Minggu, 03 Januari 2016

untuk Peyempuan

Tulisan saya kali ini,saya peruntukkan bagi perempuan-perempuan yang sudah terlalu sering merasakan sakit hati, yang tak bisa saya peluk satu persatu, saya usap tangisnya, saya dengarkan setiap ceritanya dan saya omeli kebodohannya.

Hai ukhti.
Saya sering jatuh hati, sama indahnya seperti yang kamu rasakan. Ada baiknya, ada debar-debarnya, dan banyak kupu-kupu berterbangan didalam dada.Tak kalah dengan jatuh hati, saya juga tahu bagaimana rasanya sakit hati, ketika indahnya senjapun dapat menambah sayatan hati.
Ukhti, bukan berarti karena kita pernah merasakan sedih lalu lupa hal yang membahagiakan saat jatuh hati, sebab itu pertahankan apa yang membuatmu bahagia. Mempertahankan berbeda dengan pasrah tersakiti ya.

Tak sedikit lelaki yang tak mengerti, bahwa ketika seorang perempuan rela memaafkan, rela menunggu, bahkan mengalah adalah sebuah perjuangan.Ya perjuangan menahan egonya sendiri.
Jadi, lebih mudahnya begini.Teman saya (sebut saja Kanayas), pernah mengalami pertengkaran hebat, dia jadi malas berbicara dan hanya manyun seharian atau bertengkar kemudian menangis hebat sampai sesenggukan (ini juga teman saya, sebut saja Embun), (mohon maaf sebesar-besarnya untuk kedua teman saya ini).Pasti kalian juga punya teman yang mengalami cerita yang sama. atau kamu sendiri? Dan kebetulan si lelaki (ehmm) meminta maaf duluan diakhir pertengkaran. Nah saya sendiri jika mengalami pertengkaran pasti inginnya si lelaki dulu yang minta maaf. Dan kita kaum perempuan pasti (ehmm) mau memaafkan. Kita sudah berjuangkan?

Kemudian banyak meme, komik, atau gambar yang bertuliskan “lelaki selalu salah”. Lahkan kalau lelaki salah bukannya memang harus meminta maaf duluan?. Saya pribadi pernah mengalami hal seperti itu, ketika teman (ex) lelaki saya (sebut saja Wifi) berkata “telat ngabarin ngambek, main sama temannya bentar aja marah, dll”. Lalu saya harus bagaimana? Apa membiarkan dia begitu saja tanpa ada kabar? Apa saya harus tak peduli apa yang dia lakukan dengan teman-temannya?. Karena BENTAR bagi perempuan dan laki-laki berbeda. Apakah kalian kaum lelaki masih tak mau dibilang salah?

Nah, bagaimana kalau perempuan yang salah. Tentu saja kita akan meminta maaf, tetapi apalah daya sebagai perempuan, kami akan lebih sering ngambek dulu, nangis dulu, kalau lelaki mau dengan lemah lembut mengerti bukan tak mungkin kita akan meminta maaf kalau salah.
Yang pasti, ketika perempuan telah meminta maaf atau memaafkan artinya ia telah melakukan perjuangan.

Hai Akhi, note that

Tulisan ini tidak untuk kalian baca (yang saya yakin ketika kalian membaca ini akan berteriak “KITA MAH APA ATUH, SALAH APA NGGAK SELALU MINTA MAAF), tulisan ini untuk teman perempuan saya.

Ukhti, jatuh cinta bisa berkali-kali kapanpun dan dimanapun namun tidak untuk hidup. Jadi hiduplah dengan bahagia, temukan seorang laki-laki yang dapat menjagamu, memuliakanmu, memperjuangkanmu dan mencintaimu sama besarnya seperti kau mencintainya.

Mari kita bergosip sebentar dengan pengalaman seorang perempuan ini, jadi bacalah dengan seksama. Beberapa bulan yang lalu (sebut saja Rizka) mengalami pertengkaran yang hebat dengan (ex) lelakinya, masalahnya karena si laki-laki pergi dengan teman-temannya tanpa ada kabar seharian, lebih parahnya lagi dia bebohong tentang kepulangannya kepada si perempuan. bukankah wajar apabila perempuan khawatir terhadap si lelaki? Sedangkan si perempuan hanya bisa menunggunya dirumah (sepasang LDR), biasanya ketika hari libur mereka habiskan untuk mendekatkan rindu yang sudah lama berjarak. Jadi masih wajar kalau si perempuan ngambek.
Hai Akhi, apa susah dan lamanya mengetik sms "aku sudah sampai" atau "bentar lagi pulang ya".

Nah dari sini menurut kalian siapa yang salah?
Salahnya lelaki :tanpa ada kabar seharian, berbohong
Salahnya perempuan :mau banget nunggu, egois (maybe)

Namun diluar dugaan, masalah lebih besar terjadi ketika teman si laki-laki memasang status di BBM “jadi perempuan kok karepe dewe (semaunya sendiri), cowok itu perlu main sama teman-temannya, emang kamu pikir siapa” kurang lebih dalam ingatan saya seperti itu. 

Lucukan?

Sekalipun teman, dia tak seharusnya bersikap seperti itu. Karena saya (Rizka) merasa status yang dia sampaikan adalah sebuah salah paham maka saya putuskan untuk menjelaskan, dan seingat saya pula ada balasan “jangan kayak anak kecil”. Ah rasanya ingin tertawa kala mengingat pesan itu, bagaimana mungkin pria dewasa seperti dia nyindir seorang perempuan lewat BBM? Dan bagaimana bisa mencampuri urusan orang lain? Sedangkan seababil-ababilnya saya, saat itu saya belum memposting status apapun.

Lucu sekali..

Entah sejak kapan lelaki sekarang menjadi lebih mengerikan daripada cabe-cabean. Ini baru cerita saya, diluar sana ada lebih banyak perempuan yang tersakiti karena perbuatan lelakinya. Masih tanya kenapa mereka bertahan? Karena CINTA ukhti, C.I.N.T.A.


Ah ukhti, lepaskan sajalah apa yang membuatmu terluka, lalu bahagialah. Karena jatuh cinta berkali-kali, namun hidup hanya sekali. Jadi hiduplah dengan sebahagia-bahagianya. Karena lelaki didunia ini gak cuma hanya dia, melangkahlah, sebab langit akan tetap biru meski tanpa dia. Lepaskan apa yang tak seharusnya kau genggam. 

lanjut minggu depan ya
Share:

Sabtu, 14 November 2015

Segini aja bertahannya?

  1. Kalau niatnya berjuang, ya kamu harus mampu bertahan.
  2. Berjuang itu bersama-sama, bukan hanya satu yang berjuang, yang lainnya menunggu hasil.
  3. Adakah kemenangan tanpa strategi yang bagus? Maka kamu harus bersabar.
  4. Inginnya menyenangkan, usahanya tidak, kenyataannya pun tidak sesuai.
  5. Seharusnya tak usah menyakinkan untuk memperjuangkan kalau pada akhirnya ingin pergi diam-diam.
  6. Kangennya banget, nurunin ngeluhnya yang gak banget.
  7. Kalau masih membenci atau sakit hati, berarti masih memikirkan. Kalau masih memikirkan, berarti belum bisa melepaskan (Namara).
  8. Pada akhirnya, semua usaha yang udah dilakukan dan hanya tersisa sia-sia, aku hanya bisa bertanya “Segini aja bertahannya?”

Share:

Sampai aku bisa benar-benar melepasmu (part 1)


Aku tidak akan membahas lagi tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau segala macam usahaku yang tersia-siakan, toh seberapa keraspun aku menjelaskan kamu tidak mengalami dan merasakan sendiri.

Sekarang, aku beranikan diri untuk menemuimu. Hal yang dulu tidak pernah aku lakukan karena takut mungkin aku akan berderai air mata atau mulutku tidak hentinya memakimu ataupula takut hatiku luluh kembali karenamu. Mungkin dulu kamu terlalu sering mengajakku bertemu, namun jarang aku hiraukan. Karena mengobati luka tak semudah dan secepat kamu mengirim sms. Tetapi, kali ini aku sudah sangat siap. Karena hatiku sudah tak sesakit dulu dan pikiranku sudah tak meronta mengenang kita dulu. So, here I’m. Menguji hati dan pikiranku untuk menemui lagi.

Semua temanku pasti tau, bukan aku yang memintanya, karena sifat egoku yang memaksa, “untuk apa mengajaknya bertemu? Kalau dia yang melepasmu”. Untungnya kamu kembali meminta bertemu, sebab mungkin aku tak pernah berniat menemui kembali. Dulu betapa seringnya aku mengemis untuk bertahan, hal yang aku sayangkan sekarang. Bayangkan kalau kita memutuskan untuk kembali? Dan setelah itu kamu lepaskan aku lagi? Bukannya aku akan merasakan sakit berkali-kali?. Jadi, mari kita bertemu, dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi, karena aku sudah benar-benar melepasmu
Share: