untuk
kehidupan dapat dipenuhi. Sedangkan pada hutan heterogen tutupan kanopi lebih
rapat, penetrasi sinar matahari lebih kurang. Hal ini yang menyebabkan indeks
keanekaragaman lebih tinggi. Menurut Suhardjono dkk (1997) faktor vegetasi
dapat mempengaruhi penyediaan habitat bagi serangga permukaan tanah.
.
BAB
VI
PENUTUP
5.1
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari penelitian metode
pithfall di pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo adalah:
1. Serangga
tanah yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 1296 yang masuk kedalam 13
Famili dan terbagi menjadi 7 Ordo antara lain Ordo Collembola, Ordo Blattaria,
Ordo Orthoptera, Ordo Coleoptera, Ordo Dermaptera, Ordo Diptera dan Ordo
Hymenoptera.
2. Dari
hasil penelitian ini diperoleh nilai keragaman jenis serangga tanah sebanyak
4,1874, kekayaan 5,516644 dan kemerataan sebanyak 1,3754. Pada hutan disekitar pantai
triangulsari ini didominansi stasiun 25 dengan jumlah prosentase 8,4105.
3. Pola distribusi hewan tanah pada 25 stasiun umumnya
mengelompok, merata, dan acak. Sebaran terbesar yang merata, dikarenakan
rentangan jumlah kemerataan
5.2
SARAN
Perlu dilakukan
penelitian jangka panjang terhadap serangga permukaan tanah di Taman Nasional
Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur
sehingga didapat data yang lebih akurat.
0 komentar:
Posting Komentar