Sabtu, 14 November 2015

Sampai aku bisa benar-benar melepasmu (part 1)


Aku tidak akan membahas lagi tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau segala macam usahaku yang tersia-siakan, toh seberapa keraspun aku menjelaskan kamu tidak mengalami dan merasakan sendiri.

Sekarang, aku beranikan diri untuk menemuimu. Hal yang dulu tidak pernah aku lakukan karena takut mungkin aku akan berderai air mata atau mulutku tidak hentinya memakimu ataupula takut hatiku luluh kembali karenamu. Mungkin dulu kamu terlalu sering mengajakku bertemu, namun jarang aku hiraukan. Karena mengobati luka tak semudah dan secepat kamu mengirim sms. Tetapi, kali ini aku sudah sangat siap. Karena hatiku sudah tak sesakit dulu dan pikiranku sudah tak meronta mengenang kita dulu. So, here I’m. Menguji hati dan pikiranku untuk menemui lagi.

Semua temanku pasti tau, bukan aku yang memintanya, karena sifat egoku yang memaksa, “untuk apa mengajaknya bertemu? Kalau dia yang melepasmu”. Untungnya kamu kembali meminta bertemu, sebab mungkin aku tak pernah berniat menemui kembali. Dulu betapa seringnya aku mengemis untuk bertahan, hal yang aku sayangkan sekarang. Bayangkan kalau kita memutuskan untuk kembali? Dan setelah itu kamu lepaskan aku lagi? Bukannya aku akan merasakan sakit berkali-kali?. Jadi, mari kita bertemu, dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi, karena aku sudah benar-benar melepasmu
Share:

Jumat, 24 April 2015

aku dan dia

Dia suka lihat film action, aku suka lihat film horror. Tapi saat fast and furious keluar, aku ikut nonton menemaninya. Dan banyak dari film horror yang sudah aku lihat, hasil dari downloadtannya.

Dia tidak pernah memaksaku menonton film kesukaannya sebagaimana aku tidak pernah memaksanya menonton film horror. aku rasa dia dapat berteriak dengan sekencangnya ketika melihat Annabelle. Dia pun untungnya suka nonton, sebagaimana aku yang tak pernah melewatkan satu film dalam sehari.

Dia suka makan pedas, aku tidak. Akhirnya selalu membeli makanan apapun dalam dua rasa. Pelan-pelan, aku mulai suka rasa pedas, dan diapun mulai terbiasa mengurangi cabe dalam makanannya.

Dia tidak suka aku memakai baju seksi, dan aku tidak suka dia kemana-mana tanpa sisiran. Lalu karena dia menyanyangiku,  dia mulai menyisir rambutnya. Tidak harus memakai gel rambut, asal rapi. Dia selalu bilang aku berharga untuknya, jadi seharusnya yang berharga tidak diumbar kemana-mana. Dan akupun mengurangi berpakaian seksi.

Dia jago maen game. Meski belum pernah melihatnya langsung memainkan gamenya, aku rasa dia memang hebat, sehebat jumlah file game yang ada di laptopnya. Dia juga merawat game Pou ku, memberinya makan dan sesekali memandikannya. Aku kadang geli melihatnya.

Dia mudah tertidur, sementara aku justru terbiasa begadang. Kadang, aku tidur lebih awal dari biasanya atau dia yang ikut begadang menemaniku. Dia sering membeli kopi, dan setiap kali aku bertanya dengan jawaban yang sama, “Gak apa, lagian aku gak bisa tidur.” Kalo ngopi mana bisa tidur? Aku tahu dia hanya ingin menemaniku.

Kami pernah bertengkar. Sering. Dari awal kita menjalin hubungan, dia sering mengatakan bahwa tidak bisa menjamin hidup kami akan selalu bahagia.

Dia yang sabar dan suka ngomel, aku yang tukang marah dan ngambek. Dia yang tertawa, aku yang bercerita lelucon. Dia yang memelukku, aku yang bermanja-manja.

Saat aku marah, dia berusaha menjelaskan. Ketika marah aku lebih banyak diam, kalau saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Dia selalu mengalah, namun tetap mengomel. Omelannya lebih berisik dari omelan ibuku. Kadang justru membuatku tambah kesal. Tak apa. Aku menyanyanginya. Setelah itu, biasanya dia akan meminta maaf. Lalu kami kembali berbicara seperti biasa lagi.


Jelas, kami sangat berbeda dari berbagai hal. Tetapi tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi. Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama, kenapa harus meributkan semua yang beda?
Share:

Minggu, 02 November 2014

dear sayang

Hai Mas Sep...

kamu sudah mengenalku dengan baik kan?
Kamu sudah tau kalau aku adalah wanita yang tak pandai mengungkapkan isi hati. Jangankan isi hati, kamu ajak ngobrol aja susah. Iya kan sayang? Aku memang tak pandai bicara. inilah aku. Tolong mengerti dan bersabarlah menghadapi aku

Sayang, aku memanggilmu sayang. Bagaimana? Maaf kalau aku terlalu gugup memanggilmu sayang secara langsung. Ketika kamu membaca ini, ku harap kamu tersenyum dengan tingkah bodohku.

Sayang, aku memang tak pandai memanjakanmu seperti wanita lain yang memanjakan lelakinya. Tapi ketahuilah aku selalu ingin membuatmu nyaman bersamaku. Aku masih mencoba, ajari aku ketika aku tak bisa membuatmu  nyaman bersamaku

Sayang, aku bahkan tak bisa merajut kata-kata bualan seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Ah kamu pasti tahu ini, maaf sayang. Lagi-lagi aku membuatmu kecewa.

Sayang, aku seorang pencemburu gila, namun selalu ku tahan amarahku dengan sebuah kepercayaan. Jarak terlalu tega memisahkan kita, aku usahakan bisa dipercaya, kamu juga ya disana.
Aku juga suka ngambek ya? Ah tapi aku selalu ingin terlihat ceria didepanmu. Aku marah hanya untuk memancing perhatianmu sayang, bukan untuk mencari masalah apalagi sengaja tak menghiraukanmu. Sayang, maafkan aku kalau aku terlalu manja.


Sayang, aku masih belajar mencintai kamu, mengenal dan memahamimu. Jadi bersabarlah..

Share: