Aku tau kamu
akan pergi, aku hanya tak tau akan akan secepat dan semudah ini.
Dari awal, aku
sudah ikhlas. Bukan saat kamu mulai menyukai wanita lain, tapi justru sejak
awal kamu datang bahkan semenjak awal kita berkenalan. Aku sudah belajar dari
pengalaman, tak mudah menyukai orang hanya dari satu pihak, apalagi pihak
satunya tak mau mencoba menyukai.
Aku pernah
berencana menjadikanmu sebagai salah satu daftar dari masa depanku, tentu karena
sikapmu di awal yang seakan bisa belajar menyukaiku. Tapi itupun masih rencana.
Jika masih rencana seberapa persenpun
kepastiannya, tetaplah masih wacana.
Dari sana aku
mengerti, semua masih tidak pasti sebelum itu pasti.
Begitupun kamu
Setelah kita
berkenalan cukup lama, aku tahu dua hal. Kita bisa berpisah, atau bisa berpasangan.
Seiring berjalannya waktu, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Masih banyak
orang lain yang akan kita temui. Bisa jadi aku sebenarnya tak suka kamu, hanya
merasa nyaman dengan kamu misalnya. Hanya
merasa nyaman ketika berdua, bukan berarti itu cinta. Bisa jadi juga, kamu
mulai menyukaiku atau juga justru menyukai orang lain.
Dan benar. Aku tau
kamu akan pergi. Aku hanya tak tau akan semudah ini.
Tetapi aku tau
satu hal, rasa suka-ku ke kamu itu mungkin hanya rasa nyaman bukan cinta. Karena
ketika kamu pergi aku tak mengalami sakit hati sama sekali. Tau apa yang paling
menyenangkan tentang kamu? Aku tidak harus berpura-pura menjadi orang lain saat
bersamamu, karena kamu bahkan tak tau kalau aku suka kamu. Itu hal yang paling
menyenangkan dari kamu, aku tak perlu repot menutupi rasa suka-ku yang jarang atau bahkan tak kamu ketahui.
Seperti kata Tere Liye:
Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar
photo by: @sinasiav
Judul dan cara bertutur terinspirasi dari tulisan Namara
Jadi, apa ya?
