Selasa, 10 Juni 2014

Lelaki dengan badai di sudut bibirnya


Aku tak begitu mengenalnya. Sungguh.
Aku hanya memandangnya sekali, dan saat itu ada ombak berkecamuk dalam diriku yang membuatku akan sulit melihatnya lagi. Aku takut. Iya, ketakutan tak bisa menguasai diriku jika melihatnya untuk yang kedua kali.

Samar. Aku mengingatnya (lagi) siang ini
Dia tinggi. Berkulit legam bak pohon cemara yang sudah matang. Berbahu semampai yang kadangkala membuatku tertarik untuk merebahkan kepala. Dia punya mata yang berkilau tak kalah dengan mutiara.

Aku teringat
Pagi waktu itu, trotoar jalan pinggiran kampusku dipilih sebagai tempat duduknya. Sesekali dari jauh dengan malu aku melihat senyumnya. Beberapa kali juga dia menengokku, seakan mencari tahu apa yang membuat sepasang mataku mulai berawan.

Dia, lelaki dengan badai disudut bibirnya
Dengan sekali hentakan senyumnya bisa membuat duniaku kacau, bak dilanda badai tak ada yang bisa diselamatkan. Hatiku. Pikiranku. sejak saat itu sudah berhasil dibawanya.
Sebelum senyumnya terlepas
Sekali tebas
Semua terhempas

judul dan cara bertutur tulisan ini terinspirasi tulisan yang ditulis Adimas emanuel
Share:

mungkin kamu yang lebih tahu


Terbesit bermilyaran tanya pada hati
Apakah aku cukup memahami kamu? Karena tak baik menyimpan seseorang terlalu lama dalam ruang rindu. Bahkan aku berpikir keras untuk memastikan apakah kamu yang sering singgah dalam dadaku. Apakah aku harus mencoba mencari jawabannya? Aku rasa itu diluar kuasaku

Yang bisa kujelaskan tentangmu
Kamu adalah tinggi diantara segala hal tinggi yang susah ku raih
Kamu adalah diam diantara semua hal yang tak bisa dijelaskan
Kamu adalah rindu dari segala macam penantian

Dan yang aku pahami
Kamu sengaja memilih kehilangan untuk menunjukkan rindu
Kamu sengaja menebarkan untuk memberikan harapan
Kamu sengaja datang sebagai debur untuk membuatku menghambur

Ah, apalah..
Hanya saja aku masih sangat rindu
Entah seberapa kuat lagi aku menghadapi diriku sendiri
Dan entah harus berapa besar kekuatanku untuk meredam kesepian

Hai, kamu
Darimu aku belajar
Rinduku berjarak lima puluh lima kilometer, dan menghabiskan sesak selama satu jam perjalanan

Kelak ada waktunya rindu untuk memudar seiring hangat senyumanmu yang kian samar

judul dan cara bertutur tulisan ini terinspirasi tulisan yang ditulis Adimas emanuel
Share:

Astaga, aku hanya sedang rindu!


Dear kamu, yang beberapa bulan ini menguasai seluruh pikiran

Mungkin kamu tak akan pernah tahu berapa banyak air mata yang aku keluarin percuma hanya gara-gara sekedar rindu padamu atau meratapi keadaanku. Toh kamu punya banyak hal yang bisa membuatmu bahagia, banyak sekali perbincangan, kegiatan ataupun rencana untuk pergi ke tempat yang kamu sukai dengan entah siapa dan yang pasti tak akan pernah terbesit ada aku disana.

Mungkin pula kamu gak akan pernah merasakan bagaimana seseorang bersusah payah melakukan hal yang gak disukai demi kamu. Seakan menomor satukan kamu, sementara kamu bahkan tak tahu apa yang dia sukai. Ah benarlah, mungkin dia hanya seseorang yang begitu bodoh dengan menyiksa dirinya sendiri demi seseorang.

Nah, mungkin juga kamu tidak pernah sadar ada seseorang yang begitu mencintaimu dan kamu begitu dibutuhkannya. Benar juga, orang-orang hanya berpikir apa yang mereka butuhkan bukan yang orang lain butuhkan. Toh apa pedulimu?

Mungkin lagi kamu tidak akan pernah tau, betapa pedih kehilangan seseorang yang sangat diharapkan sementara orang yang begitu diharapkan tak pernah merasakan kehilangan sama sekali.

Dan mungkin juga, kamu tidak tahu bagaimana rasanya sakit tiap kali kamu bercerita panjang kepadaku tentang rencana-rencanamu atau caramu menghabiskan waktumu dengan segudang kegiatan dan teman-temanmu dan mungkin aku tak pernah masuk dalam rencana besarmu itu. Ah sudahlah, aku yakin kamu tidak akan pernah tahu.

Aku yakin, yang kamu tahu hanya bagaimana cara menghabiskan waktumu sesibuk mungkin, menghabiskannya dengan hobimu, lalu menceritakan panjang lebar ke orang lain (atau yang kamu bilang sharing) kemudian justru tak memberi kesempatan pada orang lain untuk menceritakan cerita mereka.

Oh iya, aku tahu. Mungkin yang kamu tahu itu adalah pergi ke suatu tempat. Hobi, tugas atau apalah kamu menamai kegiatanmu. Melakukan hal yang menyenangkan untukmu. Sampai kamu akan lupa apa yang bisa membuat kamu berdebar.
Sungguh dari awal harusnya aku tidak membiarkanmu melakukannya. Ah aku? Siapalah aku buatmu!

Tidak masalah kalau aku hanya teman berceritamu. Tak masalah juga kalau selama ini aku hanya kamu anggap sebagai buku agendamu tapi tanpa aku dalam agenda kedepanmu.
Yah begitu, aku tak pernah mempermasalahkannya

Karena yang salah aku
Aku yang bertanggung jawab atas kepedihan dan sakit karena menyukaimu dan juga atas khayalan-khayalan tentang dirimu serta kesepian yang hatiku buat sendiri. Aku juga yang salah ketika kamu menjadi seorang bajingan.

Aku menyukaimu. Sungguh.
Jangan pernah dengarkan orang lain, cukup dengarkan aku. Atau kalau bersamaku terlalu sulit bagimu maka pergilah. Pergilah jauh, dengan begitu aku bisa menghentikan cengkraman rindu. Dengan begitu (jika aku begitu beruntung) mungkin kamu akan merasakan apa itu rindu dan kehilangan.

Damn! Aku benar-benar sakit hati
Bukan padamu, tapi aku sendiri!
Aku merasa sangat bodoh karena menyukaimu

Ayolah, aku hanya sangat merindukanmu. Perbincangan kita, tempat itu, kamerakupun sangat merindukan sosokmu.

Aku bukan aktor drama yang bisa menunggu. Aku hanya ingin kamu menyadari ada AKU
Cepatlah sadar, sebelum kamu (jika aku beruntung) juga merasakan kehilangan

Bagi kamu yang entah membaca ini atau tidak, percayalah ada orang diluar sana yang mungkin terlalu sering kamu abaikan. Orang yang sangat merindukanmu. Ambil handphonemu, hubungi dia bodoh! Sebelum terlambat.
Share: