Sabtu, 14 November 2015

Segini aja bertahannya?

  1. Kalau niatnya berjuang, ya kamu harus mampu bertahan.
  2. Berjuang itu bersama-sama, bukan hanya satu yang berjuang, yang lainnya menunggu hasil.
  3. Adakah kemenangan tanpa strategi yang bagus? Maka kamu harus bersabar.
  4. Inginnya menyenangkan, usahanya tidak, kenyataannya pun tidak sesuai.
  5. Seharusnya tak usah menyakinkan untuk memperjuangkan kalau pada akhirnya ingin pergi diam-diam.
  6. Kangennya banget, nurunin ngeluhnya yang gak banget.
  7. Kalau masih membenci atau sakit hati, berarti masih memikirkan. Kalau masih memikirkan, berarti belum bisa melepaskan (Namara).
  8. Pada akhirnya, semua usaha yang udah dilakukan dan hanya tersisa sia-sia, aku hanya bisa bertanya “Segini aja bertahannya?”

Share:

Sampai aku bisa benar-benar melepasmu (part 1)


Aku tidak akan membahas lagi tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau segala macam usahaku yang tersia-siakan, toh seberapa keraspun aku menjelaskan kamu tidak mengalami dan merasakan sendiri.

Sekarang, aku beranikan diri untuk menemuimu. Hal yang dulu tidak pernah aku lakukan karena takut mungkin aku akan berderai air mata atau mulutku tidak hentinya memakimu ataupula takut hatiku luluh kembali karenamu. Mungkin dulu kamu terlalu sering mengajakku bertemu, namun jarang aku hiraukan. Karena mengobati luka tak semudah dan secepat kamu mengirim sms. Tetapi, kali ini aku sudah sangat siap. Karena hatiku sudah tak sesakit dulu dan pikiranku sudah tak meronta mengenang kita dulu. So, here I’m. Menguji hati dan pikiranku untuk menemui lagi.

Semua temanku pasti tau, bukan aku yang memintanya, karena sifat egoku yang memaksa, “untuk apa mengajaknya bertemu? Kalau dia yang melepasmu”. Untungnya kamu kembali meminta bertemu, sebab mungkin aku tak pernah berniat menemui kembali. Dulu betapa seringnya aku mengemis untuk bertahan, hal yang aku sayangkan sekarang. Bayangkan kalau kita memutuskan untuk kembali? Dan setelah itu kamu lepaskan aku lagi? Bukannya aku akan merasakan sakit berkali-kali?. Jadi, mari kita bertemu, dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi, karena aku sudah benar-benar melepasmu
Share:

Jumat, 24 April 2015

aku dan dia

Dia suka lihat film action, aku suka lihat film horror. Tapi saat fast and furious keluar, aku ikut nonton menemaninya. Dan banyak dari film horror yang sudah aku lihat, hasil dari downloadtannya.

Dia tidak pernah memaksaku menonton film kesukaannya sebagaimana aku tidak pernah memaksanya menonton film horror. aku rasa dia dapat berteriak dengan sekencangnya ketika melihat Annabelle. Dia pun untungnya suka nonton, sebagaimana aku yang tak pernah melewatkan satu film dalam sehari.

Dia suka makan pedas, aku tidak. Akhirnya selalu membeli makanan apapun dalam dua rasa. Pelan-pelan, aku mulai suka rasa pedas, dan diapun mulai terbiasa mengurangi cabe dalam makanannya.

Dia tidak suka aku memakai baju seksi, dan aku tidak suka dia kemana-mana tanpa sisiran. Lalu karena dia menyanyangiku,  dia mulai menyisir rambutnya. Tidak harus memakai gel rambut, asal rapi. Dia selalu bilang aku berharga untuknya, jadi seharusnya yang berharga tidak diumbar kemana-mana. Dan akupun mengurangi berpakaian seksi.

Dia jago maen game. Meski belum pernah melihatnya langsung memainkan gamenya, aku rasa dia memang hebat, sehebat jumlah file game yang ada di laptopnya. Dia juga merawat game Pou ku, memberinya makan dan sesekali memandikannya. Aku kadang geli melihatnya.

Dia mudah tertidur, sementara aku justru terbiasa begadang. Kadang, aku tidur lebih awal dari biasanya atau dia yang ikut begadang menemaniku. Dia sering membeli kopi, dan setiap kali aku bertanya dengan jawaban yang sama, “Gak apa, lagian aku gak bisa tidur.” Kalo ngopi mana bisa tidur? Aku tahu dia hanya ingin menemaniku.

Kami pernah bertengkar. Sering. Dari awal kita menjalin hubungan, dia sering mengatakan bahwa tidak bisa menjamin hidup kami akan selalu bahagia.

Dia yang sabar dan suka ngomel, aku yang tukang marah dan ngambek. Dia yang tertawa, aku yang bercerita lelucon. Dia yang memelukku, aku yang bermanja-manja.

Saat aku marah, dia berusaha menjelaskan. Ketika marah aku lebih banyak diam, kalau saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Dia selalu mengalah, namun tetap mengomel. Omelannya lebih berisik dari omelan ibuku. Kadang justru membuatku tambah kesal. Tak apa. Aku menyanyanginya. Setelah itu, biasanya dia akan meminta maaf. Lalu kami kembali berbicara seperti biasa lagi.


Jelas, kami sangat berbeda dari berbagai hal. Tetapi tidak harus salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi. Karena alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama, kenapa harus meributkan semua yang beda?
Share: