Minggu, 18 Desember 2016

Random: Apa ya? #2

Aku tau kamu akan pergi, aku hanya tak tau akan akan secepat dan semudah ini.

Dari awal, aku sudah ikhlas. Bukan saat kamu mulai menyukai wanita lain, tapi justru sejak awal kamu datang bahkan semenjak awal kita berkenalan. Aku sudah belajar dari pengalaman, tak mudah menyukai orang hanya dari satu pihak, apalagi pihak satunya tak mau mencoba menyukai.

Aku pernah berencana menjadikanmu sebagai salah satu daftar dari masa depanku, tentu karena sikapmu di awal yang seakan bisa belajar menyukaiku. Tapi itupun masih rencana. Jika masih rencana seberapa persenpun kepastiannya, tetaplah masih wacana.

Dari sana aku mengerti, semua masih tidak pasti sebelum itu pasti.

Begitupun kamu

Setelah kita berkenalan cukup lama, aku tahu dua hal. Kita bisa berpisah, atau bisa berpasangan. Seiring berjalannya waktu, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Masih banyak orang lain yang akan kita temui. Bisa jadi aku sebenarnya tak suka kamu, hanya merasa nyaman dengan kamu misalnya. Hanya merasa nyaman ketika berdua, bukan berarti itu cinta. Bisa jadi juga, kamu mulai menyukaiku atau juga justru menyukai orang lain.

Dan benar. Aku tau kamu akan pergi. Aku hanya tak tau akan semudah ini.

Tetapi aku tau satu hal, rasa suka-ku ke kamu itu mungkin hanya rasa nyaman bukan cinta. Karena ketika kamu pergi aku tak mengalami sakit hati sama sekali. Tau apa yang paling menyenangkan tentang kamu? Aku tidak harus berpura-pura menjadi orang lain saat bersamamu, karena kamu bahkan tak tau kalau aku suka kamu. Itu hal yang paling menyenangkan dari kamu, aku tak perlu repot menutupi rasa suka-ku yang  jarang atau bahkan tak kamu ketahui.

Seperti kata Tere Liye:

Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar

photo by: @sinasiav
Judul dan cara bertutur terinspirasi dari tulisan Namara


Jadi, apa ya?
Share:

Jumat, 16 Desember 2016

Kalau Ada Kamu

Tanpa kamu, aku masih bisa mendengarkan lagu dan bernyanyi tanpa kenal waktu. Menikmati waktu meski setelah itu kelelahan.

Tanpa kamu, aku masih bisa menonton film apapun yang aku suka entah dibioskop atau komputerku. Sambil tiduran dan bersenang-senang, sampai akhirnya ketiduran.

Tanpa kamu, aku masih bisa tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita lucu dari temanku atau sekedar melihat meme lucu di instagram.


Tapi mungkin aku tidak harus berusaha terlalu keras menikmati semuanya, 
Kalau ada kamu
photo by: @sinasiav
Judul dan cara bertutur terinspirasi dari tulisan Namara
Share:

Sabtu, 03 Desember 2016

Ini, (baru) untuk kamu

Sorry, I didn’t mean to offend thee!

Sebelumnya aku jelaskan alasan menulis ini. 

Aku tak masalah bila kamu sering bergosip atau bergunjing tentangku dibelakang. Itu hak kamu/kalian. Aku paham itu, aku banyak salah dari perkataan dan tingkah laku. Pun kamu.

Aku tak masalah bila temanku menganggap aku buruk. Karena seburuk apapun orang pasti ada baiknya. Tergantung cara orang melihatnya dan pandai mengikapi guncingan. Dan sungguh aku tak marah atau terganggu akan guncingan apapun.

Yang aku permasalahkan ketika orang yang dekat denganku mulai terganggu dengan omongan buruk tentangku. Atau mulai sering mempertanyakan kebenaran beritanya. Yang tentu alur ceritanya sudah berubah.
Awalnya tak masalah, sungguh. Satu persatu aku jelaskan masalahnya. Tapi lama kelamaan akhirnya membesar. Satu persatu sudah tidak percaya lagi karna kemakan omongan. Sampai sini juga aku tak mempermasalahkan ini. Anggap saja begini, yang menjauhimu artinya tidak mengenalmu dengan baik. Toh masih ada aja yang selalu bertahan bersamaku. 

Tapi apa kamu tidak merasa ini berlebihan?

Permasalah utama
Aku tegaskan ini untuk yang kesekian kali “aku tidak (sekarang) menulis status bbm/instagram/twitter/facebook/dll untuk menyindir kamu” mungkin dulu iya. Tapi sekarang tidak, setelah aku tau mungkin kamu sakit hati karnanya. Jadi berhenti seolah statusku untuk kamu

Aku nulis status jatuh cinta, kamu jadikan gosip hubunganku dengan banyak pria. Menuduh ini itu. Menyukai pria beristri. Karna gosipmu hubunganku dengan dia (pria beristri) jadi canggung. Padahal kami hanya membicarakan masalah banner dan handphone. Bagaimana itu bisa disebut cinta?

Aku nulis sedih, kamu guncingkan lagi kalo nyindir gak diajak main. Sekalipun kamu dan temanmu tak pernah sekalipun mencoba mengajakku keluar. I’m oke. Itu terserah kalian. Dan tak sekalipun aku iri dengan kebersamaan kalian. Justru aku ikut senang. 

Kamu sindir aku, juga gak apa apa. Itu hak kamu. Lakukan yang kamu mau. Tapi jangan ceritakan hal-hal negatif untuk orang yang dekat denganku. Aku juga punya hak bahagia dengan teman dan lingkunganku.

Aku tak sejahat itu. 

Apa kamu tidak lelah dengan perselisihan kita yang tanpa sebab? 

Kamu yang tiba-tiba menghindariku. Mengira aku menyindirimu. Padahal TIDAK

Aku sudah tak menyindirmu lagi, sudah lama. Lama sekali. Sudah saatnya kamu memikirkan diri sendiri. Aku sudah cukup dewasa untuk memikirkan diriku sendiri tanpa perlu bantuan.
Dan ini tulisanku yang memang untuk nyindir kamu untuk yang terakhir. Maaf kalau mungkin aku terlalu banyak membuat masalah untukmu. Ternyata jadi teman bukan hal mudah untuk kita berdua. Jadi lebih baik, kita berjalan dengan hati yang ikhlas. Maafkan segalanya, pun seperti aku selalu memaafkan dan  memahamimu mengapa melakukannya.

Be gentle, dear!
just quote, don't think too much


Share: