PENGERTIAN
TENTANG FILSAFAT SAINS
A.
Pengertian
Filsafat
Filsafat
berasal dari kata Yunani “philosophia” (philos=suka kepada dan
shophia=kebijaksanaan) Pada masa kerajaan Yunani, philosophia merupakan ajaran
dari para cerdik-pandai atau ahli fikir tentang segala sesuatu yang dianggap
benar. Jadi pada mulanya phlosophia berarti pengetahuan tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan alam semesta. Penemuan-penemuan baru dengan menggunakan
alat-alat canggih/akurat (misalnya teropong bintang) ternyata bisa mengubah
pola-pola berfikir manusia yang cenderung lebih percaya pada kebenaran induktif
(berdasarkan pengamatan) dari pada kebenaran filosof (berdasarkan pola fikir
deduktif). Memang kenyataan banyak ajaran Aristoteles yang menjadi tidak sesuai
lagi dengan kenyataan. Sebagai dampaknya philosophia terpecah menjadi dua,
yaitu :
1)
Aliran yang mendambakan
kebenaran atas dasar induktif, yang kemudian menjadi aliran Epistemologiyang melahirkan metode
ilmiah
2)
Aliran yang mendambakan
kebenaran yang lebih hakiki sifatnya, yang tidak terjangkau oleh pengalaman
manusia, yang kemudian menjadi aliran metafisika (di luar jangkauan fisika).
B.
Filsafat
Sebagai Bagian dari Pengetahuan
Berdasarkan sumbernya,
pengetahuan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari
usaha manusia dan pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu Ilahi. Kemudian
pengetahuan yang diperoleh dari usaha munusia dibedakan menjadi tiga, yakni :
1)
Pengetahuan ilmiah
2)
Pengetahuan filsafat
3)
Pengetahuan yang lain
(tidak termasuk golongan pengetahuan ilmiah dan filsafat).
C.
Asal-Usul
Filsafat
Sedikit
banyak ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yakni: keheranan, rasa ingin
tahu yang mendalam, dan kekaguman. Dari rasa heran, orang terdorong untuk
mencari jawab atas pertanyaan mengapa demikian. Contoh keheranan orang Yunani
atas alam semesta: langit berbintang, gerhana. Dari rasa ingin tahu (rasa ingin
tahu merupakan naluri manusia), maka dapat dijawab melalui panca indra. Namun,
sebagian besar yang lain tidak terjawab, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi,
darimana benda langit tersebut, dsb. Untuk menjawab hal tersebut orang harus
berfikir mendalam melampaui batas panca indra. Pendorong munculnya filsafat
yang ke tiga adalah kagum. Orang yang merasa kagum selalu merasa dirinya kecil
dan lemah, sedangkan yang dikagumi itu adalah besar dan hebat. Oleh sebab itu,
kemudian muncul kagum pada alam, pada gunung, pada samudra, pada matahari, dsb.
Dalam hal demikian, dirinya hanya merupakan bagian kecil atau tidak berarti
dari yang mereka kagumi. Jadi pada hakikatnya filsafat itu bagaimanapun
bentuknya adalah hasil olah pikir manusia yang sedalam-dalamnya tentang
sesuatu.
Tabel
1. Perbandingan antara Ilmu Pengetahuan dan Filsafat
|
Objek
|
Ilmu
Pengetahuan
|
Filsafat
|
|
Asal
|
Hasil
olah fikir manusia
|
Hasil
olah fikir manusia
|
|
Tujuan
|
Mencari
kebenaran
|
Mencari
kebenaran
|
|
Kriteria
kebenaran
|
Didasarkan
atas kesesuaian dengan kenyataan yang konkrit
|
Didasarkan
atas dasar logika deduksi
|
|
Bidang
sasaran
|
Terbatas
pada hal-hal yang bersifat nyata (fisik)
|
Tidak
terbatas pada hal-hal yang fisik tapi menembus metafisik
|
|
Obyek pertanyaan
|
Apa,
bagaimana, mengapa, di mana
|
Apa
sebenarnya, dari mana asalnya, kemana akhirnya
|
Menurut bidang
sasarannya filsafat dibedakan:
1.
Cosmologia (filsafat
alam), yaitu filsafat yang mempunyai bidang sasaran alam semesta dengan segala
isinya.
2.
Antropologia (filsafat
manusia), yaitu filsafat yang mempunyai bidang sasaran manusia dengan perilaku,
cara berpikir, seni, dan budayanya. Antropologia meliputi:
a.
Etika, mempunyai bidang
sasaran tentang hal-ihwal tentang tingkah laku manusia, mempermasalahkan
tentang baik dan buruknya tingkah laku manusia.
b.
Estetika, mempunyai
bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang budaya manusia, mempermasalahkan
tentang keindahan.
c.
Logika, mempunyai bidang
sasaran tentang hal-ihwal tentang cara berpikir manusia, mempermasalahkan
tentang benar dan salah.
d.
Teologia (filsafat
agama), mempunyai bidang sasaran tentang hal-ihwal tentang keberadaan Tuhan.
E.
Hakikat dan Bidang
Telaah
Filsafat
Filsafat pada hakikatnya adalah penafsiran dari apa
yang ada di alam semesta ini dengan segala isinya melalui pemikiran untuk
memperoleh kebenaran, makna, tujuan dan nilai-nilai. Filsafat dapat menelaah
obyeknya melalui tiga sudut pandang, yaitu:
1.
Ontologis, merupakan
sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “apa” sesungguhnya
obyek yang diselidiki itu.
Contoh
: Apa sesungguhnya hidup itu?
2.
Epistemologi, merupakan
sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “dari mana asal-usul”
dari obyek yang diselidiki itu.
Contoh
: Dari mana asal-usul manusia itu?
3.
Axiologis, merupakan
sudut pandang filsafat yang mencari jawab atas pertanyaan “kemanakah akhir dari
segala sesuatu” obyek yang diselidiki itu. Dapat juga diartikan “apakah
tujuan/manfaatnya”.
Contoh
: Kemana akhir segala kehidupan itu?
Apakah tujuan hidup ini?
F.
Filsafat
Sains
Sains atau ilmu alam adalah
pengetahuan yang telah diuji kebenarannya dan disusun secara bersistem melalui
metode ilmiah, di mana
obyeknya adalah alam semesta. Filsafat adalah suatu pemikiran manusia untuk
memahami hakikat dari suatu kenyataan untuk memperoleh kebenaran, makna,
tujuan, dan nilai-nilai. Jadi filsafat sains adalah suatu pemikiran yang
mendalam untuk memperoleh kebenaran, makna, tujuan, dan nilai-nilai dari sains
(Ilmu Pengetahuan Alam). Adapun telaah filsafat sains meliputi tiga hal, yaitu:
1.
Apa sesungguhnya Sains
itu?
2.
Dari mana atau
bagaimana sains tersebut?, dan
3.
Apa tujuan/manfaat
sains itu untuk kehidupan manusia?
DAFTAR PUSTAKA
Darmojo,
Hendro. Tanpa Tahun. Arti Filsafat
Ilmu Pengetahuan Alam.
Himsword, Harold. 1997. Pengetauan Keilmuan dan Pemikiran Filosofi. Bandung: ITB.
Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu Sebuh Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan