Rabu, 08 Mei 2013

KKL Alas Purwo


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan. Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon (Kementrian kehutanan, 2013).
Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), lutung (Tracypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jelarang (Ratufa bicolor), rase (Vivericula indica), linsang (Prionodon linsang), Macan Tutul (Panthera pardus), luwak (Paradoxurus hermaprhoditus), garangan (Herpestes javanicus) dan kucing hutan (Felis bengalensis).
Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis (Kementrian kehutanan, 2013).
Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl).Keadaan tanah hamper keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian Barat TN yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge (Kementrian kehutanan, 2013).
Taman Nasional Alas Purwo, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya mempunyai tiga fungsi pokok, yaitu
1.      Perlindungan proses ekologis sistem penyangga kehidupan.
2.      Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
3.      Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dalam bentuk penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, dan pariwisata alam.
(Alas Purwo National Park, 2012).
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon dari berbagai tipe/formasi vegetasi.  Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki). Selain itu tumbuhan yang sering dijumpai yaitu ketapang (Terminalia catapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 10 jenis bambu (Alas Purwo National Park, 2012).
Herpetofauna terdiri dari kelas amfibi dan reptil. Sampai saat ini tercatat ditemukan 63 jenis herpetofauna yang terdiri 15 jenis amfibi dan 48 jenis reptil. Diantara jenis yang ditemukan terdapat 6 jenis reptil yang dilindungi yaitu penyu lekang/ abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), biawak abu-abu (Varanus nebulosus) dan ular sanca bodo (Python molurus) (Alas Purwo National Park, 2012).
Pitfall trap adalah lubang perangkap untuk hewan kecil seperti serangga. Pitfall trap biasanya digunakan untuk studi ekologi dan pengendalian hama secara ekologis. Hewan yang terperangkap dalam lubang tidak akan bisa keluar dari perangkap dan tetap berada didalam lubang. Tanah merupakan medium atau substrat tempat hidup bagi kebanyakan jenis makhluk hidup, yang meliputi mikroorganisme, tumbuhan, dan hewan. Banyak serangga tanah meluangkan sebagian atau seluruh hidup mereka di dalam tanah. Secara umum tanah bagi serangga tanah berfungsi sebagai tempat hidup, tempat pertahanan, dan seringkali makanan (Borror et al, 1997). Sedangkan peranan terpenting dari serangga tanah dalam ekosistem adalah sebagai perombak bahan organik yang tersedia bagi tumbuhan hijau. Nutrisi tanaman yang berasal dari berbagai residu tanaman akan melalui proses dekomposisi sehingga terbentuk humus sebagai sumber nutrisi tanah (Setiadi, 1989). Selain itu Suharjono (1997), dalam Rahmawaty (2006) menyebutkan bahwa beberapa jenis serangga permukaan tanah dapat dijadikan sebagai indikator terhadap kesuburan tanah.
Serangga – serangga tanah ini menurut Daly (1981) biasa ditemukan di tempat teduh, tanah yang lembab, sampah, padang rumput, di bawah kayu lapuk, dan tempat lembab yang serupa. Keberadaan serangga tanah di suatu lingkungan menurut Kramadibrata (1995) dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan, baik itu faktor biotik maupun faktor abiotik. Faktor abiotik meliputi tanah, air, suhu, cahaya, dan atmosfir. Sedangkan faktor biotik meliputi tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan.
Jumlah jenis serangga tanah yang terdapat pada suatu tempat tertentu menunjukkan keanekaragaman. Keanekaragaman makhluk hidup yang menempati bumi memiliki arti yang penting ditinjau dari berbagai alasan. Menurut Winarno et al (1997), keanekaragaman hayati berperan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem. Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Interaksi akan melibatkan transfer energi (jaring makanan), predasi, kompetisi, dan pembagian relung (Soegianto, 1994).
Keanekaragaman serangga tanah di setiap tempat berbeda – beda, sebagaimana disebutkan oleh Resosoedarmo et al ( 1985), keanekaragaman rendah terdapat pada komunitas dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sedangkan keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan komunitas lingkungan optimum, misalnya daerah subur, tanah kaya, dan daerah pegunungan. Sedangkan menurut Odum (1998), keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem yang secara fisik terkendali yaitu yang memiliki faktor pembatas fisika kimia yang kuat dan akan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara alami.
Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat potensial dalam mendukung keanekaragaman flora dan fauna. Salah satu sumber daya yang ada di hutan adalah serangga permukaan tanah. Kehadiran serangga permukaan tanah dibutuhkan untuk membantu dalam proses dekomposisi.
Serangga permukaan tanah, sebenarnya memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup, tetapi juga memakan tumbuh tumbuhan yang sudah mati. Serangga permukaan tanah berperan dalam proses dekomposisi. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan serangga permukaan tanah. Keberadaan serannga permukaan tanah dalam tanah sangat tergantung pada ketersediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya, seperti bahan organik dan biomassa hidup yang semuanya berkaitan dengan aliran siklus karbon dalam tanah. Dengan ketersediaan energi dan hara bagi serangga permukaan tanah tersebut, maka perkembangan dan aktivitas serangga permukaan tanah akan berlangsung baik (Ruslan, 2009).
Dalam pembahasan berikut akan diuraikan ciri-ciri fauna tanah berdasarkan klasifikasi dari Borror dalam Maulidiyah (2000):
1)  Ordo Tysanura
·           Ukurannya sedang sampai kecil,
·           Bentuk memanjang dan agak gepeng,
·           Mata majemuk kecil dan sangat lebar terspisah, mata tunggal tidak ada,
·           Tarsi 3-5,
·           Terbagi atas 3 famili yaitu: Lepidotrichidae, Lepismatidae, dan Nicotidae.
2) Ordo Diplura
·         Mempunyai 2 filamen ekor,
·         Tarsi 1 ruas,
·         Terdapat stili pada ruas abdomen 1-7 atau 2-7,
·         Terbagi atas 3 famili, yaitu: Japygidae, Campodeidae, Procampodeidae, dan Anajapygidae.
3) Ordo Protura
·         Tubuh kecil berwarna keputih-putihan,
·         Panjng 0,6 - 1,5 mm,
·         Tidak memiliki mata ataupun sungut,
·         Terbagi atas beberapa famili yaitu: Eosentormidae, Protentomidae, Acerentomidae, dan lain-lain.
4) Ordo Collembola
·         Abdomen mempunyai 6 segmen,
·         Tubuh kecil tidak bersayap,
·         Antena beruas 4 dan kaki dengan tarsus beruas tunggal,
·         Terbagi atas beberapa famili yaitu: Onychiuridae, Podiridae, Hypogastruridae, Entomobrydae, Sminthuridae, dan Nelidae.
5) Ordo Isoptera
·         Golongan serdadu mempunyai kepala yang sangat berskleretisasi, memanjang, hitam, dan besar,
·         Golongan pekerja mempunyai warna pucat dengan tubuh lunak, mulut tipe pengunyah.
6) Ordo Orthoptera
·         Ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap,
·         Tubuh memanjang sersi bagus terbentuk,
·         Bagian mulut adalah tipe pengunyah,
·         Terbagi atas beberapa famili yaitu: Grillotalpidae, Tridactylidae, Tetrididae, Eugamastracidae, Acrididae dan lain-lain.
7) Ordo Pleoptera
·         Ukuran medium (kecil agak gepeng),
·         Sayap depan memanjang , agak sempit,
·         Sungut panjang, tarsi beruas 3,
·         Terbagi atas beberapa famili yaitu: Pteronarcyidae, Capnidae, Peridae, dan lain-lain.
8) Ordo Dermaptera
  • Tubuh memanjang ramping dan agak gepeng,
  • Sayap depan memendek seperti kulit, tidak mempunyai rangka sayap,
  • Aktif pada malam hari,
  • Terbagi atas beberapa famili yaitu: Forficulidae, Chelisochidae, Labidae, Labiduridae dan lain-lain.
9) Ordo Tysanoptera
  • Bentuk langsing, panjang 0,5-5 mm,
  • Terdapat atau tidak ada sayap,
  • Sungut pendek, tarsi 1-2 ruas,
  • Terbagi atas famili: Phaelothripidae, Aelothripidae, Thripidae, Mesothripidae, Heterothripidae.
10) Ordo Hemiptera
  • ·         Sayap depan menebal seperti kulit,
  • ·         Bagian mulut adalah tipe menusuk, menghisap, dalam bentuk paruh,
  • ·  Makanannya cairan tumbuhan atau cairan tubuh hewan,
  • ·         Terbagi atas famili: Polyctenidae, Belastocoridae, Ochteridae, Corixidae, dan Nepidae.
11) Ordo Homoptera
  • Termasuk penghisap dengan 4 penusuk,
  • Mempunyai 4 sayap,
  • Sungut sangat pendek,
  • Terbagi atas beberapa famili yaitu: Corydalidae, Sialidae, Mantispidae, Raphididae, Inocullidae dan lain-lain.
12) Ordo Neuroptera
  • Bertubuh lunak dengan 4 sayap,
  • Mempunyai banyak rangka sayap menyilang dan bercabang,
  • Terbagi atas beberapa famili yaitu: Corydalidae, Sialidae, Mantispidae, Raphididae, Inocullidae dan lain-lain.
13) Ordo Coeleptera
  • Mempunyai 4 pasang sayap dengan sepasang sayap depan menebal,
  • Terbagi atas beberapa famili yaitu Bittacidae, Boeridae, meropeidae, Panorpidae, dan Panorpodidae.
14) Ordo Diptera
  • Mempunyai sepasang sayap di depan,
  • Larva tanpa kaki, kepala kecil,
  • Terbagi atas beberapa famili yaitu: Nymphomylidae, Tricociridae, Tanyderidae, Xylophagidae, Tripulidae dan lain-lain.
15) Ordo Hymenoptera
  • Ukuran tubuh bervariasi,
  • Antena 10 ruas atau lebih,
  • Mulut bertipe penggigit dan penghisap,
  • Terbagi famili yaitu: Orussidae, Siricidae, Xphydridae, Chephidae, Argidae, Cimbicidae, dan lain-lain.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1  Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang dilakukan pada pithfall trap ini adalah rancangan analisis deskriptif yaitu berupa deskripsi dari hasil analisa untuk memperoleh informasi tingkat keanekaragaman dan kemerataan hewan tanah di Taman Nasional Alas Purwo Bayuwangi.
3.2  Waktu dan Tempat
Kuliah Kerja Lapangan dilakukan pada tanggal 29 Maret 2013 – 31 Maret 2013 bertempat di Taman Nasional Alas Purwo yang terletak di Kecamatan Tegal dlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
3.3  Populasi dan Sempel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis hewan tanah yang berada di hutan pantai Taman Nasional Alas Purwo Bayuwangi. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah jenis serangga tanah yang tertangkap dalam lubang jebakan (Pitfall Trap).
3.4  Alat dan Bahan
Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat dan bahan. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan perangkap jebak yaitu gelas plastik sejumlah 25, sekop, alat tulis, kertas label, alkohol 70% dan larutan asam asetat 5%. Untuk mengukur faktor lingkungan digunakan pH meter, higrometer, termometer dan mistar. Dalam pengumpulan sampel, alat yang digunakan yaitu pinset, kantung plastik dan karet. Dalam identifikasi sampel serangga digunakan mikroskop dengan perbesaran 20 x. Untuk pengambilan serasah menggunakan kresek dan pengukuran serasah menggunakan timbangan.
3.5  Prosedur Penelitian
1.      Penentuan Lokasi
Lokasi penempatan alat pitfall trap didaerah hutan taman nasional Alas Purwo dengan menyebar 25 lokasi.
2.      Pengambilan Sempel
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara memasang 25 perangkap jebak. Perangkap diisi dengan larutan alkohol 70% dan ditambahkan larutan gliserin 5% sebanyak 1 tetes pada masing-masing perangkap. Perangkap dipasang secara random dan dibiarkan selama 1 hari kemudian sampel yang tertangkap dikumpulkan.
3.      Memasang jebakan Pitfall Trap pada masing-masing plot (gambar 3.1):
a)    Menggali tanah sedalam + 10 cm dengan alat penggali tanah,
b)   Memasukkan gelas air mineral yang telah berisi campuran aquades, alkohol 15%, dan gliserin 15% (perbandingan 3 : 1 : 1) ke dalam tanah yang telah digali,
c)    Meratakan permukaan tanah dengan bagian mulut gelas air mineral,
d)   Menutupi gelas air mineral dengan serasah daun.
4.      Mengambil jebakan Pitfall Trap setelah + 24 jam.
5.      Memasukkan spesimen ke dalam botol film yang telah ditetesi formalin 70% sebanyak 3 tetes.
6.      Mengidentifikasi spesimen hewan tanah di lapangan.
7.      Melakukan kegiatan identifikasi lanjutan di Laboratorium Ekologi ruang 109 di gedung Biologi Universitas Negeri Malang.
 



Gambar 3.1 Cara pemasangan Pitfall Trap
Keterangan :    a = gelas air mineral
                                          b = aquades + alkohol 15% + gliserin 15% (3 : 1 : 1)
                                          c = lubang tempat gelas air mineral diletakkan
                                          d = serasah dedaun
                                          e = permukaan tanah


3.6  Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu berupa deskripsi dari serangga tanah dan hubungannya dengan serasah. Selain berupa analisis deskriptif data dianalisis indeks keragaman, indeks kemerataan, dan indeks kekayaan jenis pada masing-masing stasiun.
1)      Indeks keanekaragaman Shanon – Wiener
H’ = -Σ Pi In Pi
Keterangan:  Pi = n/N
H’           : Indeks keanekaragaman Shanon – Wiever
n             : Jumlah masing-masing spesies
N            : Jumlah total spesies dalam sampel
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)
2)      Setelah memperoleh indeks keanekaragaman Shanon–Wiener, selanjutnya menghitung nilai indeks kemerataan (Evennes) dengan rumus:

Keterangan: 
E    : Indeks kemerataan evennes
H’    : Indeks keanekaragaman Shanon – Wiever
S      : Jumlah spesies (n1, n2, n3, …..)
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)
3)      Selanjutnya dihitung nilai kekayaan dengan menggunakan rumus indeks Richness:
Keterangan:  R   : Indeks Richness
S     : Jumlah spesies (n1, n2, n3, …..)
N    : Total individu dalam pengambilan sampel
(Ludwig dan Reynolda, 1998 dalam Junaidah, 2001)

4)      Untuk mengetahui dominansi suatu spesies dilakukan perhitungan nilai dominansi sebagai berikut:

Keterangan: 
D    : Dominansi spesies
n      : Jumlah individu masing-masing spesies
N    : Total individu dalam pengambilan sampel
(Odum, 1993 dalam Maulidiyah, 2003)




BAB IV
DATA DAN ANALISA DATA
 Tabel Harga H’, E, dan R untuk semua stasiun

Stasiun
H’
E
R
D(%)
1
2,18732
0,41255
3,24606
1,2345679
2
2,38641
0,93039
3,88219
1,69753
3
2,6299
0,92824
4,53726
2,62345679
4
2,6609
0,86084
5,28928
4,08950
5
2,3767
0,85721
3,79627
4,012345679
6
1,0323
0,3723
3,9881
3,31790
7
4,1874
1,3754
4,423
7,098765432
8
2,4258
0,9192
3,9901
2.00617
9
2,815
0,9246
5,1124
3,858025
10
2,5607
0,699
5,1862
3,00926
11
2,641899
0,914034
4,640293
3,00926
12
2,458313
0,795302
5,012346
5,0926
13
2,8127
0,909952
5,516644
3,47223
14
2,33576
0,842448
3,726382
4,32099
15
2,15336
0,7045011
3,724519
7,40740
16
2,632291
0,91071
4,707944
2,8549
17
2,397477
0,846204
3,847187
4,938327
18
2,609958
0,902983
4,204745
4,39815
19
2,405784
0,888382
3,745649
3,24074
20
2,692436
0,898757
5,02089
3,39506
21
2,77063
0,91004
5,0867
3,93518
22
2,54037
0,72039
4,53726
2,6234568
23
2,64838
0,84465
5,30999
4,872380
24
2,8592
0,89967
5,48971
5,09250
25
2,22523
0,70019
4,90264
8,4105































Berdasarkan data dan hasil analisis data pit fall, dapat diperoleh bahwa pada stasiun 7 memiliki harga H’ dan E yang tertinggi daripada stasiun lainnya. Sedangkan harga R tertinggi diperoleh dari stasiun 13. Untuk harga Dominansi spesies (D) diperoleh nilai tertinggi pada stasiun 25.

Tabel Data Serasah
Stasiun
Berat Serasah (kg)
1
0,5
2
1
3
1,5
4
1,7
5
1
6
1,5
7
1,6
8
1
9
1,3
10
1,5
11
2
12
2
13
1,5
14
2
15
2,5
16
2,7
17
2,3
18
2
19
2
20
1,5
21
2,5
22
2
23
1,5
24
1
25
1,5








Berkaitan dengan berat serasah yang didapatkan pada 25 stasiun, maka disajikan grafik hubungan antara H’ (Keanekaragaman) dengan banyaknya serasah pada tiap stasiun:

Berdasarkan grafik di atas, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa pada stasiun yang memiliki keanekaragaman (H’) tertinggi 4,1874, yaitu di stasiun 7 didapatkan serasah dengan berat 1,6 kg.



BAB V
PEMBAHASAN

Hubungan antara serangga tanah dengan serasah
Serangga tanah berperan dalam dekomposer, menurut Ummi (2007) serangga tanah merupakan serangga yang hidup di tanah, baik yang hidup di dalam tanah maupun yang hidup di permukaan tanah. Serangga tanah pada suatu komunitas berperan sebagai perombak bahan – bahan organik, yang mana hasil perombakan ini berupa humus yang nantinya humus tersebut bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman. Selain itu serangga tanah juga dapat dijadikan sebagai indikator terhadap kesuburan tanah. Keanekaragaman serangga tanah di setiap tempat berbeda – beda. Keanekaragaman akan tinggi apabila berada pada lingkungan optimum, misalnya tanah subur.
Keanekaragaman serangga tanah di setiap tempat berbeda-beda, sebagaimana disebutkan oleh Resosoedarmo et al ( 1985), keanekaragaman rendah terdapat pada komunitas dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sedangkan keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan komunitas lingkungan optimum, misalnya daerah subur, tanah kaya, dan daerah pegunungan. Sedangkan menurut Odum (1998), keanekaragaman jenis cenderung akan rendah dalam ekosistem yang secara fisik terkendali yaitu yang memiliki faktor pembatas fisika kimia yang kuat dan akan tinggi dalam ekosistem yang diatur secara alami.
Faktor lingkungan sangat berperan penting dalam menentukan berbagai pola penyebaran serangga tanah. Faktor biotik dan abiotik bekerja secara bersama-sama dalam suatu ekosistem, menentukan kehadiran, kelimpahan, dan penampilan organisme.
Beberapa parameter yang dapat diukur untuk mengetahui keadaan suatu ekosistem, misalnya dengan melihat nilai keanekaragaman. Keanekaragaman serangga tanah dapat dilihat dengan menghitung indeks diversitasnya. Ada dua faktor penting yang mempengaruhi keanekaragaman fauna tanah, yaitu kekayaan (Richness index) dan kemerataan spesies (Evennes index). Pada komunitas yang stabil indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis tinggi, sedangkan pada komunitas yang terganggu karena adanya campur tangan manusia kemungkinan indeks kekayaan jenis dan indeks kemerataan jenis rendah. Dan ekosistem yang mempunyai nilai diversitas tinggi umumnya memiliki rantai makanan yang lebih panjang dan kompleks, sehingga berpeluang lebih besar untuk terjadinya interaksi seperti pemangsaan, parasitisme, kompetisi, komensialisme, dan mutualisme (Odum, 1998).
Tingkat kenaekaragaman serangga tanah dipengaruhi lingkungan komunitas yang mereka tempati. Pada komunitas serangga yang stabil indeks keragaman tinggi diikuti dengan banyaknya jumlah serasah dalam satu lingkungan itu. Serangga tanah akan bertahan hidup dilingkungan dimana mereka mudah untuk memperoleh makan. Ketika indeks keanekaragaman serangga tanah rendah, kemungkinan lingkungan mereka kurang sesuai untuk dijadikan habitat, seperti dilingkungan yang kering yang jarang terdapat serasah untuk dirombak oleh serangga tanah.
Pada hutan homogen keanekaragam lebih tingi dibanding hutan heterogen Tingginya indeks keanekaragaman pada hutan homogen hal ini disebabkan pada hutan homogen vegetasi herba yang merupakan tempat hidup dan sumber makanan bagi serangga permukaan tanah ,lebih beragam dan rimbun bila dibandingkan dengan vegetasi heterogen. Pada hutan homogen tutupan kanopi dari vegetasi kurang rapat sehinga penetrasi sinar matahari lebih banyak, sehingga vegetasi herba atau rumput yang membutuhkan sinar matahari untuk kehidupan dapat dipenuhi. Sedangkan pada hutan heterogen tutupan kanopi lebih rapat, penetrasi sinar matahari lebih kurang. Hal ini yang menyebabkan indeks keanekaragaman lebih tinggi. Menurut Suhardjono dkk (1997) faktor vegetasi dapat mempengaruhi penyediaan habitat bagi serangga permukaan tanah.
.





BAB VI
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari penelitian metode pithfall di pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo adalah:
1.      Serangga tanah yang ditemukan di lokasi penelitian sebanyak 1296 yang masuk kedalam 13 Famili dan terbagi menjadi 7 Ordo antara lain Ordo Collembola, Ordo Blattaria, Ordo Orthoptera, Ordo Coleoptera, Ordo Dermaptera, Ordo Diptera dan Ordo Hymenoptera.
2.      Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai keragaman jenis serangga tanah sebanyak 4,1874, kekayaan 5,516644 dan kemerataan sebanyak 1,3754. Pada hutan disekitar pantai triangulsari ini didominansi stasiun 25 dengan jumlah prosentase 8,4105.
3.      Pola distribusi hewan tanah pada 25 stasiun umumnya mengelompok, merata, dan acak. Sebaran terbesar yang merata, dikarenakan rentangan jumlah kemerataan

5.2 SARAN
            Perlu dilakukan penelitian jangka panjang terhadap serangga permukaan tanah di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi,  Jawa Timur sehingga didapat data yang lebih akurat.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar