Rabu, 19 Juni 2013

filsafat sains



PENGERTIAN TENTANG FILSAFAT SAINS
A.          Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” (philos=suka kepada dan shophia=kebijaksanaan) Pada masa kerajaan Yunani, philosophia merupakan ajaran dari para cerdik-pandai atau ahli fikir tentang segala sesuatu yang dianggap benar. Jadi pada mulanya phlosophia berarti pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta. Penemuan-penemuan baru dengan menggunakan alat-alat canggih/akurat (misalnya teropong bintang) ternyata bisa mengubah pola-pola berfikir manusia yang cenderung lebih percaya pada kebenaran induktif (berdasarkan pengamatan) dari pada kebenaran filosof (berdasarkan pola fikir deduktif). Memang kenyataan banyak ajaran Aristoteles yang menjadi tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Sebagai dampaknya philosophia terpecah menjadi dua, yaitu :
1)              Aliran yang mendambakan kebenaran atas dasar induktif, yang kemudian menjadi aliran Epistemologiyang melahirkan metode ilmiah
2)              Aliran yang mendambakan kebenaran yang lebih hakiki sifatnya, yang tidak terjangkau oleh pengalaman manusia, yang kemudian menjadi aliran metafisika (di luar jangkauan fisika).

B.          Filsafat Sebagai Bagian dari Pengetahuan
Berdasarkan sumbernya, pengetahuan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari usaha manusia dan pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu Ilahi. Kemudian pengetahuan yang diperoleh dari usaha munusia dibedakan menjadi tiga, yakni :
1)              Pengetahuan ilmiah
2)              Pengetahuan filsafat
3)              Pengetahuan yang lain (tidak termasuk golongan pengetahuan ilmiah dan filsafat).

C.          Asal-Usul Filsafat
Sedikit banyak ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yakni: keheranan, rasa ingin tahu yang mendalam, dan kekaguman. Dari rasa heran, orang terdorong untuk mencari jawab atas pertanyaan mengapa demikian. Contoh keheranan orang Yunani atas alam semesta: langit berbintang, gerhana. Dari rasa ingin tahu (rasa ingin tahu merupakan naluri manusia), maka dapat dijawab melalui panca indra. Namun, sebagian besar yang lain tidak terjawab, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi, darimana benda langit tersebut, dsb. Untuk menjawab hal tersebut orang harus berfikir mendalam melampaui batas panca indra. Pendorong munculnya filsafat yang ke tiga adalah kagum. Orang yang merasa kagum selalu merasa dirinya kecil dan lemah, sedangkan yang dikagumi itu adalah besar dan hebat. Oleh sebab itu, kemudian muncul kagum pada alam, pada gunung, pada samudra, pada matahari, dsb. Dalam hal demikian, dirinya hanya merupakan bagian kecil atau tidak berarti dari yang mereka kagumi. Jadi pada hakikatnya filsafat itu bagaimanapun bentuknya adalah hasil olah pikir manusia yang sedalam-dalamnya tentang sesuatu.

Tabel 1. Perbandingan antara Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
Objek
Ilmu Pengetahuan
Filsafat
Asal
Hasil olah fikir manusia
Hasil olah fikir manusia
Tujuan
Mencari kebenaran
Mencari kebenaran
Kriteria kebenaran
Didasarkan atas kesesuaian dengan kenyataan yang konkrit
Didasarkan atas dasar logika deduksi
Bidang sasaran
Terbatas pada hal-hal yang bersifat nyata (fisik)
Tidak terbatas pada hal-hal yang fisik tapi menembus metafisik
Obyek pertanyaan

Apa, bagaimana, mengapa, di mana
Apa sebenarnya, dari mana asalnya, kemana akhirnya


D. Cabang-cabang Filsafat
Menurut bidang sasarannya filsafat dibedakan:
1.        Cosmologia (filsafat alam), yaitu filsafat yang mempunyai bidang sasaran alam semesta dengan segala isinya.
2.        Antropologia (filsafat manusia), yaitu filsafat yang mempunyai bidang sasaran manusia dengan perilaku, cara berpikir, seni, dan budayanya. Antropologia meliputi:
a.         Etika, mempunyai bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang tingkah laku manusia, mempermasalahkan tentang baik dan buruknya tingkah laku manusia.
b.        Estetika, mempunyai bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang budaya manusia, mempermasalahkan tentang keindahan.
c.         Logika, mempunyai bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang cara berpikir manusia, mempermasalahkan tentang benar dan salah.
d.        Teologia (filsafat agama), mempunyai bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang keberadaan Tuhan.
E. Hakikat dan Bidang Telaah Filsafat
                Filsafat pada hakikatnya adalah penafsiran dari apa yang ada di alam semesta ini dengan segala isinya melalui pemikiran untuk memperoleh kebenaran, makna, tujuan dan nilai-nilai. Filsafat dapat menelaah obyeknya melalui tiga sudut pandang, yaitu:
1.        Ontologis, merupakan sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “apa” sesungguhnya obyek yang diselidiki itu.
Contoh : Apa sesungguhnya hidup itu?
2.        Epistemologi, merupakan sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “dari mana asal-usul” dari obyek yang diselidiki itu.
Contoh : Dari mana asal-usul manusia itu?
3.        Axiologis, merupakan sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “kemanakah akhir dari segala sesuatu” obyek yang diselidiki itu. Dapat juga diartikan “apakah tujuan/manfaatnya”.
Contoh : Kemana akhir segala kehidupan itu?
             Apakah tujuan hidup ini?

F. Filsafat Sains
          Sains atau ilmu alam adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya dan disusun secara bersistem melalui metode ilmiah, di mana obyeknya adalah alam semesta. Filsafat adalah suatu pemikiran manusia untuk memahami hakikat dari suatu kenyataan untuk memperoleh kebenaran, makna, tujuan, dan nilai-nilai. Jadi filsafat sains adalah suatu pemikiran yang mendalam untuk memperoleh kebenaran, makna, tujuan, dan nilai-nilai dari sains (Ilmu Pengetahuan Alam). Adapun telaah filsafat sains meliputi tiga hal, yaitu:
1.           Apa sesungguhnya Sains itu?
2.           Dari mana atau bagaimana sains tersebut?, dan
3.           Apa tujuan/manfaat sains itu untuk kehidupan manusia?









DAFTAR PUSTAKA

Darmojo,  Hendro. Tanpa Tahun. Arti Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam.
Himsword, Harold. 1997. Pengetauan Keilmuan dan Pemikiran Filosofi. Bandung: ITB.
Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu Sebuh Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan





Share:

0 komentar:

Posting Komentar