Senin, 14 Maret 2016

Tak serumit ini

Selamat malam manis, Aku sedang ingin mengajakmu berbasa-basi tentang perasaan

Pertemuan kita, kedekatan hingga hubungan rumit kita ini juga karna perasaan bukan? Aku tak pandai mngertikan perasaan, mungkin tak sepandai kamu. Apa kamu pernah bertanya tentang perasaanmu padaku? Ketika kamu mengaku sadar tentang perasaanmu, langkah selanjutnya yang kamu lakukan adalah “mengungkapkannya”, itupun jika kamu sudah siap menanggung segala resikonya. Seperti aku sekarang menulis ini, aku siap menanggung resiko dari tulisanku, toh aku juga sudah sering kamu acuhkan

Entah ini semua dimulai darimana, bukankah kamu sudah tau kalau aku suka menulis? Entah karena efek jatuh cinta atau apalah, aku rasa setiap yang aku tulis selalu membuatmu merasa “itu kamu” termasuk tulisan ini mungkin. Tapi ketahuilah, aku mungkin saja seorang pujangga, yang mengumbar banyak cinta tapi juga entah untuk siapa, atau juga bahkan bukan untuk siapa-siapa. Dari itulah, semenjak itu aku jarang mengunggah apapun yang berasa cinta, aku takut dikira “pemberi harapan”. Ah ejekan itu pernah dilontarkan kepadaku. Entahlah aku baru pindah ketempat ini, dan suasana disini sangatlah berbeda. Semua yang aku tulis seolah menyindir semua orang. You never know, ini gak nyaman. Mungkin ini berawal dari kamu membalas setiap tulisanku.

Perasaan itu bukan sesuatu yang mudah dimengerti, sayang

Bahkan, kamu mungkin salah mengartikan perasaanmu sebagai “cinta atau sayang”

Kita mungkin sama-sama pernah mendengar, “kejarlah cintamu” yang selalu menayangkan sosok seseorang yang bersusah payah meraih cintanya, disitulah sosok gagah berani sangat menjadi idola kaula muda. Namun pernahkah ditayangkan sosok yang dikejar cintanya? Apakah mereka tau bagaimana perasaan orang itu? Mau membuka hati, tapi sedang tak ingin bercinta. Mau nolak dan menjauh, tapi takut gak punya teman. Ah repotnya. Cinta itupun bukan belas kasihan sayang, kalau tak suka ya sudah.

Artikan tolakannya dengan pemikiran dewasa. Anggaplah begini, aku tak suka kacang, bukan berarti karena bentuk kacang yang jelek tapi karena allergen.  allergen bisa menyebabkan kematian loh. Sama halnya dengan cinta, mungkin dia baru patah hati. Hati mana yang patah bisa segera sembuh? Nah kalau dipaksa, bagaimana kalau dia tak nyaman kemudian gagal hati, nah kan.

Ingatlah, jangan memprioritaskan berdasar apa yang kamu rasakan.

Kamu tak tahu bagaimana sulitnya bilang “hehe, bukan mbak. Saya bukan pacarnya” atau “loh itu bukan untuk dia” atau juga “pulang sendiri pak”. Sedangkan setelah itu dengan mudahnya kamu memberi kode-kode untuk orang dengan setiap tingkah konyolmu. Misalnya meletakkan sesuatu over sweet di sepatuku, maybe.

Tak baik sayang membiarkan cinta berkembang begitu liar. Lama-lama akarnya akan menghabiskan pikiranmu. Kamu mungkin dengan tak sengaja bersikap diluar kemampuanmu. Merasa memiliki, merasa serba harus tahu pada apapun yang dia lakukan.

Dear, dikepoin itu tak seenak yang kamu tau. Risih mungkin begitu. Setiap dia jalan dengan cowok lain yang juga hanya teman, lalu kamu cemburu,. Dia berhubungan dengan cowok yang juga hanya teman, kamu terbakar. Lalu akhirnya kamu mulai menggila dengan ingin selalu tau apapun yang dia kerjakan. Ah, cinta janganlah seperti itu di usia yang tak lagi belia seperti kita. Pembawaanmu yang terlampau melebihkan perasaan itu sering mebuatmu tergelincir. Misal, si dia gak suka dengan caramu memperlakukannya, dan timbul masalah, karna kamu sudah terbawa perasaan yang kamu ada-adakan justru mebuat masalah kecil ini menjadi masalah besar.  Bukankah kalau hanya berteman, ngambek dan marah masalah biasa? Kenapa kamu terlalu emosional?

Percayalah, kamu sekarang dalam kondisi tidak stabil. Kamu jadi brutal dan tak terkendali sayang. Bangunlah, kembalilah seperti dulu. Teman yang selalu menyenangkan.

Ayolah, berhenti merengek. Tuhan memilihmu merasakan ini semua, agar kamu belajar ikhlas dan tau bagaimana bersikap lebih dewasa lagi.

Sayang, aku hanya ingin menyampaikan, hargai perasaan orang yang kamu sukai. Tanyai dia dengan baik, “apa caraku salah?” “Apa caraku terlalu berlebihan?” “apa kamu tidak nyaman dengan semua ini?” “bagaimana agar kita nyaman kembali?”. Bukankah cinta selalu membuat satu sama lain nyaman?

Aku tahu, tulisanku pasti membuatmu sedikit terluka. Tapi ketahuilah, aku juga terluka karna kehilangan teman baikku. Tak apa kamu marah, karna ini cara terbaikku memberitahumu. Aku tak pandai berkata, aku hanya ingin bisa lebih leluasa berteman dengan siapapun lagi, tanpa dengar ucapan mereka “dia gebetannya si …” “dia udah ada yang punya”. Apalah itu, mencintai bukan harus membuat semua hubungan jadi serumit ini sayang.

Mulai besok pagi ketika kamu terbangun. Berbahagialah kembali, akan ada lebih banyak kasih sayang diluar sana yang menantimu. Daripada merenungi gadis nyinyir ini. Tak perlu sampaikan maaf. Karena kita berdua tak ada yang salah. Sempat ucapkan “Hai manis”, kalau kita bertemu, atau kembali lagi diamkan saja.

Penutupnya adalah ayolah kita berteman kembali, perasaan jangan mempengaruhi hubungan kita ini. aku tak berniat menyakiti siapapun, begitu pula kamu kan? jadi jangan libatkan perasaanmu yang justru membuatmu terluka sendiri. kalau ada orang bilang "apakah wanita dan pria bisa menjadi teman dekat tanpa ada perasaan diantara mereka?" jawab dengan lantang, TIDAK. tapi bagaimana cara kita memilah perasaan itu, dan mengendalikannya tentunya.

Salam sayang
Share: