A hush is over everything,
Silent as women wait for love;
The world is waiting for the spring
Silent as women wait for love;
The world is waiting for the spring
Diam memang lebih baik.
Diam itu lebih memperhatikan, lebih mau mendengarkan, juga
tak ingin mengusik urusan orang lain.
Namun ada saatnya diam itu tak mengenakkan.
Tak dapat menyelesaikan masalah, tak dapat mengubah keadaan,
apalagi diam-diam menyukaimu.
Pernahkah kamu menyukai seseorang tanpa pernah mencoba untuk
mengungkapkannnya? Ah ketahuilah cinta itu bisa tumbuh dari mana saja, dari
sepasang manusia tanpa ada komunikasi juga bisa tumbuh benih cinta. Mungkin
tidak keduanya, mungkin salah satunya. Tak apa, namanya tetap cinta.
Tentunya tidak akan pernah mudah untuk menjalani hari dengan menahan perasaan.
Tahukah kamu (yang mungkin gak pernah baca blog aku) kadang
terbesit banyak tanya;
“kamu sadar tidak aku
suka kamu? Apa kamu merasakannya? Yakin gak sadar?
Atau sudah sadar tapi
sengaja berpura-pura? Apa aku terlalu menggangumu? Apa kamu
takut dijadikan
lelucon karena ada yang menyukaimu? Apa aku bukan tipemu? Atau ada
alasan lain? Aku kamu
sudah punya wanita disisimu?
Apakah ada aku dihatimu?”
Aku mulai sering mengumpat ke kamu, karena perasaan dan
moodku yang sering berubah tiap harinya. Tiba-tiba bahagia, semenit selanjutnya
lalu merasa terluka dan menyakitkan, kadang merasa marah. Aku bahkan tak bisa
mengontrol pikiranku sendiri, ada yang bisa menjelaskannya? Atau apa kamu tau
alasan mengapa aku sangat menyukaimu?
“betapa banyak waktu
kita sering bertemu, tak pernah saling terucap kata, betapa seringnya
tatapan matamu yang meleset dari pandanganku, berapa banyak waktu kita sering jalan
berdua tapi saling bersebrang jalan”
tatapan matamu yang meleset dari pandanganku, berapa banyak waktu kita sering jalan
berdua tapi saling bersebrang jalan”
dan, Kamu terlalu beku.
Ribuan lantunan doa yang terucap untukmu belum bisa
meluluhkannya. Aku hanya ingin egois sekali saja, aku hanya ingin dirimu. Tapi
terlepas dari egoisku, selalu ada tanya “apa kamu juga menginginkanku?” namun
aku wanita, kamupun tahu, tak mungkin aku bisa mengatakannya. Oh mungkin bukan tak bisa, aku hanya tak tau mulai
dari mana. Mendekatimu saja begitu susah.
“Jika kamu merasakannya yang sama, kenapa kamu tak bicara?”
“Kalaupun tidak, kenapa tak berusaha menghindar?”
“tak pantaskah aku memilikimu?”
“Apalah arti dari bisumu?”
Kadang aku sampai dipuncak kekesalan dari diamku, “haruskah
aku ungkapkan?”, “apa tak apa membuat diriku sendiri malu?”
“apa kamu justru tambah menghindariku saat tau perasaanku?”
Habislah aku, jika itu terjadi.
Jika kamu sempat membaca tulisan ini, dan seandainya kamu
merasakan yang sama, kemarilah, genggam tanganku, aku takut suatu saat aku
mulai lelah dengan menunggu. Aku hanya butuh kamu.
Namun jika sebaliknya, aku akan berusaha lebih kuat lagi.
Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku ke kamu lewat tulisan ini. Simak
dengan baik ceritaku ini, “aku pernah disukai seseorang, tanpa pertimbangan dia
mengungkapkannya. Sungguh aku kaget, bukan karena tak suka aku menolaknya, tapi
karena aku tak punya perasaan apapun padanya. Dan penyesalan terbesarku adalah
membuatnya sakit hati.”
“aku tak ingin mengalami hal serupa”
Dan pada akhirnya aku hanya akan terus berdiam diri, setidaknya
aku sudah menuliskan perasaanku disini, dan aku berharap kamu membacanya.
Dari aku yang menyukaimu sediam mungkin
