- Kalau niatnya berjuang, ya kamu harus mampu bertahan.
- Berjuang itu bersama-sama, bukan hanya satu yang berjuang, yang lainnya menunggu hasil.
- Adakah kemenangan tanpa strategi yang bagus? Maka kamu harus bersabar.
- Inginnya menyenangkan, usahanya tidak, kenyataannya pun tidak sesuai.
- Seharusnya tak usah menyakinkan untuk memperjuangkan kalau pada akhirnya ingin pergi diam-diam.
- Kangennya banget, nurunin ngeluhnya yang gak banget.
- Kalau masih membenci atau sakit hati, berarti masih memikirkan. Kalau masih memikirkan, berarti belum bisa melepaskan (Namara).
- Pada akhirnya, semua usaha yang udah dilakukan dan hanya tersisa sia-sia, aku hanya bisa bertanya “Segini aja bertahannya?”
Sabtu, 14 November 2015
Sampai aku bisa benar-benar melepasmu (part 1)
Aku tidak akan membahas lagi tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau segala macam usahaku yang tersia-siakan, toh seberapa keraspun aku menjelaskan kamu tidak mengalami dan merasakan sendiri.
Sekarang, aku beranikan diri untuk menemuimu. Hal yang dulu tidak pernah aku lakukan karena takut mungkin aku akan berderai air mata atau mulutku tidak hentinya memakimu ataupula takut hatiku luluh kembali karenamu. Mungkin dulu kamu terlalu sering mengajakku bertemu, namun jarang aku hiraukan. Karena mengobati luka tak semudah dan secepat kamu mengirim sms. Tetapi, kali ini aku sudah sangat siap. Karena hatiku sudah tak sesakit dulu dan pikiranku sudah tak meronta mengenang kita dulu. So, here I’m. Menguji hati dan pikiranku untuk menemui lagi.
Semua temanku pasti tau, bukan aku yang memintanya, karena sifat egoku yang memaksa, “untuk apa mengajaknya bertemu? Kalau dia yang melepasmu”. Untungnya kamu kembali meminta bertemu, sebab mungkin aku tak pernah berniat menemui kembali. Dulu betapa seringnya aku mengemis untuk bertahan, hal yang aku sayangkan sekarang. Bayangkan kalau kita memutuskan untuk kembali? Dan setelah itu kamu lepaskan aku lagi? Bukannya aku akan merasakan sakit berkali-kali?. Jadi, mari kita bertemu, dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi, karena aku sudah benar-benar melepasmu
Jumat, 24 April 2015
aku dan dia
Dia
suka lihat film action, aku suka lihat film horror. Tapi saat fast and furious
keluar, aku ikut nonton menemaninya. Dan banyak dari film horror yang sudah aku
lihat, hasil dari downloadtannya.
Dia
tidak pernah memaksaku menonton film kesukaannya sebagaimana aku tidak pernah
memaksanya menonton film horror. aku rasa dia dapat berteriak dengan
sekencangnya ketika melihat Annabelle.
Dia pun untungnya suka nonton, sebagaimana aku yang tak pernah melewatkan satu
film dalam sehari.
Dia
suka makan pedas, aku tidak. Akhirnya selalu membeli makanan apapun dalam dua
rasa. Pelan-pelan, aku mulai suka rasa pedas, dan diapun mulai terbiasa
mengurangi cabe dalam makanannya.
Dia
tidak suka aku memakai baju seksi, dan aku tidak suka dia kemana-mana tanpa
sisiran. Lalu karena dia menyanyangiku, dia mulai menyisir rambutnya. Tidak harus
memakai gel rambut, asal rapi. Dia selalu bilang aku berharga untuknya, jadi
seharusnya yang berharga tidak diumbar kemana-mana. Dan akupun mengurangi
berpakaian seksi.
Dia
jago maen game. Meski belum pernah melihatnya langsung memainkan gamenya, aku
rasa dia memang hebat, sehebat jumlah file game yang ada di laptopnya. Dia juga
merawat game Pou ku, memberinya makan dan sesekali memandikannya. Aku kadang
geli melihatnya.
Dia
mudah tertidur, sementara aku justru terbiasa begadang. Kadang, aku tidur lebih
awal dari biasanya atau dia yang ikut begadang menemaniku. Dia sering membeli
kopi, dan setiap kali aku bertanya dengan jawaban yang sama, “Gak apa, lagian
aku gak bisa tidur.” Kalo ngopi mana bisa
tidur? Aku tahu dia hanya ingin menemaniku.
Kami
pernah bertengkar. Sering. Dari awal kita menjalin hubungan, dia sering
mengatakan bahwa tidak bisa menjamin hidup kami akan selalu bahagia.
Dia
yang sabar dan suka ngomel, aku yang tukang marah dan ngambek. Dia yang
tertawa, aku yang bercerita lelucon. Dia yang memelukku, aku yang
bermanja-manja.
Saat
aku marah, dia berusaha menjelaskan. Ketika marah aku lebih banyak diam, kalau
saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Dia selalu mengalah, namun tetap
mengomel. Omelannya lebih berisik dari omelan ibuku. Kadang justru membuatku
tambah kesal. Tak apa. Aku menyanyanginya. Setelah itu, biasanya dia akan
meminta maaf. Lalu kami kembali berbicara seperti biasa lagi.
Jelas,
kami sangat berbeda dari berbagai hal. Tetapi
tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi.
Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama,
kenapa harus meributkan semua yang beda?