Dia
suka lihat film action, aku suka lihat film horror. Tapi saat fast and furious
keluar, aku ikut nonton menemaninya. Dan banyak dari film horror yang sudah aku
lihat, hasil dari downloadtannya.
Dia
tidak pernah memaksaku menonton film kesukaannya sebagaimana aku tidak pernah
memaksanya menonton film horror. aku rasa dia dapat berteriak dengan
sekencangnya ketika melihat Annabelle.
Dia pun untungnya suka nonton, sebagaimana aku yang tak pernah melewatkan satu
film dalam sehari.
Dia
suka makan pedas, aku tidak. Akhirnya selalu membeli makanan apapun dalam dua
rasa. Pelan-pelan, aku mulai suka rasa pedas, dan diapun mulai terbiasa
mengurangi cabe dalam makanannya.
Dia
tidak suka aku memakai baju seksi, dan aku tidak suka dia kemana-mana tanpa
sisiran. Lalu karena dia menyanyangiku, dia mulai menyisir rambutnya. Tidak harus
memakai gel rambut, asal rapi. Dia selalu bilang aku berharga untuknya, jadi
seharusnya yang berharga tidak diumbar kemana-mana. Dan akupun mengurangi
berpakaian seksi.
Dia
jago maen game. Meski belum pernah melihatnya langsung memainkan gamenya, aku
rasa dia memang hebat, sehebat jumlah file game yang ada di laptopnya. Dia juga
merawat game Pou ku, memberinya makan dan sesekali memandikannya. Aku kadang
geli melihatnya.
Dia
mudah tertidur, sementara aku justru terbiasa begadang. Kadang, aku tidur lebih
awal dari biasanya atau dia yang ikut begadang menemaniku. Dia sering membeli
kopi, dan setiap kali aku bertanya dengan jawaban yang sama, “Gak apa, lagian
aku gak bisa tidur.” Kalo ngopi mana bisa
tidur? Aku tahu dia hanya ingin menemaniku.
Kami
pernah bertengkar. Sering. Dari awal kita menjalin hubungan, dia sering
mengatakan bahwa tidak bisa menjamin hidup kami akan selalu bahagia.
Dia
yang sabar dan suka ngomel, aku yang tukang marah dan ngambek. Dia yang
tertawa, aku yang bercerita lelucon. Dia yang memelukku, aku yang
bermanja-manja.
Saat
aku marah, dia berusaha menjelaskan. Ketika marah aku lebih banyak diam, kalau
saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Dia selalu mengalah, namun tetap
mengomel. Omelannya lebih berisik dari omelan ibuku. Kadang justru membuatku
tambah kesal. Tak apa. Aku menyanyanginya. Setelah itu, biasanya dia akan
meminta maaf. Lalu kami kembali berbicara seperti biasa lagi.
Jelas,
kami sangat berbeda dari berbagai hal. Tetapi
tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi.
Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama,
kenapa harus meributkan semua yang beda?
Soswittt
BalasHapus